Europhia-4: ‘The Sound of Music’, The Happiest Sound in All the World, Salzburg – Austria

Salzburg adalah kota yang terletak di bagian Austria yang sangat cantik. Berada ditepi sungai Salzach dengan pegunungan Alpen yang mengelilingi banyak danau dan perbukitan.

Kota kelahiran komponis Mozart ini menjadi salah satu pilihan destinasi impian Welah selama liburan kami di Eropa. (Baca: 7 Tips Berlibur Keliling Eropa dan Persiapannya). Sepanjang perjalanan kereta dari kota Bavaria, Munich (Baca: Artikel Munich) ke Salzburg, Welah tak henti bernyanyi lagu “My Favorite Things”.

“When the dog bites, when the bee stings
When I’m feeling sad
I simply remember my favorite things
And then I don’t feel so bad”

Yup, bukan hanya menyanyikan semua lirik lagu di album ‘The Sound of Music’ yang ia hafal di luar kepala, namun Welah juga mempersiapkan perjalanan favoritnya selama di Salzburg.

18835508_10212681353619229_194119949716190173_n.jpgMulai dari membeli online tiket wisata sampai memilih hotel bertema pertunjukan musikal dan film legenda ini. Dari Salzburg Central Train Station kami menuju penginapan Der Salzbur HOF Hotel. 

Hotel ini sarat dekorasi The Sound of Music dimana-dimana. Mulai dari peta raksasa berisi rekam-jejak perjalanan keluarga von Trapp di tembok lobi, di pintu-pintu, di restoran sampai di dalam lift.

Kamar HotelWelah pun memesan kamar khusus ‘The Sound of Music Floor‘ yang didalamnya penuh foto Julie Andrews, si pemeran pengasuh ketujuh anak keluarga Kapten Georg von Trapp, dalam film jadul (1965) tersohor produksi Century Fox ini. 

kapitelplatz-salzburg--tourismus-salzburg-gmbh-bryan-reinhart.jpg.3000854Salzburg memang terkenal sebagai salah satu tujuan wisata populer di Austria. Selain keindahan kota tua (Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO) dengan Arsitektur Baroque, Mozarts Geburthaus, Residenzplatz Arches, Mozarts Foot Bridge, Mirabell Palace, kota Festival Salzburg kelas dunia, pertunjukan opera, konser dan teater musim panas, kota ini juga dikenal sebagai lokasi pembuatan film “The Sound of Music“.

18814349_10212673328498606_6155551061456784197_n.jpgWalaupun masih banyak warga Austria sendiri tak tahu soal film musikal fenomenal ini, namun Salzburg adalah kota wajib untuk dikunjungi bagi penggemar film klasik. Sebanyak 70% wisatawan mancanegara mengunjungi Salzburg setiap tahun, dengan alasan utama karena The Sound of Music.

The Happiest Sound in All the World

Sound of Music Poster horizSiapa yang tak kenal atau mendengar The Sound of Music. Saya dan Welah sudah menonton film dan pertunjukan teater ‘sepanjang masa’ ini berkali-kali, termasuk pentasnya di Ciputra Artpreneur Jakarta pada tahun 2015. 

The Sound of Music adalah film drama musikal Amerika yang diproduksi dan disutradarai oleh Robert Wise, dibintangi oleh Julie Andrews dan Christopher Plummer, bersama Richard Haydn dan Eleanor Parker. Kisah nyata yang diangkat dilayar lebar dan pertujukan musikal paling sukses yang pernah diproduksi. Film ini diangkat dari buku non-fiksli ‘The Story of the Trapp Family Singers’ yang ditulis oleh Maria von Trapp. Buku yang diterbitkan pada tahun 1949 dan kemudian difilmkan 16 tahun kemudian dengan beberapa bagian cerita disesuaikan, agar lebih menarik.

Maria The Sound of MusicFilm ini sukses besar secara komersial dan menjadi film box office terlaris dunia pada tahun 1965. The Sound of Music menerima lima Academy Awards dan dua Golden Globe Awards. Pada tahun 2001, Perpustakaan Kongres Amerika Serikat memilih film ini untuk dilestarikan di National Film Registry.

