Europhia-7: Cheers for Brussels!

Setelah perjalanan ‘IAmsterdam‘, Sarapan Bir ala Bavarian di Munich, Ikutan tur ‘The Sound of Music’ di Austria, membuktikan Venesia belum tenggelam dan menghabiskan dua hari bersama Mickey di Disneyland Paris, tibalah saatnya kami mengunjungi kota terakhir selama liburan musim panas di Eropa, yaitu Brussels. (Baca: Europhia-1).

Grand Place 

Brussels (bahasa Prancis: Bruxelles, Belanda: Brussel) adalah ibu kota Belgia. Sebagai markas banyak institusi Eropa, Brussels dianggap sebagai kota penting bagi Uni Eropa. Kota ‘peleburan’ budaya Eropa yang memang menjadi tempat budaya Eropa bertemu. Salah satu terapannya adalah penggunaan bahasa yang dipakai disini adalah bahasa Perancis dan bahasa Belanda.

BrusselsBrussels terkenal dengan situs warisan dunia Unesco yaitu Grand Place-Grote Markt. Grand Place atau Grote Markt adalah alun-alun pusat kota Brussel yang dikelilingi oleh berbagai bangunan berusia 300 tahun yang indah, Balai Kota, dan gedung Breadhouse yang berisi Museum Kota Brussel. Setiap bulan Agustus, alun-alun Grand Place ditutupi karpet raksasa warna-warni. Pendek kata, jika ingin mengenal Brussels, tak perlu jauh-jauh kepelosok kota, silakan kunjungi Grand Place. Disini juga terdapat tempat wisata terkenal seperti Les Galeries Royale Saint-Hubert, Atomium, Royal Greenhouses, pusatnya toko coklat, Belgium waffles dan tentunya Mannekin Pis.

Mannekin Pis, Jeaneeke Pis & Zinneke Pis

Ada banyak cerita tentang asal usul patung anak kecil yang sedang kencing di kolam ini. Legenda mengisahkan tentang anak muda yang terbangun oleh api dan bisa memadamkannya dengan air kencingnya. Pada akhirnya, ini membantu menghentikan istana raja agar tidak terbakar.

Cerita lain menyebutkan bahwa seorang ayah kehilangan anaknya dan membuat patung tersebut bagi yang menemukannya. Ada pula yang bercerita tentang penyihir yang mengubah anak kecil menjadi batu karena kencing di rumahnya. Entah mana yang benar. Yang pasti, selain patung Mannekin Pis berjenis laki-laki, ada juga patung perempuan bernama Jeanneke Pis dan patung seekor anjing bernama Zinneke Pis yang keduanya sedang buang air kecil. Ketiga patung ini berada di daerah sekitar Grand Place.

Grand Palace3Kami tiba di stasiun Brussels Central Station di sore hari, dengan perjalanan kereta 6 jam dari Paris. Untungnya, hanya butuh tujuh menit berjalan kaki ke lokasi penginapan kami. Anne Marie, host Airbnb kami yang ramah adalah seorang Belgia asli dan punya rumah di Bali. Kami disambut dengan bahasa Indonesia berlogat Bali, “Selamat Datang di Brussels, ayo masuk nae…” Kami membalasnya sopan, “Matur Suksma.” Anne-Marie bingung 🙂

Mussles in Brussels

Mussles ClassicAgenda utama kami sesampai di Brussels adalah makan malam. Untuk soal makanan klasik Belgia, moules-frites atau mussels yaitu kerang Belgia adalah makanan wajib di Brussels. Kami memilih restoran Chez Leon yang berada tepat di belakang bangunan Grand Place. Restoran milik keluarga Belgia yang didirikan sejak tahun 1893 ini, dikenal dengan masakan orisinal warga lokal yaitu kerang dan kentang. 

Mussles ProvençaleSaya memilih menu ‘Mussles Classic’ seharga €25,85 yaitu se-pot besar kerang yang mengepul dicampur anggur putih dengan siraman ramuan bumbu dan sayuran segar. Welah memesan ‘Mussles Provençale’ menu rekomendasi Chef seharga €18.75, yaitu kerang dilumuri keju cair dan bawang putih, tak kalah yummy. Tak lupa juga kami memesan dua gelas besar bir Belgia hasil ramuan resto Chez Leon yang nikmat.

