The BIG Easy, New Orleans

Walau keinginan begitu kuat menjadikan New Orleans sebagai tujuan destinasi liburan, terus terang saya merasa khawatir dengan ‘kota hantu’ Louis Amstrong ini. New Orleans bukan menjadi tujuan wisata kebanyakan orang Indonesia, yang lebih memilih kota-kota besar di Amerika seperti Los Angeles, San Francisco, New York bahkan Miami, Florida. Beberapa alasan seperti tingkat kriminal yang cukup tinggi, rute badai tahunan, udara panas dan berbagai alasan lain, membuat banyak orang ragu untuk mengunjungi kota distate Louisiana ini. 

New Orleans (NOLA: New Orleans, Louisiana) adalah kota berpopulasi lebih dari 1.1 juta jiwa pada tahun 2010. Kota ini terkenal dengan arsitektur bergaya Kreol Perancis, kota warisan lintas budaya dan multibahasa, kota kelahiran musik jazz, perayaan tahunan dan festival, terutama Mardi Gras dan tentunya makanan- yang menarik saya berkunjung ke kota peringkat pertama dari 10 kota favorit untuk dikunjungi di Amerika Serikat. [sumber: USA Travel & Leisure Polling – 2009].

Tiba di bandara Louis Armstrong New Orleans saya agak terkejut. Pasalnya, bandara kota yang disebut sebagai kota terunik ini, begitu sederhana, dibandingkan dengan bandara di kota-kota besar umumnya di Amerika Serikat. Saking sederhananya, serasa bandara Ngurah Rai di Bali lebih rumit, apalagi Cengkareng. Begitu keluar bandara saya hanya melihat satu stan taksi di sebelah kiri dan satu bangku panjang di sebelah kanan. Di stan taksi ada seorang perempuan berkulit hitam yang menjadi koordinator antara penumpang dan supir taksi. Saya cukup memberitahukan nama hotel, mengambil brosur dan receipt seharga $28.00 kemudian menyerahkannya kepada supir taksi. Atmosfir rileks langsung terasa, saya suka kota ini. Simple. Easy.

New Orleans juga dikenal dengan sebutan ‘The Big Easy’ atau ‘kota super mudah. Hampir semua orang yang sudah berkunjung ke New Orleans telah mendengar istilah populer ini. Salah satu ide awal tentang asal-usul Big Easy ternyata ada hubungannya dengan warisan musik yang kaya dari New Orleans. Kota ini telah lama menjadi surga bagi musisi jazz dan blues yang menginginkan tempat untuk mengasah keahlian mereka. Konon, ada begitu banyak cara untuk seorang musisi untuk mencari nafkah di New Orleans. Dari tampil di jalan-jalan dan di taman-taman kota sampai di klub-klub malam. Kota ini begitu terbuka dan mendukung seniman musik, makanya istilah Big Easy diciptakan untuk merujuk pada kemudahan.

Melalui jendela taksi, saya melihat bangunan stadium Superdome yang menjadi ikon nasional kota penyelenggara Super Bowl 2013, yaitu pertandingan kejuaraan tahunan sepak bola terbesar di Amerika Serikat. Stadium raksasa yang berganti nama Mercedes-Benz Superdome di tahun 2006 ini, berkapasitas 73 ribu tempat duduk diatas lahan seluas 52 hektar. Saya teringat frase ‘Who Dat?’ yang menjadi bagian dari nyanyian dukungan penggemar ‘Saints’, tim sepak bola New Orleans yang terkenal, sekaligus menjadi teks grafiti di hampir seluruh sudut kota New Orleans.

Efek dari badai Katrina di tahun 2005 di New Orleans, masih bertahan sampai sekarang. Seringnya dilalui badai tahunan dengan kisaran angin dan gelombang pasang siaga-3, seakan menjadikan penduduk kota diatas air ini masih belum bisa melewati trauma tujuh tahun yang lalu. Ketakutan tersebut memang wajar, mengingat badai Katrina yang memporak-porandakan The Cresent City, kota yang terletak di Mississippi River [sungai berbentuk sabit] sungai utama dari sistem sungai terbesar di Amerika, sungai terpanjang keempat dan kesepuluh sungai terbesar di dunia] mengakibatkan 80% kota dilanda banjir dan menewaskan lebih dari 1.800 jiwa. Tak heran, kuburan di New Orleans diluar kebiasaan, karena tanah disini berupa rawa, untuk itu jenasah tidak ditanam, tapi dibuat makam diatas tanah yang berbentuk lemari, agar disaat banjir tulang-belulang tak akan muncul di permukaan tanah, seperti yang terdapat di Saint Louis Cemetery, kuburan tertua di New Orleans.