Plot film berdurasi hampir 3 jam ini bercerita tentang kisah hidup seorang Maria, wanita muda Austria yang belajar untuk menjadi seorang biarawati di Salzburg pada tahun 1938. 

Ia dikirim ke Vila von Trapp milik duda pensiunan perwira angkatan laut untuk menjadi pengasuh ketujuh anaknya. Maria mengajarkan kecintaannya pada musik kedalam kehidupan keluarga ini melalui kebaikan dan kesabaran. Kemudian Maria menikahi sang Kapten dan bersama anak-anak mereka berusaha menemukan cara untuk bertahan hidup atas kehilangan tanah air mereka di jaman Hitler, dengan keberanian dan iman.

Bis Tur Sound of Music

The Original Tour  

Pagi-pagi kami menuju Mirabellplatz yang menjadi titik temu agen perjalanan wisata Panorama Tour, perusahaan jasa wisata tertua di Salzburg. Ia mengklaim bahwa The Sound of Music yang disugguhkannya adalah tur otentik dan asli warisan orang-orang yang yang terlibat langsung dalam pembuatan film laris ber anggaran $ 8,2 juta dengan keuntungan sebesar $ 286,2 juta ini.

Ada dua pilihan wisata perjalanan Original Sound of Music Tour yang ditawarkan. Yang pertama adalah tur setengah hari selama 4 jam seharga €42 dan tur berdurasi 9 jam dengan harga €124 per orang.

18813455_10156260338493275_5333966691208738330_nWelah sangat bersemangat begitu kami berada di dalam bis yang akan membawa kami mengikuti jejak keluarga Trapp dan semua lokasi pembuatan film yang ada di kota Salzburg dan sekitarnya. Pemandu wisata menyambut kami tak kalah semangatnya, ia memberi daftar lagu soundtrack film The Sound of Music, yang akan kami nyanyikan bersama 20 orang lainnya selama perjalanan ‘napak tilas’ bagaikan difilm. 

The Story  

Sound_of_Music_Trail

Kami memulai perjalanan dengan perkenalan pemandu tentang Julie Andrews sebagai peran utama dalam film The Sound of Music. Kabarnya Julie mengalahkan Grace Kelly untuk peran Maria. Sedangkan untuk peran pria, Christopher Plummer menang dalam casting sebagai Kapten von Trapp dari Sean Connery. Kami juga disuguhkan video ‘behind the scene’ pembuatan film legendaris ini.

18814152_10212681354859260_7402606282140040746_nBis kami melewati kota tua kedaerah pegunungan Saint Gilgen yang sangat indah. Dari kaca jendela, terpapar hamparan bukit hijau dan langit biru. Pemandu mengajak kami menyanyikan lagu “The Sound of Music”:

“The hills are alive with the sound of music
With songs they have sung for a thousand years
The hills fill my heart with the sound of music
My heart wants to sing every song it hears
(Every song it hears….)”

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Biara Nonnberg Abbey, yang saat ini masih aktif. Disini, diceritakan awal Maria belajar menjadi biarawati. Namun, kecintaannya pada musik dan pegunungan dengan antusiasme serta imajinasi mudanya, Maria dinilai kurang disiplin yang menyebabkan kekhawatiran diantara para biarawati. Terbayang adegan para biarawati menyanyikan lagu tentang “Maria and The Nuns”.

Biara Abbey“She’s always late for chapel, but her penitence is real
She’s always late for everything, except for every meal
I hate to have to say it, but I very firmly feel Maria’s not an asset to the abbey
I’d like to say a word in her behalf Maria makes me laugh”

Ibu Biara percaya bahwa Maria akan lebih bahagia di luar biara, kemudian menugaskannya ke sebuah rumah peristirahatan milik Kapten Georg von Trapp untuk menjadi pengasuh ketujuh anaknya yaitu Liesl, Friedrich, Louisa, Kurt, Brigitta, Marta, dan Gretl. 

18814196_10212681355819284_5772837511267624960_nPerhentian kedua adalah jalanan kecil menuju gerbang Vila von Trapp yang lebih mirip istana yang sekarang dikenal dengan Hellbrunner Palace. dengan Danau besar dibelakang Villa von Trapp sebenarnya difilmkan di beberapa lokasi. Fasad depan dan belakang vila difilmkan di Frohnburg Palace, teras tepi danau dan kebun yang dibangun disebuah properti yang berdekatan dengan Schloss Leopoldskron yang disebut Bertelsmann, sedangkan interiornya dibangun di studio Fox di Los Angeles, Amerika Serikat.