Musisi di Grand Palace2Setelah makan malam, kami berjalan menyusuri daerah sekitarnya yang masih ramai oleh wisatawan. Dibeberapa sudut jalan terdapat musisi dan hiburan jalanan, yang membuat suasana kota semakin marak dan meriah. Tak sedikit juga kami melihat orang mabuk kebanyakan minum, termasuk kami.

mabok.jpgNamun kami tak perlu khawatir karena Brussels adalah salah satu kota paling aman di dunia. Ini adalah kota di mana kami bisa berjalan sendiri di malam hari, dan pulang dengan aman.

Ketinggalan Kereta

Musisi di Grand PalaceHari kedua, kami janjian dengan seorang teman lama, Hani yang sudah menetap di Antwerp (kota tetangga Brussels) selama dua tahun. Sambil menunggu Hani kami sempatkan mencoba waffle dan coklat Belgia yang terkenal lezat. Sampai sekarangpun, saya masih teringat jelas betapa enaknya waffle di kedai yang menjual berbagai macam fresh-waffles dan toko coklat segar yang kami datangi. Seharga €10-20 per 100 gram, kami bebas memilih beragam homemade coklat, rasa setiap coklat begitu mengejutkan, unik dan creamy, enak juga lezat! 

roti-goreng-gratis.jpgDi alun-alun Grand Place siang itu, kami agak kesulitan mencari Hani karena begitu banyak orang disana. Ternyata ada hajatan warga lokal yang sedang merayakan acara tahunan di pusat kota. Beberapa musisi bermain alat-alat musik sambil bernyanyi dan mengajak orang berdansa. Bahkan beberapa kedai makanan memberikan roti goreng bertabur gula halus secara cuma-cuma kepada pengunjung. Saya dan Welah bolak-balik minta tambah sampai akhirnya kami diselamatkan Hani dari potensi kelebihan gula dan berat badan. Ia langsung mengajak kami ke sebuah bar yaitu Delirium Cafe.

Delirium CafeKafe yang terkenal dengan variasi 2004 jenis bir botol dengan 29 bir Belgia on-tap ini seakan menjadi oasis bagi kami yang haus. Terlebih lagi kami sebagai penggemar homebrew beer, tempat ini adalah tepat untuk menghabiskan hari terakhir kami di Brussels. Welah mengingatkan saya bahwa jam 1 adalah waktu kereta kami. Ok, kami memulai gelas pertama, saya memilih bir Duvel. Oh, so good! 

Delirium Cafe3Hani dulunya kerja di perusahaan yang sama dengan kami di Bali. Jadi, pembicaraan mengalir lancar, sambung menyambung soal masa lalu di Bali. Gelas kedua kami pun datang, kali ini kami memilih bir Chimay. Segar! Obrolan pun lanjut, masih soal Bali. Sampai Welah kemudian mengingatkan lagi kalau kita sudah ketinggalan kereta jam 1. Tak apa, masih ada kereta jam 3. Maklum, sudah lama tak bertemu dengan Hani. 

Delirium Cafe4Hani kemudian memesan gelas ketiga, jenis Therappist-IPA. Walau lebih kental namun aroma hop dan citrus masih terasa. Saya suka. Pembicaraan beralih mengenai bir, mulai dari jenis sampai kesukaan kami dengan membandingkan bir yang pernah kami minum. Kami sempat bercanda: apa kepanjangan dari IPA? Bukan, bukan ‘Indian Pale Ale’, tapi ‘I Pee Alot’. Kami ngakak, akibat kebanyakan minum ‘jus gandum’, kami bolak-balik ke toilet.

Waktu menunjukkan pukul setengah tiga, pastilah kami tak sempat mengejar kereta. Hani mengecek jadwal Eurail, masih ada dua kereta lagi yaitu jam 5 sore dan jam 7 malam. Baiklah, mari kita pesan gelas keempat.

delirium-cafe-menu.jpgBir Westmalle Quardrupel terasa lebih berat dari jenis Therappist lainnya. Bir asli buatan Belgia ini terdiri dari 7 jenis dan menurut Hani hanya ada di kafe ini. Wah, pantas saja Delirium Cafe mendapat penghargaan dari Guinness World Record untuk variasi jenis bir terlengkap. Bir bintang saja ada loh! Oops, tak terasa waktu menunjukkan tepat jam 5.

Akhirnya, kami sepakat untuk mengambil kereta terakhir yaitu jam 7 malam. Dengan demikian kami masih punya waktu sejam jam lebih untuk gelas dan gosip berikutnya. Cheers for Brussels!

***

Published in Kompas Travel, 5-October, 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s