Berburu Kabut Di ‘Kota Tiga Kabut’, Mae Hong Son – Thailand

Mae Hong Son disebut “kota tiga kabut”. Ia dikelilingi 90 persen pegunungan tinggi yang sering tertutup kabut. Putaran kabut tahunan mulai dari kebakaran hutan di musim panas, embun kabut di musim hujan dan kabut di musim dingin. Lokasinya yang terpencil menjadikan kota ini terbaik dari semua kota sibuk yang ada di Thailand. Nyaris tak terlihat tuk-tuk disini. Namun tidak berarti Mae Hong Son adalah wilayah yang belum dipetakan. Potensi kota yang berbatasan dengan Myanmar ini sangat diminati wisatawan untuk kegiatan alam seperti berperahu, trekking dan berkemah.

postcard
                                                                                                                                                         Source: postcard MHS

Saya terpukau saat Ning, teman asli Thai menunjukkan sebuah foto perkemahan di suatu danau yang indah. Danau berkabut dengan kilauan matahari pagi yang dikelilingi pegunungan hutan pinus adalah suatu kombinasi ilustrasi alam yang sempurna bagi saya. Gambar tersebut berlokasi di Pang Oung, Mae Hong Son yang menjadi salah satu destinasi impian dia sejak masa kecil. Menurut Ning, tempat ini jarang didatangi wisman karena lokasi yang remote dan perlu didampingi orang lokal untuk suatu pengalaman otentik. Tanpa perlu belajar mengeja nama tempat di provinsi sebelah utara Thailand yang agak sulit diucapkan ini, saya langsung tunjuk jari mengiyakan ajakannya kesana. Ayo!

img_3007Kami berangkat dari Chiang Mai ke bandara Mae Hong Son (MHS) dengan menggunakan maskapai Kan Air, pesawat baling-baling yang memakan waktu terbang sekitar 35 menit. Alternatif lainnya adalah dengan menaiki bis selama tiga jam. Kami memilih terbang untuk menghindari rute darat ‘MHS Loop’ yang terkenal dengan 1.864 kelokan!.

Untuk memaksimalkan dua hari kami di Mae Hong Son kami menyewa layanan agen perjalanan termasuk penjemputan di bandara, perjalanan ke 8 situs wisata, sekaligus mengantar sampai ke tujuan akhir kami yaitu Pang Oung.

1. 360 Panorama di Wat Phra That Doi Kong Mu

dscf1782edSitus pertama perjalanan wisata kami diprovinsi terbesar kedelapan (dari 76) di Thailand ini adalah ke kuil Phra That Doi Kong Mu. Di dalam kuil yang dibangun pada tahun 1860 ini terdapat dua candi dan dua vihara. Saya suka salah satu candi yang bercat putih bertingkat delapan yang didalamnya mengabadikan gambar Budha dengan menara emas diatasnya. edBerdiri diatas ketenangan bukit Doi Kong Mu, kuil bergaya Birma ini bisa terlihat dari sebagian besar tempat di kota Mae Hong Son.

Begitupun sebaliknya, dari puncak bukit Doi Kong Mu saya dapat melihat pemandangan 360 derajat Mae Hong Son, danau Chong Kham, lembah Pai dan kota negara tetangga, Birma, Myanmar.

2. Leher Jenjang Wanita Karen Tribe village

dscf1795Mayoritas (60 persen) penduduk di provinsi Mae Hong Son terdiri dari suku-suku yang tinggal di perbukitan atau disebut Hill Tribe. Termasuk Hmong, Yao, Lahu, Lisu, Akha, Shan dan suku Karen. Disiang hari, kami mengunjungi desa suku Karen yang terkenal dengan kelompok wanita berleher panjang atau long-neck.

dscf1811Wanita suku Karen diidentifikasi oleh tumpukan cincin kuningan besar yang mereka kenakan dileher sejak kecil. Konon, cincin-cincin besar tersebut bertujuan untuk melindungi para wanita suku Karen dari perbudakan dengan cara membuat mereka terlihat kurang menarik bagi suku-suku lainnya.

Disini, kami sempat memakai cincin-cincin besar dileher yang disediakan oleh para wanita Karen. Beratnya seakan memakai kalung rantai besi membuat saya sulit menggerakan leher ke kiri dan ke kanan, apalagi menunduk. Kami berdua terlihat angkuh dengan dagu terangkat layaknya model saat melintasi catwalk.

