Bong Cheni and His Rats Story – Siem Reap, Cambodia

20476119_10213325906572650_464062822056305112_nSiem Reap merupakan kota populer, sebagai pintu gerbang ke kawasan Angkor, yang menjadi tujuan utama wisatawan dunia. Sama halnya dengan saya dan kedua teman saya, Welah dan Julia. Kami mengunjungi ‘The city of Temples’ yang mempunyai lebih dari 1000 kuil ini, diawal bulan Agustus yang lalu. 

Kami datang melalui Poipet, kota perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Setiba di pusat transportasi utama antara kota Siem Reap – Bangkok ini, kami melihat cukup banyak pengemis jalanan. Beberapa diantaranya tanpa kaki. Menurut Bong Cheni, supir sekaligus guide yang menjemput kami, para pengemis tersebut adalah korban ‘landmine’ atau ranjau darat yang masih banyak berserakan di tanah Kamboja. Katanya, untuk mengidentifikasi area ranjau, mereka menggunakan jasa tikus. Hah!?

20479913_10213325902612551_4916474093926577175_nBong Cheni pun bercerita panjang. Setelah perang konflik rezim Khmer Roughe (Khmer Merah) di tahun 1970, masih banyak ditemukan ranjau yang tersisa hingga sekarang. Ribuan orang yang kebanyakan adalah penduduk, terluka dan terbunuh setiap tahun karenanya. Tiap bulan terdapat sekitar 300 sampai 700 orang diamputasi karena terinjak ranjau. Pada tahun 2012 terdapat lebih dari 4000 korban ranjau. Film garapan Angelina Jolie berjudul ‘First They Killed My Father’ bermain di ingatan saya. Saat Loung, seorang anak perempuan berusia 5 tahun dilatih paksa untuk memasang ranjau saat perang sipil di Kamboja.

Lanjut Bong Cheni, di beberapa tempat dekat Seam Reap, terdapat pusat pelatihan tikus-tikus pemburu lokasi ranjau. Tikus-tikus ini dilatih untuk mencium TNT, serbuk bahan peledak dinamit. Kenapa tikus, bukan orang atau anjing? Orang dengan detektor logam tidak hanya mempertaruhkan nyawa mereka, namun membutuhkan waktu lebih lama yaitu sampai 5 hari untuk menemukan ranjau. Anjing yang juga bisa dilatih, namun lebih mahal dan sulit kondisikan, karena berat tubuh yang bisa mengancam nyawa mereka. Karenanya, mereka menggantikannya dengan tikus. Tubuh tikus lebih ringan dan kecil dengan penciuman tajam, akan lebih ‘aman’ untuk mengidentifikasikan lokasi ranjau yang terkubur di bawah tanah. 

20621015_10213348644221077_4821163245492390689_nCambodian Mine Action Center bekerjasama dengan organisasi non-profit asal Belgia bernama APOPO mengimpor tikus raksasa Gambia dari Tanzania, Afrika Timur. Tikus-tikus ini memiliki penglihatan buruk namun indra penciuman yang luar biasa tajam, karenanya dapat menemukan bahan peledak dengan cepat.

Bong Cheni menunjuk kearah sebuah bangunan yang kami lewati, “Itu adalah gedung Mine Detection Rats Museum”. Disana, tercatat hampir 20.000 orang terbunuh sejak tahun 1979.

20604390_10213325905452622_4424231272562563203_nSetelah dua jam perjalanan darat dari Poipet, kami tiba di Siem Reap. Kota pusat turis di Kamboja ini sangat sederhana dibanding dengan Phnom Phen, ibukota negara bekas jajahan Perancis (1863 sampai 1953). Bong Cheni menurunkan kami di lobi penginapan kami dengan kisah tikus-nya yang belum selesai. “Saya lanjutkan ceritanya besok!” 

Angkor Wat

20476281_10213325900012486_357512417557809857_nTepat jam empat subuh, kami dijemput Bong Cheni. Agenda hari ini adalah untuk mengunjungi kawasan kuil Angkor. Dengan membayar sewa transportasi seharga total Rp.600.000, Bong Cheni berjanji akan mengantar kami keliling kuil sejak matahari terbit hingga terbenam. Luas kawasan Angkor adalah 400 kilometer persegi atau setara dengan kota Palembang. Pasti puas!