Jalanan Kecil Frohnburg PalaceDisini, kami menyusuri jalanan disamping tembok panjang bercat kuning dan membayangkan kekhawatiran Maria akan pekerjaan barunya sebagai pengasuh anak. Saat itu ia melompat-lompat sambil berusaha menyemangati dirinya dengan bernyanyi “I Have Confidence”:

Maria Jumping“Oh, what’s the matter with me? I’ve always longed for adventure
To do the things I’ve never dared, Now here I’m facing adventure,
Then why am I so scared, A captain with seven children
What’s so fearsome about that?
I have confidence the world can all be mine…
They’ll have to agree I have confidence in me…”

BerbarisDiceritakan seperti di film, Kapten yang selama ini membesarkan anak-anaknya sendiri setelah kematian istrinya dengan menerapkan aturan ala-militer yang sangat ketat. Salah satu cara disiplin Kapten yaitu memanggil anak-anaknya dengan meniup peliut dan mereka akan datang berbaris lengkap dengan seragam layaknya upacara bendera. 

Namun, Maria lebih memilih untuk menyebut nama mereka masing-masing. Kata Maria, itu adalah cara memanggil hewan, bukan manusia. Adegan lain yang saya ingat adalah saat Maria menghibur anak-anak yang sedang ketakutan karena petir, memaafkan mereka ketika memasukkan kodok kedalam saku pakaiannya. Meski pada awalnya anak-anak berperilaku tidak baik, namun berkat kesabaran Maria, anak-anak tersebut mempercayai dan menghormatinya.

Pintu Gerbang Mirabell GardensSaat Kapten bepergian, Maria mengajak anak-anak piknik di pegunungan, bersepeda, naik kereta sembari mengajari mereka bernyanyi di Mirabell Gardens. Disalah satu ikon lokasi pembuatan film ini kami teringat adegan anak-anak mengelilingi kolam Pegasus dan adengan Maria yang memakai anak-anak tangga dipintu masuk taman sebagai ‘tangga-nada’ untuk latihan lagu ‘Do-Re-Mi’.

Do Re Mi(Do!) doe, a deer, a female deer
(Re!) ray, a drop of golden sun
(Mi!) me, a name I call myself
(Fa!) far, a long, long way to run
(So!) sew, a needle pulling thread
(La!) la, a note to follow so
(Ti!) tea, a drink with jam and bread
That will bring us back to do oh oh oh

Leopoldskron PalacePerjalanan selanjutnya menuju Leopoldskron Palace dengan pemandangan menawan danau cantik Leopoldskron. Di danau inilah yang menjadi tempat adegan berperahu difilmkan. Dari sini, kami bisa melihat halaman belakang dan taman istana pribadi Kapten, sambil membayangkan alur kisah berikutnya.

Saat Kapten kembali dari Vienna bersama Baroness Elsa, tunangannya Kapten tak suka melihat kegiatan Maria dan anak-anaknya, seperti memanjat pohon dan basah kuyup akibat perahu mereka terbalik. Terlebih lagi pakaian anak-anak yang dibuat Maria dari bahan bekas tirai jendela kamar, membuat Kapten murka dan memerintahkan Maria untuk kembali ke biara. 

PerahuNamun tiba-tiba, Kapten mendengar anak-anaknya bernyanyi merdu dari dalam rumah hasil ajaran Maria. Penuh takjub, Kapten akhirnya bergabung dengan anak-anaknya dan bernyanyi lagu ‘Edelweiss’ atas permintaan Maria.

Edelweiss Edelweis
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me

Untuk pertama kalinya, sang Kapten menaruh perhatian terhadap Maria. Ia meminta maaf dan memohon Maria untuk tetap tinggal. Ketertarikan Kapten semakin berkembang saat Kapten berdansa dengan Maria dalam sebuah pesta. Hal ini membuat Maria sebagai biarawati muda menjadi bingung akan perasaannya sendiri. Demi menghindari konflik cinta segitiga Kapten dan Baroness Elsa, Maria memutuskan kembali ke biara untuk menutupi perasaannya terhadap Kapten. 