3. Melintasi Su Tong Pae Bamboo Bridge

dscf1833edDi situs ketiga kami berjalan diatas sebuah jembatan bambu sepanjang 500 meter dikitari sawah di desa Ban Kung Mai Sak. Konstruksi jembatan bambu Su Tong Pae ini sangat sederhana namun indah dengan sawah padi hijau disekelilingnya. Pemilik sawah menghibahkan tanah mereka dan membangun jembatan tersebut bersama penduduk desa sebagai jalan setapak sehari-hari.

Jembatan yang digunakan oleh penduduk desa ini menghubungkan Mae Sa Nga River dengan kuil disalah satu ujungnya. Nama jembatan Su Tong Pae diterjemahkan oleh para biksu sebagai ‘doa sukses’ yang menjadi sumber kebanggaan masyarakat setempat.

4. Menyuapi Domba di Pang Tong Palace

dscf1870edPang Tong Palace dulunya adalah kediaman Ratu sekaligus menjadi proyek keluarga Kerajaan. Selain bersawah, petani di Mae Hong Son juga membudayakan ternak seperti babi, ayam dan domba. Kami mampir di sebuah taman apik Pang Tong untuk memberi makan sekawanan domba piaraan istana.

Makanan domba berupa rumput disediakan gratis untuk pengunjung. Cara pintar untuk menghemat tenaga kerja sekaligus memberikan pengalaman interaksi bagi wisatawan. Tak heran, domba-domba ini terlihat gemuk dan sehat.

5. Facial di Phu Klon Mud Spa

mud2.jpgSetelah domba kenyang, saatnya kami merawat wajah di Phu Klon. Phu Klon adalah daerah sumber lumpur terbaik yang kabarnya hanya ada tiga tempat di dunia selain Israel dan Rumania. Lumpur hitam murni bawah tanah dengan campuran air alam panas  60-140 derajat ini menghasilkan unsur mineral murni. Khasiat lumpur Phu Klon dipercaya baik untuk kulit dan dapat mengeluarkan kotoran racun yang ada dikulit.

Spa lumpur di Phu Klon menyediakan paket lumpur spa lengkap. Tersedia paket 90 menit dengan biaya 1.200 Baht (Rp.450.000) untuk seluruh badan. Kami memilih paket masker lumpur wajah saja yang berlangsung 15 menit seharga 80 baht (Rp.30.000). Proses masker wajah sederhana, mulai dari wajah dibersihkan denga air bunga, kemudian dilumuri lumpur dan didiamkan selama 30 menit. Lumayan, kulit terasa bersih dan lembut.

6. Bercermin di Danau Rak Thai Village

dscf1902edTanpa terasa hari sudah sore saat kami tiba di desa Rak Thai. ‘Rak Thai’ yang berarti harafiah ‘Cinta Thailand’, dan, saya jatuh cinta dengan desa ini. Desa yang didirikan oleh mantan tentara asal Yunnan, China di tahun 1949 ini sangat mempesona.

dscf1920edDanau dengan air super tenang bagai kaca memantulkan refleksi lembah perbukitan yang begitu indah. Snap!, kami sibuk berfoto sana-sini, sebelum matahari terbenam dan kabut menyelimuti desa yang terkenal dengan perkebunan teh ini.

Kami pun bergegas ke Pang Oung, destinasi terakhir yang menjadi tujuan kami sekaligus tempat kami menginap di Mae Hong Song.

7. Berburu Kabut Pang Oung

pang-oung2Pang Oung (Pang Ung) adalah salah satu proyek Kerajaan hasil inisiatif HM Queen Sirikit untuk pengembangan dataran tinggi. Dulunya, provinsi Mae Hong Son dikenal sebagai lokasi jual-beli opium dan obat terlarang. Karenanya, Kerajaan merubah provinsi ini dengan ladang pertanian seperti beras, teh, kopi serta membangun potensi daerah lainnya untuk pembangunan demi kesejahteraan penduduknya, termasuk mempromosikan situs-situs wisata seperti Pang Oung.

fullsizerender-3Perlu dicatat, kunjungan ke Mae Hong Son yang terbaik adalah diantara bulan November dan Februari karena cuaca yang cukup nyaman. Sedangkan di musim dingin di bulan Juni-Oktober cuaca malam hari sangat dingin, bisa mencapai nol derajat selsius. Kunjungan kami kali ini adalah dibulan Januari dimana udara seperti saya sebutkan diatas, masih nyaman. Namun itu disiang hari, sedangkan pada malam hari suhu otomatis menurun. Kami diturunkan di Pang Oung setelah hampir dua jam perjalanan dari desa Rak Thai dengan sambutan udara 10 derajat!