Tiket masuk ke kawasan Angkor cukup mahal, yaitu US$ 37 untuk sehari, US$ 62 untuk tiga hari dan US$ 72 untuk tiket seminggu, per orang. Kami hanya membeli tiket harian. Uniknya, tiket berlatar belakang kuil Angkor ini tercetak foto kami masing-masing, yang bisa kami bawa pulang sebagai ‘tanda mata’. 

20476122_10213325914452847_2480278726878392436_nBeberapa kuil terkenal yang sempat kami datangi adalah Angkor Wat, Phnom Bakheng, Angkor Thom, Bayon, Ta Prohm dan Ta Keo.

Angkor Wat adalah kuil keagamaan terbesar di dunia, dengan volume batu yang setara dengan piramid Cheops di Mesir. Situs Warisan Dunia UNESCO yang berisi sisa-sisa peradaban Khmer Merah yang megah ini, diilhami oleh agama Hindu pada abad ke-12. Menara simetris kuil Angkor tercetak pada bendera Kekaisaran Kamboja modern, yang merupakan satu-satunya bendera bergambar gedung di dunia (kemudian diikuti oleh bendera Afganistan).

20525204_10213325904892608_1457994010976325444_nDiciptakan oleh Raja Suryavarman II, Angkor Wat dibangun selama 30 tahun dan masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Selama lebih dari 500 tahun kuil ini merupakan pusat kerajaan Khmer Merah, dan sekarang adalah jantung spiritual negara Kamboja. Ada lebih dari dua juta pengunjung ke situs Angkor setiap tahunnya.

Ini adalah kuil paling keren yang pernah saya liat. Walaupun, saya lebih menyukai kemegahan Candi Borobudur dan Prambanan, namun Angkor Wat lebih terasa magis. Selain berfoto, kami menyempatkan diri untuk mendapatkan blessing dari seorang biksu disini. 

20476374_10213325914532849_2365165524733962034_n

Phnom Bakheng

Kuil abad ke-10 ini merupakan tempat paling populer untuk menyaksikan sunset sehingga sangat ramai pada sore hari. Kami lebih memilih untuk menjelajah disini saat matahari terbit karena masih sepi.

20597502_10213325914812856_7818092690049790894_n

Angkor Thom dan Bayon

Angkor Thom dulunya adalah ibu kota Khmer yang terakhir dan paling abadi. Kompleks berdinding besar ini merupakan pusat kota terbesar di dunia pada tahun 1200.

20525893_10213325901252517_1195337628445882199_nDikelilingi oleh wajah-wajah misterius di semua sisi, pengunjung tidak akan pernah melupakan kuil Bayon yang mempesona. Tepat di pusat Angkor Thom, terdapat lebih dari 50 menara dengan masing-masing dihias oleh empat kepala dan wajah raksasa Budha Avalokiteshvara yang mirip dengan sang raja.

20526057_10213325901532524_6480304134766619360_n

Ta Prohm

Kuil ini mungkin merupakan tempat yang paling terasa atmosfirnya dari semua kuil Angkor. Kuil yang dibangun sebagai oleh Raja Jayavarman VII diperuntukan sebagai tempat tinggal ibunya. Konon, di kuil ini menjadi bukti terjadinya kekuatan alam yang mengamuk sekaligus mengagumkan. Disini, terdapat akar pohon besar yang menembus bangunan kuil. Saat melewati bangunan batu kami melihat banyak pohon raksasa tumbuh dari puncak kuil. 

20622140_10213325900412496_732108732076725780_nKuil ini adalah salah satu kuil yang paling sering dikunjungi dan sangat terkenal karena menjadi lokasi film Indiana Jones atau Lara Croft, yang dibintangi Angelina Jolie.

