VISIT IND1SIA: Raja Ampat

[DRAFT] Raja Ampat adalah lokasi wisata impian saya, yang tertunda bertahun tahun lamanya. Bukan hanya karena Raja Ampat -bisa jadi- sebagai lokasi penyelaman terbaik di dunia, namun juga sebagai orang Indonesia kok ya saya merasa malu sering didahului oleh wisatawan asing dan ditanyai, “Have you been to Raja Ampat?”, jawaban saya selalu ‘belum’. Karenanya, sewaktu diajak teman untuk mengadakan perjalanan LOB (Live On Board) ke Raja Ampat, saya langsung setuju.

Perjalanan ini kami rencanakan setahun sebelumnya, mengingat biaya yang cukup mahal dan jumlah  yang harus mencapai 14 orang. Agar kami bisa menyewa kapal pribadi, saya mengajak empat teman lainnya; Fanly, Hendra, Michel dan Duta ikut bersama 9 teman lainnya. Total ada 11 divers dan 3 snorkelers. Perjalanan selama 7 hari  kami ini dimulai dari tanggal 27Desember dan berakhir tgl 2 Januari 2012.Penerbangan yang tidak sejauh perkiraan saya sebelumnya, ternyata dapat dicapai total hanya dalam waktu kurang lebih lima jam dari Jakarta (tidak termasuk transit), 2 jam dari Manado atau Makassar. Dengan pesawat baling-baling yang terbang rendah kami dapat melihat pemandangan spektakuler kepulauan Raja Ampat, persis sama dengan gambar yang ada di brosur maupun Internet. Fantastis. Tiba di bandara Sorong, rombongan kami sedikit terkejut dengan sistim pengambilan bagasi. Kami tidak perlu mengantri untuk mengambil bagasi yang keluar dari sebuah jendel sederhana yang berfungsi sebagai bagage belt claim. Ada beberapa petugas yang mengecek semua bagasi dan meneriakkan nama pemiliknya dari daftar, kemudian dicocokkan dengan nomor bagasi. Simple.

Hotel Je-Meridien, tempat kami bermalam cukup bersih dengan fasilitas lengkap termasuk wifi di lobi. Di Sorong banyak nama-nama yang diplesetin, selain nama-nama hotel seperti Le-Meridien menjadi Je-Meridien, Marriot menjadi Mariat, juga supermarket Sogo menjadi Saga. Lucu.

Keesokan harinya, kami menuju pelabuhan yang berjarak 15 menit dari hotel, dimana kapal kami sudah menunggu. Kapal Phinisi yang akan kami tumpangi ini cukup besar, ber-dek tiga dengan ukuran kapal sepanjang 33 meter dan berkapasitas 24 penumpang. Terdapat 5 kamar tidur di basement untuk 10 orang. dua kamar tidur lagi ada di lantai tiga berikut deck leha-leha dan kursi-kursi untuk bermalas-malasan. Di lantai dua terdapat ruang makan dan dapur, sedangkan kamar tidur crew berada di bagian belakang dengan dilengkapi balkon, bagi yang ingin sun bathing ada dek terbuka dibagian atas kapal. Sebelum kapal bertolak ke lautan, kami berkumpul di ruang makan mendengarkan Pak Joni yang menjadi jubir perjalanan kami memperkenalkan crew kapal yang berjumlah 10 orang. Selain Pak Kapten, ada dua dive master, tukang listrik, housekeeping, petugas perahu karet dan juru masak. Dijelaskan juga jadwal diving, jam makan dan peraturan kapal lainnya. All aboard.

Splash!

Hari pertama menyelam, kami diharuskan melakukan check diving untuk menentukan pembagian grup diving selama 6 hari ke depan. Kami pun bersiap melakukan penyelaman di lokasi selam yang sudah ditentukan. Begitu turun, saya sempat panik karena tak bisa equalizing! Baru tiga meter di bawah permukaan air, telinga tidak bisa mengeluarkan udara meski hidung sudah dipencet berkali kali. Beberapa hari sebelum berangkat, saya sempat sakit flu ditambah penyakit sinus membuat hidung tersumbat ingus. Ouch, kepala dan kuping langsung terasa sakit. Tak mau memaksa sayapun naik ke surface. Menyelam pertama saya gagal😦

Kegiatan diatas kapal cukup bervariasi, tersedia fasilitas dvd player untuk nonton film sehabis makan malam dan berderet buku di rak untuk dipinjam. Disediakan pula soundsystem yang digunakan untuk memutar lagu dari iPad dan iPod. Meja charger lengkap dengan colokan yang bisa dipakai setiap saat untuk alat-alat elektronik. Mata saya langsung tertuju di sebuah kulkas yang memajang berbagai macam minuman kaleng, termasuk bir. Namun, dikarenakan peraturan menyelam tidak memperbolehkan minum minuman beralkohol sebelum menyelam, sayapun mengurungkan niat dan menundanya sampai besok setelah menyelam saja.

