Berkah Badai di Maldives

Hi_PNIY_67774475_PNIY_Sandbank_Setting_01_G_A_HKita semua tahu bahwa Maldives (atau Maladewa) merupakan salah satu destinasi liburan terbaik sedunia, dan masuk dalam ‘bucket-list’ perjalanan banyak orang. Tak heran, karena negara tropis di Samudra Hindia (dibawah Sri Lanka) ini, menawarkan pulau-pulau tropis dengan air biru berkilau, laguna membentang luas, pantai pasir putih dan terumbu karangnya yang hidup.

Negara berslogan ‘Always Natural, Maldives’ in terdiri dari 1.190 pulau karang, 26 atol berbentuk cincin, 200 pulau berpenghuni dengan ratusan hotel dan resor mengagumkan didalamnya. 

Naladhu Private Island Maldives2Ini kali kedua saya mengunjungi Maldives (atau Maladewa) setelah 13 tahun lalu sebelum sebelum badai Tsunami 2004 saya dan sahabat saya, Venda disana. (baca: Lovers Paradise). Penasaran seperti apa Maldives sekarang, saya memutuskan untuk kembali diakhir bulan November yang lalu. 

Menurut informasi www.cntraveller.com waktu terbaik mengunjungi Maldives adalah antara bulan November dan April. Bulan Desember dan Maret adalah high-season dan musim hujan berlangsung dari bulan Mei sampai Oktober. Pas dong.  

Male dari atas pesawat2Kali ini, saya bersama Welah mengatur rencana liburan ke Maldives selama 5 hari 4 malam. Dua malam pertama, kami akan menginap di penginapan yang dekat dengan bandara. Kemudian, dua malam berikutnya kami ingin menginap di pulau pribadi yaitu Niyama Private Islands, yang berjarak waktu 45 menit terbang dengan seaplane (pesawat amfibi) dari pulau bandara.

Kami tiba di Velana International airport di pulau Hulhule disiang hari. Walaupun penerbangan langsung pesawat kami dari Bangkok ke Maldives hanya selama 3.5jam (dari Jakarta memakan waktu sekitar 8 jam), kami cukup merasa capek. Mungkin disebabkan cuaca Maldives yang menyambut kami siang itu sedikit mendung. 

Resor Bandara Terbaik Sedunia

Screen Shot 2017-12-09 at 12.15.37 PMSesuai rencana, kami memutuskan menginap di Hulhule Island Hotel, yang sering menjadi hotel transit, sebelum meneruskan perjalanan dengan pesawat domestik ataupun kapal ke tujuan pulau berikutnya. Dengan free-shuttle yang disediakan hotel kami tiba dalam waktu singkat yaitu kurang dari 3 menit dari bandara. 

Setiba di hotel, kami cukup terkesan dengan hotel ini. Menurut saya, hotel ini lebih tepat disebut sebagai ‘resor’ ketimbang hotel. Tidak seperti hotel transit biasanya berkonsep bed&breakfast, fasilitas disini sangat lengkap. Ada pantai pribadi, lapangan voli dan basket, mini golf, tenis, fitness-center dan spa, juga sebuah kolam renang yang besar. Ternyata, hotel ini adalah pemenang untuk predikat resor bandara terbaik sedunia di tahun 2014. 

Setelah check-in di hotel, kami langsung sarapan siang di restoran yang berada di lantai dua, dengan suguhan pemandangan kota Male. Setelah makan siang, kami ditawarkan beragam opsi aktifitas dari hotel. Pilihan untuk melihat ikan lumba-lumba di sore hari, sunset di sandbank (atol berpasir putih), snorkelling dan diving, submarine tour, city tour dan lain sebagainya. Memulai hari liburan kami di Maldives, kami memilih bersantai di pantai sambil menunggu matahari terbenam. Sayangnya, langit ditutupi awan hingga matahari tak nampak batang hidungnya. 😦

Snorkeling bersama ikan Pari

Keesokan harinya, kami bangun jam 8 pagi untuk bersiap naik kapal menuju fish-tank, nama titik snorkeling. Kami membayar US$32 per orang, sudah termasuk transportasi pulang-pergi, dua kali snorkeling beserta alat-alatnya. Fish-tank benar-benar seperti di dalam akuarium. Kami puas melihat ratusan ikan seperti ikan morey eel, parrot fish, schooling banner, hog fish, long nose dan sekelompok sting rays atau ikan pari!

Diving bersama ikan Hiu 

Usai snorkeling pertama, saya ditantangi pemandu kami yang mengajak saya scuba diving. Diimingi bisa melihat ikan hiu, saya setuju menambah US$50an untuk menyelam. Dan, saya tak menyesal! Hanya di kedalaman 15 meter saya melihat lima reef sharks mondar-mandir dari arah depan, samping kiri dan diatas kepala saya! Woohoo! 

24129692_10214270818514858_668233149392258838_nSaking serunya, saya sampai tak berasa hujan deras diatas permukaan air, saya sampai menggigil kedinginan karena tidak memakai wet-suit khusus untuk menyelam. Ketika naik ke kapal, saya dipelototin orang sekapal karena kelamaan menunggu saya, diatas kapal yang terombang-ambing ombak besar dan hujan. Duh, maaf.