FRENCH QUARTER

Bourbon Street

Pusat budaya kota New Orleans adalah French Quarter. Semua pertanyaan liburan standard seperti ‘Things to do- where to eat – where to stay’ dengan mudahnya terjwab disini. Lingkungan tertua New Orleans ini seakan melahirkan mantra kepada para penulis dan seniman seperti Mark Twain, Lafcadio Hern dan John James Audubon sejak tahun 1870an. Mulai dari Jackson Square, lokasi koloni seniman terbuka, menganggumi Gallier House yang menjadi permata fusion arsitektur terbaik Vieux Carre, minum bir bourbon asli sambil mendengarkan musik jazz dan blues di Bourbon Street -yang juga menjadi lokasi pesta tahunan Mardi Grass, berbelanja di butik-butik cantik di seputaran French Market, mendengarkan musik tengah malam di klub dan bar lokal di Frenchmen Street atau sekedar menikmati hiruk pikuk para wisatawan berbusana tropis dengan gelas minuman alkohol di tangan. Ini salah satu kemudahan yang saya anggap unik di kota ini.

Hotel Bienville House menjadi pilihan saya untuk menginap, upscale boutique hotel yang menghabiskan jutaan dolar renovasi ini tetap mempertahankan predikatnya sebagai historic hotel sejak tahun 1972. Terletak di Decatour Street yang memudahkan saya kemana-mana. Yang terdekat, hanya sekitar 20 langkah kaki saja, terdapat outlet Mardi Gras yang menjual aksesoris dan perlengkapan pesta terkenal New Orleans, seperti topeng , kalung manik-manik berwarna seru, juga kostum bulu lengkap yang sering dipakai untuk pesta Mardi Gras.

Tak jauh dari sana, terdapat The Royal Sonesta Hotel, salah satu hotel mewah di sudut jalan yang penuh dengan lampu neon ini. Hotel yang dibuka pada tahun 1969 menjadi situs hotel pertama sekaligus tempat pembuatan bir. Gaya arsitektur hotel ini unik dengan eksterior balkon berpagar besi yang dirancang layaknya rumah. Konon, di pesta Mardi Gras, banyak perempuan yang topless diatas balkon yang terekspos kesetiap sudut jalan Bourbon. New Orleans juga terkenal sebagai kota Gay Friendly kedua setelah San Francisco dan Charleston, South Carolina.

Café Du Monde’s Latte & Beignet

Jejeran restoran tersebar di jalan Rampat yang menghidangkan makanan khas, Gumbo [sup udang, sayuran dan nasi] dan udang bumbu Cajun, yakni campuran dari bumbu pedas-asam asal Perancis dan Karibia. Di perempatan French Market, terdapat kedai kopi asli ‘Cafe Du Monde’ yang terkenal dengan Latte dan donut panas ‘Beignets’, yangbuka 24 jam dan selalu antri! Seperti kata supir taksi, “Kamu belum pernah ke New Orleans kalau belum mencoba Latte dan Beignets kami di kedai kopi itu”🙂

HAUNTED HISTORY TOUR

Begitu banyak akftifitas yang dapat dilakukan di New Orleans; The Backstreet Cultural Museum, Blaine Kern’s Mardi Gras World, kapal uap otentik Calliope, St Louis Cathedral, Pelestarian Hall, Memorial Hall, Audubon Park, Kebun Binatang Audubon, Aquarium of the Americas, dan Audubon Insectarium, Longue Vue House and Gardens dan taman Botani New Orleans, termasuk Cemetery Tour.

Namun, ada satu aktifitas yang saya anggap unik di kota berjulukan “City of the Dead” atau ‘kota orang mati’ini. Selain Kuburan menjadi salah satu objek wisata, banyak juga tur wisata bertajuk ‘Hantu’ di kota bereputasi ‘Kota Paling Berhantu di Amerika”. Beragam pilihan tur berjudul seperti Bloody Mary Tours, tur ekspedisi Ghost, Witches Brew Tour, Magic & Mystic Tour, Voodoo Tour dan Vampire Tour.