Pagi jam 7:30 lonceng berbunyi, pertanda waktunya menyelam. Dengan semangat tinggi ala militer, Pak Joni memeberikan briefing mengenai lokasi selam kedua. Kedalaman, arus, highlight yang dapat dilihat dan sebagainya. Sayapun bersiap mengikuti grup saya menuju laut lepas dengan speed boat. Lokasi penyelaman berada disamping pulau kecil dengan air biru berwarna lebih terang, dibanding warna air lautan disekitarnya. Dari atas perahu karet, kami melakukan back roll dan saya segera melakukan deflate sambil turun perlahan dari permukaan. Satu meter tidak masalah, dua meter ok, sampai dimeter ke lima, kembali telinga tidak mau pop up. Saya tahan sebentar, coba equalize lagi, tak berubah, saya inflate naik satu meter keatas, tetap tak ada reaksi. Naik ke atas lagi, masih sama. Sampai saya memutuskan kembali ke kapal, telinga saya masih bermasalah. Kedua kalinya, saya gagal selam:( Saya hanya bisa sirik saat rombongan yang lain saling bercerita tentang pengalaman menyelam mereka di hari kedua. Ada ikan ina-itu sambil memperlihatkan foto-foto underwater mereka, saya hanya bisa bilang ‘nice‘. Saya putuskan untuk istirahat dihari kedua, minum obat dan tidur cepat malam itu, dengan harapan saya bisa menyelam keesokan harinya.

Cuaca mendung dengan hujan rintik menyambut kami di hari ketiga. Walaupun kondisi tidak begitu bersahabat namun tidak mengurungkan niat kami untuk melakukan penyelaman hari itu. Kali ini Pak Joni ‘menjual’ lokasi selam dengan Wobegong atau carpet shark. Mitchel menjadi buddy saya kali ini dengan sabar menunggu saya melakukan equalizing di kedalaman 3 meter. Tak berhasil, saya mengajak Mitchel dengan bahasa isyarat untuk naik ke permukaan. Saya minta Mitchel bersabar menunggu telinga saya pop up dulu, kemudian kita mencoba turun lagi. Beberapa saat deflating terdengar telinga saya berbunyi ngiiiiing…. Sakit lagi. F**k! Akhirnya saya kembali naik ke kapal. Saya tak mau mengambil resiko sampai telinga berdarah dan gendang telinga pecah. Menyerah saja.

F**k Diving, Go Drinking!

Tak terungkap betapa kesal dan marahnya saya dengan kondisi seperti itu. Mungkin teman-teman tak bakal bercanda kalau tahu betapa upsetnya saya yang bisa tertawa membalas ledekan mereka sambil mengusap dada, padahal ingin rasanya saya menyembelih dan menjadikan mereka sashimi hidup-hidup. Goshdarnshit!

Untungnya Esti menyabarkan dan mengajak saya melihat dari perspektif yang berbeda. Satu kata-kata penghiburan dari dia yang membuat saya tak jadi bunuh diri *lebay* lompat ke laut saat itu adalah; “Look at where you are, you are in the middle of paradise. You can still enjoy your holiday and this is not going to be the end of the world!”. Saya setuju dan mulai melihat dari sisi yang berbeda, walaupun masih in-denial, saya mencari pembenaran. ‘Aah, menyelam di Raja Ampat saat ini tidak seperti ekspektasi saya, anyway’. Visibility tidak sejernih di Bunaken, toh saya sudah pernah melihat hiu, Napoleon, Baracuda, Lion fish, apalagi si ikan transparan Barreleye fish. Tiga hari mereka menyelam bolak balik ngga tuh ada Hammer head. Wek!.

Ditambah cuaca yang kebanyakan hujan, awan mendung dan hanya sesekali muncul matahari [akibat badai dan angin selatan dari Philippines] ironisnya membuat saya sedikit terhibur. This is not my time, there always be next time, saya terus menghibur diri. Malam itu, saya memutuskan minum bir tiga kaleng! Glek, saya tidur dengan pulas.