GazeboSaat mengetahui perasaan Maria yang sebenarnya, Ibu Biara mendorong Maria untuk kembali ke rumah von Trapp. Maria setuju kembali dan tinggal sampai Kapten mendapatkan pengasuh pengganti. Namun, perasaan Kapten kepada Maria tidak berubah. 

liesl gazeboSetelah memutuskan pertunangannya, Kapten mengungkapkan perasaan cintanya kepada Maria di sebuah gazebo di belakang rumahnya. Gazebo ini mengingatkan kami akan adegan tarian keren antara Liesl, anak tertua Kapten dengan pacarnya Ralph, perwira muda pengantar telegram dengan lagu populer “Sixteen Going on Seventeen“:

“You are 16 going on 17. Baby its time to think
Better beware. Be canny and careful. Baby you’re on the brink
You need someone. Older and wiser. Telling you what to do
I am 17 going on 18. I’ll take care of you”

Gazebo2Sayangnya saat kami tiba di lokasi, Gazebo yang menjadi ikon film ini pintunya digembok. Kata pemandu kami, gazebo ditutup sejak terjadi kecelakaan pengunjung yang meniru tarian diatas bangku ala-Liesl dan Ralph. Katanya lagi, Gazebo asli milik Kapten dipindahkan dari lokasi aslinya ke Schloss Leopoldskron.

Gazebo Maria dan KaptenDi gazebo ini juga terdapat adegan Maria dan Kapten berciuman setelah Maria membalas ungkapan cinta Kapten dengan nyanyian “Something Good”:

“For here you are, standing there, loving me
Whether or not you should
So somewhere in my youth or childhood
I must have done something good”

Kapel Perkawinan di MondseeSitus terakhir perjalanan wisata kami adalah di Mondsee. Didalam gereja Collegiate ini diambil adegan prosesi pernikahan Maria dan Kapten. Meski kejadian sebenarnya mereka menikah di Biara Nonnberg Abbey, kami seakan bisa merasakan hadir di gereja megah ini sebagai tamu undangan. Kami ‘menyaksikan’ langsung Maria dengan gaun putih panjangnya berjalan menuju altar diiringi dentang lonceng gereja dan nyanyian merdu lagu “Maria” oleh para biarawati Abbey.

maria wedding“How do you solve a problem like Maria? How do you catch a cloud and pin it down?
How do you find a word that means Maria? A flibbertigibbet a will-o’-the-wisp a clown
Many a thing you know you’d like to tell her. Many a thing she ought to understand
But how do you make her stay, and listen to all you say?. How do you keep a wave upon the sand? Oh, how do you solve a problem like Maria?
How do you hold a moonbeam in your hand?”

Kisah Maria setelah menikah belum berakhir disini. Bagaimana petualangan keluarga von Trapp untuk bertahan hidup, tampil dalam Festival Salzburg kemudian menyelinap setelah lagu penutup ‘So Long, Farewell’, mencari perlindungan biara Abbey, bersembunyi di ruang pemakaman hingga berhasil lolos dari kejaran Nazi. 

Maria-Von-TrappKata pemandu kami lagi, “Walaupun dalam film diceritakan bahwa keluarga von Trapp mengungsi ke perbatasan Swiss dan daerah Bavaria Jerman, namun sebenarnya mereka migrasi ke Vermont, Amerika Serikat, dimana Maria von Trapp meninggal dunia pada tahun 1987 diusianya yang ke 82 tahun. Itu cerita aslinya.” Menurutnya lagi, sekuelnya Die Trapp-Familie dibuat dan dirilis di Amerika pada tahun 1958.

“So long, farewell, auf wiedersehen, good night.
I hate to go and leave this pretty sight.
So long, farewell auf wiedersehen, adieu.
Adieu, adieu, to yieu and yieu and yieu.” 

The Sound of Music’ sungguh sebuah drama realita yang memukau. The Happiest Sound in All the World, memang merupakan suara musik terindah di seluruh dunia yang tak akan pernah kami lupakan, ribuan tahun sekalipun.

“Music acts like a magic key, to which the most tightly closed heart opens.”
– Maria von Trapp

***
Published on Kompas Travel

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s