Perjalanan Bebek & Salmon di SEATTLE

Mengutip Renee Bergere, penulis Lonely Planet yang mengatakan bahwa, ‘Sebagai Seattlerian, saya memberitahu anda bahwa di Seattle memang benar sering hujan, but who cares? Anda berada di ‘coffee city’ paling indah dan kota kaya budaya di Amerika Serikat. Jadi, ambil payung anda dan ikuti perjalanan tur 24-jam di kota Emerald ini. Berbekal jaket hujan, payung dan kopi, saya nikmati liburan transit selama dua hari di kota hujan ini.  

Seattle adalah kota terbesar di Pacific Northwest dan negara bagian Washington di bagian utara Amerika Serikat dan selatan Kanada. Dengan populasi sebanyak 3,4 juta orang, Seattle merupakan pusat ekonomi, budaya dan pendidikan di wilayah ini, juga sebagai gerbang utama perdagangan dengan Asia dan pelayaran ke Alaska, melalui pelabuhan terbesar ke-8 di Amerika Serikat.Seattle terkenal dengan sebutan ‘Queen City’ atau kota ratu masa depan di Pacific, ‘Emerald City’ sebagai julukan referensi hutan cemaranya yang subur, ‘Jet City’ dengan pabrik pesawat Boeing dan ‘Tech City‘ karena Seattle adalah basis markas perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Amazon.com, RealNetworks, AT&T dan T-Mobile. Selain itu Seattle juga terkenal sebagai kota kelahiran legenda rock Jimi Hendrix, grup musik Nirvana dan Pearl Jam, juga adalah lokasi pertama didirikannya kopi terbaik di Seattle yaitu Starbucks.

Waktu menunjukkan pukul 8 malam saat saya tiba di bandara internasional Tacoma Seattle. Disambut udara yang cukup dingin di bulan September serta rintik hujan yang khas mengguyur kota, tiba-tiba kok ya saya merasa gloomy. Mungkin terbawa cerita di film ‘Sleepless in Seattle‘ yang memang menggambarkan suasana hati Sam yang diperankan oleh Tom Hanks sebagai duda yang sedang berduka, menjadikan kota hujan ini terasa kelam dan murung. Untungnya, Marla sahabat yang menjemput saya membawakan saya jaket hangat dan secangkir caramel latte hangat. Saya tanya, “Malam-malam minum kopi?”, Marla menjawab, “Welcome to Seattle, the sleepless and the coffee city.”

Dalam perjalanan dari bandara menuju ke rumah Marla kami benar-benar ‘diguyur hujan’. Dari dalam mobil saya bisa merasakan hawa dingin dari luar menembus kaca yang berembun. Pemandangan yang terlihat dari balik curahan rintik hujan tidak begitu jelas selain jalanan basah dan gedung-gedung berwarna gelap dari kejauhan. Dengan 65% curah hujan selama 9 bulan dalam setahun, penduduk kota Seattle hanya bisa menikmati hari cerah tanpa hujan dalam waktu tiga bulan saja yaitu Juni, Juli dan Agustus, selebihnya hujan terus! 

Kebanyakan rumah di Seattle terbuat dari kayu dan berplafon rendah, termasuk rumah Marla. Bangunan perumahan seperti ini sengaja didesain seperti ini sebagai antisipasi udara yang dingin. Marla menerangkan bahwa di setiap rumah kebanyakan mempunyai fasilitas jacuzi yang memang digunakan untuk berendam untuk membunuh rasa dingin. Malam itu, saya mencoba berendam di outdoor jacuzzi air panas dengan udara menggigil dengan cangkir kedua kopi yang hangat. Nyaman.

PERJALANAN BEBEK

Berhubung waktu liburan saya yang terbatas, Marla merekomendasikan untuk keliling kota dengan ‘Duck Ride’ semacam bis wisata berbentuk kapal. Uniknya, atraksi turis ‘Ride the Duck of Seattle’ yang ditawarkan oleh perusahaan swasta lokal bernama Herschend Entertainment Corporation ini berkonsep amfibi yaitu kendaraan yang dapat berjalan di darat sekaligus di air. Dengan biaya US$ 28 (Rp.250.000), saya tidak perlu repot naik turun bis atau taxi untuk menikmati 8 dari 10 tempat yang harus dikunjungi di Seattle.

Jam 9 pagi kami sudah menunggu di 400 Broad Street yang menjadi lokasi pertemuan yang berseberangan dengan Space Needle, simbol kota Seattle. Space Needle merupakan menara yang dibangun pada tahun 1962 setinggi lebih dari 600 meter. Desain arsitektur yang merupai balon raksasa dengan piring terbang ini memiliki dek viewpoint diatas menara dengan suguhan pemandangan 360 derajat kesetiap penjuru kota, langit, gunung dan pulau-pulau di sekitar kota Seattle. Di menara ini juga terdapat restoran SkyCity yang berputar pada ketinggian 500 kaki. Sangat indah!