Hari kelima pilek masih menyumbat hidung saya. Tak ada harapan lagi dan tidak mau merepotkan buddy, saya memutuskan untuk tidak lagi untuk menyelam. Saya cukup enjoy dengan menikmati sun bathing sambil minum bir. Yup, beer. Disini ada dua pilihan yang kontradiktif untuk saya, no diving atau minum bir dan minum bir tapi tidak boleh menyelam, pilih mana? I deserve to enjoy one or the other, jadi, saya memilih minum bir saja dan lupakan diving. Di daftar konsumsi bir terbanyak adalah nama saya. Woohoo!

Paradiso!

Terbangun di pagi hari keenam dengan suara teriakan Perucha, “Woooooow…. keren sekaleee…!”. Saya segera meloncat dari tempat tidur dan berlari keluar pintu kamar. Pemandangan terpampang di depan mata pegunungan dan bukti berlapis bagai ombak. Saya teringat pemandangan yang sama di Halong Bay, Vietnam. Kapal kami berada diantara lagoon dengan warna air hijau biru jernih bergradasi. So beautiful!

Halong Bay, Vietnam
Halong Bay, Vietnam

Sehabis sarapan, kami diajak hiking oleh Pak Joni. Tujuan kami adalah bukit tertinggi yang ditempuh selama 25 menit dari bibir pantai Wayag island. Bukit berbatu tajam dengan kemiringan hampir 45 derajat ini, kami daki sambil bercanda sampai puncaknya. Di tempat ini adalah view point yang biasa dipakai para fotografer untuk mengabadikan pemandangan indah Raja Ampat. Tak percuma kami mengarungi laut samudra selama 10 jam dari lokasi selam terakhir untuk menikmati pemandangan alam yang menakjubkan ini! Acara selanjutnya adalah ekplorasi Lagoon dengan menggunakan perahu karet selama 30 menit mengelilingi atol dan masuk keluar pulau-pulau kecil yang seakan tak ada habisnya. Serasa sedang berada di Hutan Amazon,namun dengan air teluk yang tenang dan jernih bagai kristal. Mantap.

Manta – Dementor – Blackbird

Sore hari, saya bersama Hendra dan Duta menikmati snorkeling di lokasi pusat Manta. Kami melihat lengkap tujuh Manta Rays sama halnya yang dilihat para penyelam. Sempat pula tiga ekor manta hitam bersayap berukuran lima meter itu menghampiri kami, tiba-tiba saja saya merasa didatangi oleh Dementor seperti dalam film Harry Potter!:) Di atas perahu karet pun sekali lagi kami dihampiri Manta dengan jarak begitu dekatnya, dilihat dari atas Manta tersebut seperti bentuk pesawat spy Blackbird milik Amerika Serikat. Tepat dipinggir perahu kami, si Manta menepuk kedua ujung sayapnya. Ha! Saya loncat saking kaget. Wooosh!

Kegiatan diatas kapal selain menyelam cukup banyak untuk dinikmati. Subuh sambil menunggu matahari terbit saya menemani Duta memancing. Kegiatan yang awalnya menurut saya membosankan ini ternyata cukup menyenangkan. Saya melihat begitu banyak ikan berenang disekitar kapal. Beberapa kali gerombolan baby barracuda seliweran melewati umpan cumi pancingan kami, termasuk ular. Saat makan adalah sesuatu yang paling kami tunggu-tunggu. Menu makanan dari Bu Surya, Chef kapal kami cukup enak dengan variasi menu yang berbeda setiap harinya. Sup jagung dan sayur, udang, cumi, ikan, daging ayam dan sapi, perkedel, kornet, sosis sampai nasi kuning lengkap dengan asupan kue bolu, pisang goreng sampai french fries. Siang hari selain snorkeling dan berenang saya sempatkan membaca buku dan foto landskap. Sempat pula melihat tiga ekor ikan lumba-lumba muncul di permukaan air. So cute.

Tak terasa kami tiba dipenghujung tahun. Para crew mendekorasi kapal kami dengan begitu meriah demi menyambut malam tahun baru. Ada lampu kerlap kerlip, meja penuh dengan minuman dan musik joget. Kami menyambut counting down dengan kembang api dan bunyi klakson kapal; 10,9,8,7,6,5,4,3,2,1 …..Happy New Year! Peluk-pelukan.:)

***

Published in Venture Indonesia Magazine (Aug/Sep 2012)

Venture Indonesia [Aug/Sep 2012]

2 Comments

  1. yosep says:

    bro bisa tau ga kira” brp perincian budget nya ?
    tq

    1. nezdn says:

      Total lob sekitar 13jt, untuk perinciannya bisa menghubungi bwardoyo@gmail.com

Comments are closed.