Singapore: Dialogue in the Dark

Singapura seakan tidak pernah berhenti berinovasi. Ada saja hal baru yang ditawarkan oleh negara peringkat empat top destinasi dunia ini kepada wisatawan dan warganya. Sebut saja Universal Studio, Marina Bay Sands dan Lego Land yang menjadi buah bibir selama dua tahun terakhir ini. Tak heran kalau negara berpopulasi sebanyak 5,3 juta jiwa ini menyabet posisi nomor satu sebagai bandara terbaik dunia sekaligus penghargaan Asia untuk Quality of Life award.

Khususnya bagi wisatawan Indonesia, tempat-tempat wisata seperti pulau Sentosa, Merlion Walk, Jurong Bird Park dan Night Safari sepertinya sudah ketinggalan jaman. Walau pusat belanja di sepanjang jalan Orchard masih dipenuhi oleh para shopaholic, negri Singa ini terus saja membangun mal-mal baru untuk melengkapi 140 gedung perbelanjaannya.

Dikunjungan terakhir saya ke Singapura, sesuai rekomendasi aplikasi ponsel gratis ‘Your Singapre Guide’, saya mencoba dua venue terbaru yang  negara-kota berinfrastruktur terbaik dunia ini yaitu Dialoge in the Dark dan Gardens by the Bay.

Dialogue in the Dark.

BannerSore itu, saya bersama dua orang sahabat saya, Duta dan Mario sudah berada di lokasi Ngee Ann Polytechnic, Clementi Road. Kami bertiga diundang untuk mencoba petualangan Dialogue in the Dark.

Dialogue in the Dark (DiD) adalah bentuk pertunjukan umum yang unik! Sebuah konsep dimana Anda menjalankan rutinitas harian seperti menyeberang jalan atau mengunjungi pusat jajanan, sampai makan malam, namun, dalam kegelapan, tanpa sinar lampu sama sekali!

Sebelum pertunjukkan dimulai, pengunjung diminta untuk menitipkan barang bawaaan ke dalam loker yang dikunci. Kami tak diperbolehkan membawa barang elektronik yang menghasilkan sinar cahaya apapun seperti jam tangan, kamera maupun ponsel.  Sebelum masuk kedalam ruangan yang gelap gulita kami mendapat briefing singkat mengenai proses DiD. Kemudian kami dibagi dalam beberapa kelompok dengan pemandu masing-masing. Pemandu kami bernama Shierly. Shierly adalah seorang siswa universitas Ngee Ann tunanetra yang dipekerjakan di DiD.

Shirley menjelaskan kondisi di dalam ruangan secara umum, dimana kami akan dituntun ke beberapa situs yang terkenal di Singapura. Kami juga diberi sedikit gambaran mengenai akhir petualang kami yaitu Dinner in the Dark, seperti layout meja dan tempat duduk, jenis makanan yang akan disajikan. Ada lima meja yang tersedia malam itu dengan jumlah delapan orang per meja dan petualangan ini akan berlangsung selama total hampir tiga jam.

Shirley mempersilakan kami untuk ke toilet sebelum masuk ruangan karena di dalam tidak tersedia restroom. Shirley juga akan siap bila ada pengunjung yang mengalami masalah di dalam ruangan. Masalah? Masalah apa? Kami  mendengar itu menjadi sedikit was-was karena sama sekali belum punya pengalaman dan tidak punya ekspektasi apa-apa.

Berbekal tongkat penuntun, kami diajak masuk secara berurutan, sambil memegang pundak orang yang berada di depan masing-masing. Begitu masuk, saya tidak bisa melihat apapun saking gelapnya! Suhu tiba-tiba terasa dingin dan indra pendengaran menjadi lebih sensitif. Sepanjang jalan menuju situs pertama terasa sangat jauh  walau jaraknya hanya sekitar lima meter. Saya hanya bisa meraba dinding disebelah kiri dan pundak Duta di depan saya.

Beberapa detik kemudian saya mendengar suara dari belakang, “Wait… we need help here!”, grup kami langsung berhenti. Saya mendengar suara langkah orang melewati sebelah kiri saya, dan kemudian suara seseorang terdengar perlahan, “I feel dizzy, I can’t do it… please let me out…” Lah?