Ta Keo

20596992_10213325899412471_5273619992566108667_nHari sudah siang dan udara semakin gerah, saat kami mengunjungi kuil Ta Keo. Raja Suryavarman mendirikan kuil ini pada abad ke-10, namun tidak pernah selesai. Disini, kami sempat tersesat mencari arah pintu keluar. Akibatnya, kami harus menyewa tuk-tuk untuk kembali ke parkiran depan atau berjalan kaki sejauh dua kilometer. Kelelahan berdiri, berjalan keluar masuk kuil, akhirnya kami putuskan Ta Keo adalah kuil terakhir kami yang kami kunjungi.

20479702_10213325904412596_2486738672829358205_nBong Cheni memaklumi melihat kami tak kuat untuk melanjutkan perjalanan. Katanya, memang butuh waktu sedikitnya 3 hari untuk mengunjungi sebagian besar kuil, atau seminggu agar lebih mendalami semua area Angkor seluas 1.150 mil persegi ini. Proyek Angkor yang dibangun oleh raja-raja Khmer, diperkirakan ditinggali oleh 1.000.000 orang selama abad ke-12 dan 13.

Kami mampir disebuah restoran lokal untuk makan siang. Restoran ini hanya khusus menjual makanan berbahan beras atau nasi. Mulai dari nasi putih, nasi goreng, nasi bakar dan mi nasi, sampai hidangan nasi manis sebagai penutup. Untungnya, kami sudah selesai makan saat Julia berteriak kaget, karena melihat seekor tikus lewat. Masih terbawa cerita tikus, Julia bertanya apakah di area ini ada ranjau?

20604623_10213348648421182_3697642223582818526_nSembari meneguk bir Angkor, Bong Cheni melanjutkan kisah tikus dan ranjau. Katanya, lokasi rawan ranjau kebanyakan adalah di daerah perbatasan konflik, dimana biasanya berada di luar kota atau pedesaan. Biasanya sudah dilengkapi dengan tanda peringatan berupa papan berwarna merah bertuliskan ‘Danger Mines’ atau ‘Bahaya Ranjau’.

Seekor tikus bisa mencari lebih dari 200 meter persegi dalam waktu 20 menit. Sedangkan, proses melatih tikus untuk mengendus ranjau bukan hal yang mudah. Tikus-tikus ini perlu belajar bagaimana berada di sekitar manusia. Mereka dilatih dari usia mingguan. Pelatih harus mengajari mereka mulai dari cara berjalan dengan tali diatas badan mereka, mencium bau bahan peledak, sampai mendengar bunyi ‘klik’ yang berarti makanan sebagai hadiah atas temuannya. 

cambodia-rats-01_custom-fd06205bed96a81a7e8138fb0bf2a95e75568f76-s800-c85
Photo by: Michael Sullivan for NPR

Ketika tikus yang sudah terlatih menemukan ranjau, mereka akan berhenti dan menggaruk. Kemudian ahli peledak akan mulai menggali dan meledakkannya di lokasi. Keseluruhan proses pelatihan ini memakan waktu sekitar sembilan bulan untuk setiap tikus.

Berkat tikus-tikus ini, korban jiwa akibat ranjau menurun drastis setiap tahun. Kini, 50 persen penduduk Kamboja dapat meneruskan mata pencaharian mereka, yaitu bertani dan membangun rumah diatas lahan yang telah bebas ranjau.

Hiburan Malam  

20597053_10213348648941195_1498473864080047137_nTina, seorang teman asal Indonesia yang menetap di Siem Reap selama 2 tahun, mengajak kami untuk merasakan kehidupan malam ala-Kamboja. Ia mengantar kami ke Pub Street, pusat hiburan malam di Siem Reap. Disini, terdapat pasar seni yang menjual jajanan, makanan dan pusat perbelanjaan pakaian lokal. Kami sempat dibelikan Tina beragam atasan, bawahan dan syal bergaris merah tua-putih. Menurutnya, corak tersebut adalah gaya Khmer yang menjadi pakaian khas di Kamboja.

Selain Angkor Wat, kota dengan arsitektur bergaya kolonial Perancis ini juga menawarkan situs destinasi lainnya, seperti pasar seni, museum, pertunjukan tari dan budaya tradisional Apsara dan French Old Quarter, yaitu daerah yang kental dengan bangunan bergaya Perancis. Tak heran, banyak restoran Perancis disini, lengkap dengan pelayan lokal yang fasih berbahasa Perancis. 