Konon, di kota inilah drakula Madam Lalurie berada dan begitu banyak kejadian yang menantang para ahli supernatural untuk menyangkal keberadaannya. Saya bersama 12 orang lainnya mencoba tur seharga $25 selama 2 jam ini pada jam 9 malam. Kami diantar ke lokasi kejadian berhantu, seperti tempat pembunuhan, cerita bunuh diri, rumah tua yang mengalami kebakaran dan beberapa tempat terjadinya peristiwa kecelakaan dan kematian aneh akibat voodoo. Voodoo di New Orleans sendiri adalah praktek budaya, bahasa dan agama yang berakar pada semangat dan pemujaan leluhur, yang berasal dari tradisi diaspora Afrika. Voodoo dibawa ke koloni Louisiana-Perancis dari Afrika melalui budak buangan dari Haiti. Pengetahuan mereka tentang herbal, racun, dan penciptaan ritual mantra dan jimat, dimaksudkan untuk melindungi diri sendiri ataupun merugikan orang lain. Konon, banyak korban praktek Voodoo yang menjadi cerita legenda dalam agenda tur wisata yang banyak diminati ini.

Di sebuah ruangan kosong, pemandu menyilakan kami untuk mengambil 4 kali jepretan foto untuk masing-masing peserta tur. Kemudian, hasil foto kami diperiksa satu-persatu oleh nya. Di salah satu foto saya dia berhenti dan mengamati agak lama, kemudian berbisik, “Dia ada di foto ini”. Saya melihat kembali ke kamera, tapi tidak melihat apa-apa. Sekembali saya ke Jakarta, tanpa sengaja saya melihat foto tersebut di layar komputer yang lebih besar. Hmm, mungkin pemandu itu benar, mungkin ada sesuatu di foto itu. Mungkin🙂

***

ACOMMODATION

Bienville House Hotel

Bienville House Hotel adalah hotel terdekat di French Quarter ke Saks Fifth Avenue, Aquarium of the Americas, Taman Woldenberg, Entergy IMAX Theater, House of Blues, Cafe Du Monde dan Jackson Square. Lokasi yang strategis memudahkan Anda untuk mencapai tempat strategis seperti toko-toko antik di Royal Street, Bourbon Street, klub jazz, restoran, bangunan bersejarah, museum dan sungai Mississippi.

Banyak tamu yang sudah pernah Bienville House merasa bahwa mereka sedang mengunjungi situs sejarah berusia ratusan tahun. Sebuah hotel butik kelas atas bergaya kuartal Perancis yang elegan dengan akomodasi dan fasilitas mewah. Interior kamar bergaya Eropa serta fasilitas kamar yang lengkap, termasuk akses internet, satelit TV, pemutar ipod termasuk koran pagi gratis.

Bienville House Hotel: 320 Decatur Street New Orleans, Louisiana 70130 | Telepon 504.529.2345, www.bienvillehouse.com

Royal Sonesta Hotel

Sering disebut sebagai “Permata French Quarter’, hotel Royal Sonesta New Orleans memberikan pilihan kemewahan dengan 483 kamar tamu dan suite yang indah. Hotel ini menawarkan kenyamanan dan fasilitas otentik dengan halaman tropis dan kolam renang diluar ruangan. Berlokasi di tengah area French Quarter di Bourbon Street.

Hotel ini juga dilengkapi dengan tiga restoran yang terkenal, yaitu Desire Bistro & Oyster Bar, yang melayani makanan tradisional favorit New Orleans seperti Jambalaya, kacang merah dan beras, dan daging sapi panggang Po-Boy Sandwich. Cafe Coffee PJ menawarkan berbagai minuman kopi khusus diseduh dan Restoran R’Evolution, sebuah kolaborasi dari pemenang penghargaan koki John Folse dan Rick Tramonto, dengan imajinatif klasik makanan berbumbu Cajun dan masakan Creole

300 Bourbon Street, New Orleans, LA 70130 USA, Tel 504.586.0300, http://www.sonesta.com.

 Published in

‘The Big Easy’ – ELLE Indonesia, March 2013

ELLE3

‘More Than Crawdads’ – Venture Travel Magazine, Feb/Mar 2013

Desktop4

‘Kota Beragam Julukan’ – JAX JAKARTA, November 2012

Jax Jakarta - Nov 2012
Jax Jakarta – Nov 2012

2 Comments

  1. aytheblackrabbit says:

    halo kak ^^ izin copas artikelnya ya, yang bagian awal sampe ‘HAUNTED HISTORY TOUR’ aja. ga semua kok, buat bahan fanfictionku hehe. tenang nanti aku cantumin sumbernya. artikelnya menarik, kaka langsung kesana ya? wah😀 anyway thanks, udah dibolehin mampir. salam kenal😄

    1. post says:

      it’s ok go ahead

Comments are closed.