Kami melanjutkan perjalanan ‘ular tangga’ ini hanya beberapa meter sebelum terdengar suara lain yang menyerah lagi dari belakang. Oh dear, saya jadi parno apakah saya bisa melanjutkan sampai beberapa jam kedepan. Menurut Shirley itu sudah biasa, untuk beberapa orang tidak dapat beradaptasi secara cepat dengan perubahan penglihatan seperti ini.

Beberapa aktifitas cukup menegangkan kami lewati satu-persatu…

Kami tiba di sebuah jalan berbatu-batu bulat yang membedakan dengan jalanan aspal sebelumnya. Itu adalah ‘tanda garis kuning’ atau berhenti bagi orang buta. Shirley meminta kami berhenti. Suara kendaraan terdengar dari sebelah kanan dan kiri. Suara Shierly terdengar meminta salah satu dari kami untuk menekan tombol penyebrangan jalan. Hah? Kita mau nyebrang?! Seriously?

Shierly mengajak kami menaiki sebuah kapal berbentuk huruf ‘U’. Setelah semuanya on-board, kapal berjalan lumayan cepat dengan suara mesin kapal menderu berbenturan dengan suara air. Tiba-tiba kami merasakan kapal sedikit oleng dengan percikan air masuk dibadan kapal. Shierly menjelaskan kalau kami baru saja melewati patung Merlion yang sedang menyemburkan air!

Pengalaman ‘membaca’ atau lebih tepatnya meraba tulisan dari batu patung the Father of Singapore, ‘Stamford Raffles’ cukup seru,  (tak terpikirkan sulitnya membaca huruf Braille) termasuk menebak bentuk benda mulai dari kotak pos, telpon umum sampai merek sebuah mobil yang kami lewati.

Kami juga mengunjungi sebuah pasar yang menjual beragam buahan dan sayuran. Dengan menggunakan indra terbatas, kami mencoba menebak buah atau sayur melalui bau dan bentuk dengan rabaan tangan. Saya mencium bau buah orange yang membuat saya membayangkan segarnya minuman jus dingin. Saya jadi haus.

Kami mampir di sebuah kedai. Duta memesan kopi lokal, Mario memesan minuman soda dan saya memesan es krim. Lucu juga mengambil kembalian tanpa melihat lembaran uang yang diberikan si-pelayan. Kami duduk melingkari sebuah meja yang sudah dilengkapi dengan beberapa botol kecil gula, sendok, tisu dan tempat sampah. Disini, kami sempat berbincang cukup lama dengan Shierly.

Shierly seorang visual impare sejak di inkubator. Matanya tidak sempat ditutup selama di inkubasi yang mengakibatkan dia kehilangan penglihatannya. Hobi Shierly adalah traveling. Hal pertama yang dirasakannya saat mengunjungi suatu kota atau negara adalah suhu udara yang berbeda yang dirasakannya melalui kulit dan pernafasan. Ironis juga pikir saya, mengunjungi kota Singapore di malam hari misalkan, dengan lampu-lampu malam kota yang bertebaran dimana-mana, tanpa bisa dilihat sama sekali. Shierly becanda, “Enjoy your stay in Singapore and let me know about the lights in Gardens by the Bay.”

Screen Shot 2014-05-23 at 1.39.14 PM
Gardens by the Bay lights

Makan malampun tiba. Saya dibimbing Shirley duduk di sebuah kursi, begitupun yang lain. Saya bisa mendengar suara-suara seperti ‘Your seat is here… napkin, spoon, fork, plate…” Hanya beberapa suara yang saya kenal, suara Duta di sebelah kanan saya, dan suara Mario disebelah kiri saya. Saya mengira-ngira set up meja kami sepertinya berbentuk meja panjang kotak.

Mata terasa perih, semakin keras usaha untuk melihat semakin terasa otot mata menegang, karena tak ada satu sinarpun terlihat. Duta menganalogikan mata-nya seperti lensa zoom yang terus bekerja tanpa menemukan satu objek potretpun.

Kami disajikan makanan pembuka, mulai dari salad, sup sampai makanan utama berupa steak dan segelas minuman anggur merah. Rasanya menjadi tiga kali lipat enaknya! Kata Shierly, itu karena pengaruh tak bisa melihat. Orang menjadi lebih menghargai makanan dengan hanya mengandalkan bau dan rasa makanan tersebut. Guess what, saya merasakan percakapan antara kedua sahabat saya lebih berarti di kegelapan dengan hanya mengandalkan indra pendengaran, saya berubah menjadi pendengar yang lebih baik!