20476530_10213325899732479_5897972262689324618_nAda perasaan lega melihat penduduk yang seakan terbebas dari belenggu komunis Khmer Merah. Cerita Bong Cheni soal tikus yang berujung pada kisah panjang rezim Khmer Merah, terbayang dibenak saya. Kekuasaan Khmer Merah yang melarang warganya untuk menerima pengaruh negara asing, seperti menggunakan obat dari luar negri saat sakit, bekerja untuk pemerintah, menjadi biksu, sampai belajar menjadi pintar.

Pembunuhan masal sebanyak sepertiga atau dua juta penduduk Kamboja dibunuh oleh Khmer Merah, yang kebanyakan adalah para biksu, keluarga pekerja profesional, guru serta pelajar. Doktrin Khmer Rouge melarang adanya agama apa pun di Kamboja, sekaligus melarang penduduknya untuk berpendidikan tinggi, apalagi menerima kemajuan dari pengaruh negara asing kedalam kehidupan warganya. 

20621788_10213348646981146_2175134693934511190_nTak diragukan lagi, Kamboja memang adalah negara sarat sejarah, namun sangat indah dengan penduduknya yang baik dan ramah, seperti Bong Cheni. Meskipun trauma konflik masa lalu masih tersisa, namun pengalaman selama di Siem Reap, memberi kami pelajaran yang berharga; selain tentang kemanusiaan, sekaligus mengenai seekor tikus, sang penyelamat nyawa. 

Rekomendasi Penginapan

Kami memilih penginapan berdasarkan area dan keunikan hotel, termasuk layanan serta sentuhan lokal kota untuk dapat merasakan pengalaman yang berbeda. Ada dua pilihan area yang menjadi tempat terbaik untuk penginapan.

Yang pertama adalah daerah Central Park, yang merupakan jantung kota Siem Reap. Kami memilih Victoria Angkor Resort & Spa yaitu resor bintang lima yang berada tepat di depan Royal Park. Saya suka arsitektur kolonial Prancis resor ini dan berdekatan dengan lokasi kuil Angkor Wat. – www.victoriaangkorhotel.com

Area kedua adalah di Phum Wat Damnak yaitu lokasi Rambutan Resort. Area ini adalah daerah perumahan yang tenang, namun sangat dekat dengan pusat keramaian seperti Pasar Seni, Pub Street, restoran, bar dan, tentu saja, pusat perbelanjaan. – www.rambutanresortsr.com

The Rambutan #Hotel & #Resort in #SiemReap – #Cambodia is located in a quiet paved lane just five minutes walk from Phsar Cha (the old market), in the #historical centre of Siem Reap #town. Each property has its own #lush #tropical #garden, #swimming #pool and restaurant, which are available to guests of both properties. The #accommodation focuses on #comfort and #privacy, with all #Deluxe #Suites and Villas have their own #balcony or #terrace with #outdoor bathtub and splash shower. All Standard #Villas are on two levels giving plenty of #relaxation area. #Stylish #design coupled with a little local culture ranging from the #contemporary #artwork to the #palm-wood #furniture and local #silk #city textiles are in abundance, as you would expect from any hip and gay-friendly place. www.rambutanresortsr.com

A post shared by Liburing (@liburing) on

Tips

  • Karena udara yang cukup panas dan lembab, jangan lupa membawa sunscreen, topi dan tisu basah saat mengunjungi Kawasan Angkor.
  • Disarankan untuk menyewa mobil dibandingkan tuk-tuk untuk berkeliling Kawasan Angkor karena jarak antar kuil yang berjauhan.
  • Biasanya penginapan di Siem Reap akan menyediakan sarapan pagi untuk wisatawan yang berangkat subuh ke Kawasan Angkor. Namun, jangan membawa bekal kedalam kuil, karena disana banyak monyet agresif yang akan menarik langsung dari tangan Anda.
  • Jika berani, cobalah makanan populer Kamboja yaitu Kebab tarantula!
  • Kinjungi Kamboja pada bulan November, karena disana ada Bonn Om Teuk atau festival air dan balapan perahu.

***

Published in Kompas, Oct 6, 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s