KYOTO, Kota Seribu Kuil

Udara dingin bekas embun subuh masih tersisa saat saya tiba di stasiun kereta Kyoto, membuat ‘kota seribu kuil’ ini terasa makin anggun dan romantis.

Kota penyimpan ‘harta karun’ domestik Jepang yang terletak di wilayah Kansai ini memang sarat sejarah. Ada tujuh belas situs yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO di Kyoto, kuil yang tak terhitung jumlahnya dan kota kelahiran sekolah Geisha. Dulunya, Kyoto adalah ibukota Jepang selama lebih dari satu milenium hingga tahun 1868. Kini, Kyoto lebih dikenal sebagai ‘The Capital of Kyoto’ atau Kyoto Prefecture.Ryokan

best4 adalah penginapan tradisional rakyat Jepang. Rumah-rumah tinggal atau yang disebut ‘Machiya‘ ini kerap disewakan kepada wisatawan untuk memberikan pengalaman budaya dan gaya hidup ala Jepang,

Saya menginap di sebuah ryokan bernama Kaikoan di daerah Sakyo, jantung kota Kyoto yang hanya berjarak 20 menit berkendara dari stasiun kereta Kyoto. Pemiliknya adalah seorang Ibu paruh baya bernama Sumiko Wasio. Menurut Ibu Sumiko banyak wisatawan, peneliti, mahasiswa dan pengusaha yang datang di Kyoto menginap di rumah-rumah penduduk karena ingin merasakan atmosfir dan gaya hidup Kyoto. Ini sangat dihargai oleh pemerintah, termasuk Ibu Sumiko sebagai salah satu upaya pelestarian kultur dan budaya Jepang. Sejak puluhan tahun yang lalu, keluarga Ibu Sumiko sudah menyewakan rumah tinggal keluarga mereka untuk jangka waktu yang lama, hingga akhirnya menjadi penginapan tetap bagi para turis yang datang dari belahan dunia, seperti Inggris, Amerika, Eropa dan Cina, dan saya satu-satunya orang Indonesia yang pernah menginap di penginapan milik Ibu Sumiko!🙂

GION

DSC_0485Lokasi penginapan saya ternyata dekat dari distrik Gion, daerah populer di pusat wisata Kyoto. Gion dibangun untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan yang berkunjung ke kuil Yasaka (Yasakan Shrine) yang dikenal sebagai kuil Gion, salah satu kuil paling terkenal di Kyoto. Ada ratusan lentera di kuil ini, yang menyala di malam hari, sangat cantik.

Disekitar Gion, terdapat toko-toko, restoran dan deretan Ochaya atau rumah teh. Daerah yang paling populer adalah Hanami-koji Street. Saya suka tempat ini, serasa berada di dalam film-set serial TV ‘Oshin’ jaman dulu. Rumah-rumah Machiya yang khas dengan pintu geser dan lentera kertas berjejer dikanan-kiri koridor jalanan. Kebanyakan Ochaya dan Machiya yang sekarang berubah fungsi menjadi restoran ini menyajikan berbagai jenis makanan lokal dan internasional. Di beberapa Ochaya ekslusif para tamu dihibur oleh maiko dan geiko, sebutan yang dipakai di Gion untuk wanita penghibur dengan keahlian seni dan tari tradisionalnya. Sebagai catatan, para geisha di distrik Gion tidak berkenan disebut sebagai Geisha, melainkan, Geiko (istilah lokal sebagai ‘seorang wanita seni’) atau Maiko (Geiko magang).

Kyoto Imperial Park

DSC_0574Ada ribuan kuil Buddha dan kuil-kuil Shinto di Kyoto yang mewarisi masa lalu Kyoto. Enryaku-ji Temple dan To-ji Temple adalah dua kuil utama yang mewakili tradisi Buddha, sedangkan lima kuil besar lainnya seperti Nanzen-ji Temple, Shokoku-ji Temple, Tenryu-ji Temple, termasuk Golden Pavillion (Kinkakuji) dan Silver Pavilion (Ginkakuji) yang beberapa diantaranya dulu adalah tempat tinggal pemuka dan tokoh Kyoto. Sekarang kuil-kuil tersebut lebih diperuntukan sebagai tempat ibadah. Selain Kiyomizu temple dan Nijo Castle yang menjadi situs UNESCO World Heritage, Kyoto Imperial Palace juga menjadi salah satu dari 17 situs di Kyoto, sekaligus sebagai kandidat dari Tujuh Keajaiban Baru Dunia.

Dahulu, Istana Kerajaan Kyoto adalah kediaman keluarga kaisar sampai tahun 1868. Untuk masuk ke dalam istana, wisatawan diharuskan membuat janji dua jam sebelumnya dengan membawa paspor untuk mendaftar. Istana ini terletak ditengah kota didalam taman kekaisaran dengan luas sepanjang 1300 meter dan lebar 700 meter. Saat ini, Kyoto Imperial Park diperuntukan sebagai tempat rekreasi penduduk lokal dan situs wisata sejarah.

Kuliner

Selaku bekas ibukota Jepang dan lokasi awal istana kekaisaran, Kyoto menawarkan tradisi kuliner yang sangat kaya. Dikawasan kehidupan malam Pontocho adalah salah satu tempat terbaik untuk menemukan restoran makanan Jepang seperti ramen, udon dan sushi. Sedangkan tradisi kuliner Kyoto yang terkenal adalah Kaiseki Ryori, Shojin Ryori dan Yudofu.