Didalam kegelapan, saya mengalami cara-cara baru intuk memahami dunia disekitar. Belajar apa artinya hidup tanpa melihat, lebih menghargai lingkungan, menghargai nilai komunikasi dan memahami orang-orang yang melihat dunia secara berbeda.

Screen Shot 2014-05-23 at 1.20.07 PM

About DiD

Dialogue in the Dark Singapore adalah sebuah kolaborasi eksklusif antara Ngee Ann Polytechnic dan Dialogue Social Enterprise.  Sejak didirikan di Jerman pada tahun 1988, Dialogue in the Dark telah mencapai 30 negara dan lebih dari 150 kota di seluruh Asia, Eropa, Timur Tengah dan Amerika. Lebih dari 6 juta pengunjung di seluruh dunia telah mengalami apa artinya mendengar, mencium, merasakan dan menyentuh, tanpa bisa melihat .

Dialogue in the Dark Singapore bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan memfasilitasi orang buta yang terpinggirkan dalam masyarakat. Visi DiD adalah integrasi sosial yang lebih dari sekadar membantu orang buta. Dalam kegelapan, kita tidak bisa lagi melihat perbedaan ras, kelas dan agama .

Meningkatkan kesadaran sosial orang dengan gangguan visual dan lainnya, mengubah pola pikir untuk mendorong dan mempromosikan masyarakat yang inklusif, mempromosikan lapangan kerja bagi penyandang cacat, dalam kemitraan dengan perusahaan dan organisasi masyarakat.

did_imglinkDialogue in the Dark Singapore
Ngee Ann Polytechnic
Block 5 #01-03, Singapore 599489

Booking Hotline: (+65) 6460 6222

2 Comments

  1. Jenifer says:

    Hi liburing terima kasih untuk ulasannya

    Salam kenal

    Baru saja membaca dan mendengar tentang DID

    kami berencana untuk mengunjungi tempat tersebut

    Namun ada beberapa hal yg ingin kami tanyakan yaitu :

    1.setelah melihat di google koq kayaknya tempatnya kecil per kamar2 ?
    2.Apakah maaf DID sperti permainan escape hunt??

    Karena maaf jujur menurut kami permainan EH tersebut sangat mbosankan

    kami sekeluarga ingin berlibur ke tempat wahana yang asyik seperti 4D wahana… Dan setelah bosan dgn Universal singapore maka kami berusaha mencari tempat baru DID ini misalnya

    3.apakah DID sperti 4D sehingga liburing merasakan angin dan lain2?

    4.apakah DID sperti rumah hantu di dufan maksudnya berjalan dalam gelap lalu ada suara dari sensor2 kaki gitu?dan kita mendengar grup lain yang berbicara?

    kami tunggu kabar nya dari liburing ya terima kasih banyak sudah meluangkan waktu membuat ulasan ini dan maaf bila prttanyaan kami banyak serta ada yang kurang sopan jg trrkesan membanding bandingkan karena kami benar tidak ada maksud merendahkan salah satu tempat tujuan wisata

    Kami sangat bersyukur bila liburin berkenan dapat membalas pesan ini/ melalui email kami
    *mhn untuk tdk mencantumkan email kami ya

    Sekali lagi
    terima kasih :p

    1. post says:

      Hi Jenifer,

      DID bukan tempat wisata atau semacam amusement park. Namun, Dialogue in the Dark Singapore bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan memfasilitasi orang buta yang terpinggirkan dalam masyarakat. Visi DiD adalah integrasi sosial yang lebih dari sekadar membantu orang buta. Dalam kegelapan, kita tidak bisa lagi melihat perbedaan ras, kelas dan agama .

      Meningkatkan kesadaran sosial orang dengan gangguan visual dan lainnya, mengubah pola pikir untuk mendorong dan mempromosikan masyarakat yang inklusif, mempromosikan lapangan kerja bagi penyandang cacat, dalam kemitraan dengan perusahaan dan organisasi masyarakat. Jadi, pengalaman yang didapat lebih ke ‘bagaimana menjadi orang tanpa penglihatan’ selama sejam. Dimana, bagi saya pribadi – saya dapat lebih mengapresiasi indera pendengaran, rasa, penciuman, – bahkan penglihatan yang saya miliki. Selamat mencoba!:)

Comments are closed.