‘Mahal’ nya Male

Male adalah ibukota Maldives yang dijaman kuno disebut “Mahal”, karena dianggap sebagai asal mula “Mahal Dvipa” atau “Maléldvip” atau ‘kepala pulau’. Bagi wisatawan Asia (khususnya Indonesia), kata ‘Mahal’ bisa diartikan secara harafiah. Harga di negara ini memang tidak murah. Kebanyakan barang diimpor dari Thailand Srilanka, membuat biaya hidup di Maldives secara keseluruhan semakin mahal. 

monumen-tsunami.jpgDibandingkan 13 tahun yang lalu, Male sekarang tak imut lagi. Banyak pembangunan dimana-mana. Walaupun banyak bagian kota yang ditambah dan diperluas, Male tetaplah sebuah pulau. Banyak pendatang dari pulau-pulau sekitar yang bekerja dan menetap di Male, membuat pulau ini semakin sesak dan tak lagi bisa menampung penduduknya. 

Namun, Male di malam hari terlihat cantik, penuh dengan lampu yang bersinar dari setiap gedung perkantoran dan apartemen. Salah satu situs yang kami kunjungi adalah monumen Tsunami yang berada disebuah taman, sebagai pengingat akan kekuatan alam yang lebih dari manusia.

IMG_6349

Seaplane

Saatnya kami pindah ke resort island! Tujuan kami berikutnya adalah sebuah pulau pribadi yang berlokasi di bagian selatan Maldives. Untuk mencapai pulau ini, kami terbang dengan pesawat amfibi atau seaplane. Ini adalah impian saya, karena terbang dengan seaplane masuk dalam daftar ‘wish-list’ saya. Biaya transportasi pesawat ini adalah sekitar US$600 per orang dari bandara Male pulang-pergi. 

Pesawat baling-baling milik Maldivian Airline yang kami naiki ini berkapasitas 18 tempat duduk. Kami mendapat kursi paling depan, dibelakang kokpit. Terus-terang, saya sedikit takut karena ukuran pesawatnya yang kecil. Saya gugup melihat kedua pilot yang masih muda, kurus dengan kaki telanjang dibelakang kemudi. Kami kemudian diberikan earplug untuk menutupi suara bising saat pesawat terbang.

Dalam pesawat amfibiNamun, ternyata ketakutan saya tidak beralasan. Selain pesawat twin-outer ini sangat aman, karena dalam keadaan darurat bisa kapan saja mendarat di air. Saat lepas landas pun sangat halus, wush… kami menanjak naik bagaikan burung di atas laguna pirus yang berkilau di bawah sinar matahari. Ini mungkin adalah pemandangan terindah dalam hidup saya. Bak seekor burung dari atas, kami melihat birunya air laut, hijaunya terumbu karang dan betapa putihnya pasir yang mengelilingi laguna. 

Niyama Private Islands

Hi_PNIY_61508874_Aerial_shot_-_The_Crescent40 menit kemudian, pesawat kami mulai menurun. Dari jendela kokpit, saya melihat hamparan pulau Huluwale dan vila atas air milik Per Aquum (atau desain resor dengan konsep bawah laut) Niyama Private Islands. Kabarnya, resor satu payung dengan Anantara ini adalah resor terbaik nomor empat di dunia tahun ini versi Conde Nest Traveller

Mendarat di perairan sama mulusnya dengan lepas landas. Air laut terihat sangat jernih seperti di kolam renang. Kami disambut oleh perwakilan Niyama di dek pendaratan yang membuat kami merasa istimewa. Kemudian kami diperkenalkan kepada Thakuru (butler pribadi kami bernama Vlad, yang mengantar ke kamar paviliun tepi pantai kami.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASayangnya, cuaca selama dua hari kami disini tidak seperti yang diharapkan. Hujan dan berangin, membuat kami melewatkan beberapa aktivitas pantai. Kami hanya beristirahat di kamar, kolam renang dan bersepeda mengelilingi pulau. Kami berandai-andai kalau saja kami bisa menambah hari liburan sehari saja disini, dengan cuaca Maldives yang bagus dan bersahabat. 

Niyama

Badai

Cuaca semakin memburuk pada hari terakhir kami di pulau ini. Jadwal keberangkatan pesawat ke bandara pun tertunda. Seharusnya kami berangkat jam 9 pagi untuk mengejar pesawat pulang ke Bangkok jam 12:35. Namun, seaplane yang membawa kami ke bandara baru bisa berangkat saat cuaca membaik sekitar pukur 11 siang.

naladhu-private-island-maldives3.jpgSetiba di bandara, kami pasrah mendengar informasi bahwa pesawat kami telah berangkat 30 menit yang lalu. Perwakilan dari Niyama banyak membantu kami, mengurus bagasi dan mencari penerbangan esok hari.

Baiknya lagi, kami diinapi disalah satu resor milik grup mereka, yaitu Naladhu Private Island, yang berlokasi sekitar 45 menit dengan kapal cepat dari bandara. Sebuah pulau dan resor yang tak kalah indahnya.

Naladhu3Cuaca saat kami tiba di Naladhu berganti cerah, secerah senyuman kami. Berkat badai, doa untuk memperpanjang liburan kami di Maldives, terkabul. 

Tips:

  • Sebaiknya menginap sehari di hotel dekat bandara sehari sebelum ke pulau, dan sehari sebelum keberangkatan pulang untuk menghindari kejadian serupa yang kami alami.
  • Untungnya, kami membeli tiket pesawat termasuk asuransi, sehingga kami tak repot urusan klaim kerugian ketinggalan pesawat. 
  • Jika menginap di pulau pribadi, ambil paket full-board yang sudah termasuk sarapan, makan siang dan malam.
  • Transportasi antar pulau di Maldives, selain Dhoni (perahu), tersedia juga speed-boat untuk jarak dekat, dan seaplane atau pesawat domestik untuk jarak jauh.

***

Published on Kompas Travel, 18-January, 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s