ed2Di Pang Oung terdapat sebuah danau cantik tenang di lembah pegunungan hutan pinus yang berkilauan oleh sinar matahari dan kabut pagi. Kata Ning, Pang Oung tak kalah dengan pemandangan di Swiss dan Selandia Baru. Sayangnya, hari sudah malam yang terlihat hanya kegelapan hutan. Waktunya kami tidur, tak sabar menunggu kokokan ayam.

img_3421edPenginapan di Pang Oung kebanyakan adalah berupa hut atau tepatnya ‘gubuk sangat sederhana’ yang ditawarkan di sekitar desa Ruam Thai dengan harga sekitar 150-500 Baht (Rp. 55.000-185.000). Alternatif lainnya adalah berkemah didalam national park. Namun, untuk menginap didalam taman nasional butuh ijin masuk dari pemerintah Thailand. Untungnya, Ning sebagai ‘pemandu lokal’ saya sudah menyiapkan semuanya.

ed3Kami bangun jam lima subuh keesokan harinya. Udara terasa 10x lebih dingin dibandingkan saat kami tiba. Walau sudah mengenakan baju empat lapis saya masih merasa dingin. Dengan nafas berasap kami mulai berjalan kaki menembus kegelapan hutan. Tercium bau pohon pinus dan embun basah melapisi kulit saya yang menggigil.   Untungnya beberapa warung kopi sudah ada yang buka. Saya mengajak Ning memesan secangkir kopi panas. Terlihat beberapa biksu memberkati pemilik warung yang sudah menyediakan makanan dan minuman cuma-cuma untuk menghormati para biksu yang menjalankan tugasnya hari itu.

img_3414Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit, kamipun tiba ditepi danau. Banyak orang yang berkemah disekitar danau namun tak terlihat wisman satupun disini. Kebanyakan adalah orang lokal yang telah siap dengan kamera dan tripod untuk mengabadikan pemandangan alam yang menjadi tujuan mereka kesini. Begitupun kami, walau berbekal kamera saku kami siap menyambut kabut dini hari.

img_3329sPukul enam tepat, cahaya matahari mulai terlihat. Kabut yang tadinya menutupi danau perlahan mulai menipis dan memperlihatkan air danau yang berkilau. Beberapa sampan penduduk yang datang dari kejauhan mulai mendekat, menjadikan obyek foto yang dramatis. Pohon-pohon pinus memperlihatkan bayangan jangkungnya diatas tanah berembun. Berlatar belakang danau, pegunungan dan embun pagi membingkai pemandangan alam nan spektakuler. Beberapa saat saya lupa mengabadikannya, saking terkesima. Wajah bantal Ning terlihat girang tak terkira, seakan dalam mimpi.

Impian kami berburu kabut di ‘kota tiga kabut’ ini akhirnya kesampaian juga. Finally!

Special Trip & Tips:

PAI

dscf1946edJika banyak waktu tersisa di Mae Hong Son ada baiknya sambangi Pai. Pai adalah sebuah kota kecil cantik di provinsi Mae Hong Son. Pai terkenal dikalangan backpacker dengan guesthouse yang murah, toko-toko suvenir, dan restoran. Jangan kaget melihat begitu banyak turis asing disini, dibanding kota Mae Hong Son. Tiga pengalaman berkesan kami di Pai.

Mae Hong Son Loop

loop
                                                                                                                                                        Source: Google

Ini adalah rute populer bagi wisatawan dan penggemar sepeda motor yang ingin menjelajahi sisi sebelah utara Thailand. Kami naik songthaew dari stasiun bis kota Mae Hong Son seharga 120 Baht (sekitar Rp.50.000 per orang). Ribuan kelok jalanan selama 3 jam plus bonus pemandangan indah, menemani perjalanan kami.

Night Market

dscf1949edMencoba makanan lokal asli Thailand Utara sekaligus belanja di pasar malam Pai sangat menyenangkan. Beberapa makanan dan barang disini tak akan Anda dapatkan di tempat lain. Makanan lokal kesukaan saya adalah Puk Ngadum yaitu beras dengan campuran wijen hitam dibakar dan diberi susu manis. Saya juga membeli atasan suku Karen yang keren. Murah meriah!

Walking Street

pai5Bar, restoran, penginapan dan toko-toko jadi satu disini. Jalan ini mirip Legian di Bali. Udara malam yang sejuk cenderung dingin membuat night-out makin seru. Kami mampir disebuah bar yang menyediakan beragam home-brew beer yang jarang ada ditempat lain di Thailand. Cheers!

Published on Kompas Travel, March 14, 2017:
‘Melancong ke Thailand, Yuk Berburu Kabut di Mae Hong Son’

Advertisements