DSC_0584Kaiseki adalah hidangan kuliner secara bertahap. Dimulai dengan Shokuzen-shu atau hidangan pembuka berupa segelas kecil anggur manis.   Hidangan berikutnya adalah Suimono, semangkok sup berkaldu ‘Suimono’ dicampur sayur, tahu dan udang. Kemudian Otsukuri atau Sashimi berupa ikan mentah yang diiris tipis dicelup dengan kecap asin dan wasabi. Sebagai makanan utama, saya memulai dengan Nomoro, sayuran dan daging rebus dicampur saus kacang, rasanya manis. Kemudian Yakimono, yaitu Wagyu panggang dan ikan goreng tempura berbumbu garam yang gurih. Hidangan dikukus paling umum di Kyoto adalah Chawanmushi, telur dibumbui dengan kaldu ikan dengan potongan kecil jamur dan ayam. Hidangan sampingan seperti miso sup, nasi dan acar disajikan menjelang akhir makan sebelum makanan penutup. Sebagai pencuci mulut dihidangkan buah segar, permen dan sorbet. Minumannya? sudah pasti, Sake! (minuman alkohol tradisional Jepang).

Onsen

Kurama adalah sebuah kota pedesaan di pegunungan sebelah utara Kyoto, yang dapat ditempuh selama kurang dari satu jam dari pusat kota. Kurama terkenal dengan sumber air panas atau Onsen yang prominen di Kyoto. Onsen diyakini memiliki kekuatan penyembuhan yang berasal dari kandungan mineral airnya. Secara tradisional, pria dan wanita mandi bersama-sama di satu onsen, namun sekarang Onsen komersial kebanyakan dipisah. Ada aturan baku untuk kegiatan Onsen yang harus diperhatikan bagi wisatawan asing. Setelah membayar deposit di kasir, Anda akan mendapatkan kunci loker, handuk dan peralatan mandi. Sebelum mandi Onsen Anda harus melepas semua pakaian, alias telanjang! Pakaian renang tidak diperbolehkan di dalam Onsen di Jepang, kebanyakan Onsen hanya memperbolehkan membawa handuk kecil yang ditujukan untuk membasuh badan saja. Di dalam ruangan Onsen terdapat beberapa bak mandi air panas dan air dingin. Sebelum masuk kedalam bak, badan harus dibilas sebersih mungkin dengan menggunakan sabun dan sikat. Mulailah berendam di bak air panas kemudian ke bak air dingin secara bergantian. Usai Onsen badan Anda akan terasa segar dan rileks.

Shopping

DSC_0576Bagi saya, pengalaman berbelanja di Kyoto yang paling menarik adalah di The Arcade Teramachi, tempat berbelanja souvenir dan barang seni tradisional Jepang yang berlokasi di dekat Imperial Palace. Disini terdapat toko-toko wisata yang menjual barang seni tradisional seperti cinderamata seperti peralatan cangkir, ceret dan aksesoris upacara minum teh, t-shirt, kipas, payung kertas, kertas washi, pedang samurai dan boneka Jepang. Kimono adalah salah satu barang yang paling diminati oleh wisatawan yang datang ke Kyoto. Tempat yang murah untuk Kimono adalah Harajuku Chicago, Teramachi di jalan Karawamachi Dori. Di lantai duanya dijual kimono bekas dan semua aksesoris dengan potongan harga sekitar 10%. Harga untuk Kimono berkisar antara Rp.500.000 sampai Rp. 3 juta.

Di ryokan yang saya inapi juga punya toko tradisional yang sudah berdiri sejak 100 tahun yang lalu, yaitu Kaikoan Shop. Toko tradisional ini awalnya adalah toko beras yang kemudian dirubahnya menjadi toko antik yang menjual berbagai furniture dan barang kuno yang bernilai budaya dan kulur Kyoto. Disini juga tersedia asesoris dan bahan mandi lulur dengan berbahan sari beras yang konon digunakan oleh wanita Jepang untuk memuluskan kulit wajah dan tubuh mereka. Pantesan ya, kulit mereka putih dan mulus seperti porselin.

How to Get To Kyoto:

Kyoto merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di Jepang, tetapi tidak memiliki bandara sendiri. Bandara domestik terdekat adalah Itami Airport, terletak di dekat Osaka. Itami Airport adalah bandara domestik terbesar Kansai itu. Cara termudah untuk sampai ke Kyoto dari Bandara Itami adalah dengan bus limusin. Kereta tercepat dari Tokyo ke Kyoto adalah Nozomi Shinkansen dengan jarak tempuh 2 jam dengan biaya sekitar Rp.1.5 juta sekali jalan.

Where to Go:

Berkunjung ke kota kecil, Nara 30-45 menit berkendara dari Kyoto, sangat direkomendasikan. Di kota ‘para dewa’ ini terdapat banyak tempat-tempat menarik seperti taman, kuil Todai-ji yang merupakan kuil kayu terbesar di dunia yang terdapat patung Buddha setinggi 15 meter di dalamnya.

When to go:

Bulan Maret, April, Mei dan September, Oktober dan November adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Kyoto. April dikenal dengan bunga sakura musim semi dan November dengan pemandangan daun musim gugur.

***

Published in AMICA Indonesia Magazine – April 2013

AMICA_Kyoto