Perjalanan bebek kami dimulai pada jam 9:30 pagi dan berlangsung selama 90 menit. Bis wisata berkapasitas 36 orang sengaja dibuat tanpa jendela sehingga semua penumpang dapat leluasa melihat sudut kota selama perjalanan. Untungnya pagi itu, tidak turun hujan. Kami disambut dengan ucapan selamat datang dari seorang supir merangkap pemandu sekaligus ‘kapten’ yang energik dan lucu!. Sang Kapten memberikan informasi ramalan cuaca yang akan hujan dalam waktu 3 jam mendatang, jadi kemungkinan besar kami bisa menikmati wisata ini tanpa hujan. Yay!. Sang kapten juga bercerita mengenai sejarah dan dongeng rakyat lokal diselipi lelucon dan komedi. Sesekali dia menari dan menyanyi lewat mikrofonnya, diiringi musik funky dan suara ‘quack‘ (suara bebek ‘kwek…kweek’) yang kemudian dibalas oleh para penumpang, ini membuat petualangan wisata kami menjadi tambah seru.

Perhentian pertama adalah Pike Market Place. Pasar tradisional yang terbuka ini adalah lokasi populer bagi wisatawan. Dibangun pada tahun 1907, Pike Market menjual bermacam produk pertanian segar, seperti sayuran, ikan segar, karangan bunga yang cantik, berbagai makanan juga kerajinan buatan lokal. Di bagian dalam pasar terdapat underground shops yang menjual berbagai perhiasan dan asesoris pesta. Sedangkan di bagian luar pasar, banyak terlihat kafe dan restoran dengan pertunjukan artis jalanan di setiap ujung jalan.

Di sini juga, kami mengunjungi kedai kopi Starbucks yang pertama. Bangunan tua yang sengaja dijaga keasliannya ini tidak begitu besar seperti layaknya kedai Starbucks yang ada di Jakarta. Terlihat antrian yang lumayan panjang sampai ke luar kedai saat saya ingin membeli secangkir kopi dari kedai ‘bersejarah’ ini. Lucunya, saya melihat bungkusan kopi berlabel ‘Kopi Sumatera’ di kedai ini. Hmm, jauh-jauh sampai ke Seattle hanya untuk menikmati kopi asal negara sendiri.:)

Perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang tidak begitu jauh dari pasar, yaitu Pioneer Square. Sudut kota Seattle yang tertua ini sekarang menjadi distrik bersejarah. Di alun alun kota kelahiran grup musik ‘Skid Row’ ini terdapat dua puluh bangunan bersejarah, lebih dari tiga puluh galeri, ritel barang antik dan buku juga menjadi pusat kehidupan malam kota Seattle. Di sini pula terdapat Smith Tower dan taman nasional Klondike Gold Rush National Historic.

Hari sudah agak siang saat kami berangkat ke tujuan berikutnya yakni Seattle Waterfront. Di sini terdapat pelabuhan Seattle, taman dengan Patung Olympic Park dan Myrtle Edwards. Dengan pemandangan Puget Sound, pusat kota Seattle dan pegunungan Olimpiade membuat lokasi ini menjadi favorit warga Seattle untuk berisitrahat, joging, bersepeda atau hanya sekedar duduk-duduk menikmati pemandangan yang ada. Kami beristirahat untuk makan siang di Myrtle Edwards Park yang menyediakan meja piknik dan bangku-bangku panjang.

Sehabis makan siang, kami melanjutkan ‘perjalanan bebek’ menuju distrik Fremont, dengan melewati salah satu stadion terbaik Seattle yaitu Safeco Field. Stadiumbaseball beratap yang bisa dibuka ini merupakan rumah dari Seattle Mariners Major League Baseball (MLB). Sayangnya, hujan tiba-tiba turun cukup deras sehingga kami batal mengintip stadion yang memiliki kapasitas 47.878 tempat duduk ini. Kami pun melanjutkan ke salah satu objek wisata di distrik Fremont yaitu patung perunggu “Fremont Troll” setinggi 5,5 meter yang seakan bersembunyi di bawah Jembatan Aurora. Patung ini juga menjadi panduan untuk lokasi Rocket Fremont, sebuah pesawat roket tua berasal dari Perang Dunia II.

Tanpa terasa perjalanan darat kami sudah berlangsung sejam, tiba-tiba bis wisata kami berjalan lurus ke arah air, dan …. splash! Bis berubah menjadi kapal dan berjalan mulus di atas air Union LakeKota Seattle diapit oleh dua danau yaitu Union Lake dan Washington Lake. Danau Union sendiri terletak diantara danau Washington dan Puget Sound di utara pusat kota Seattle. Di daerah ini terdapat berbagai macam kegiatan olah raga, seperti memancing, berlayar, parasailing dan olah raga air lainnya. Banyak terlihat kapal pesiar yang di parkir di setiap rumah, karenanya danau Union dan Washington terkenal sebagai daerah tempat tinggal golongan atas. Di salah kompleks perumahan mewah yang ada di daerah ini terdapat rumah lama Bill Gates, boss Microsoft ,lengkap dengan pasir buatan di sekelilingnya.

Wisata mengunjungi house boat atau floating home adalah tujuan utama perjalanan bebek kami di Union Lake. Dari kejauhan, saya sibuk mencari yang mana rumah apung yang menjadi rumah si Sam dalam film ‘Sleepless in Seattle’. Sayangnya, tak ada satupun yang tahu, sang Kapten hanya mengarahkan telunjuknya ke sisi kanan kapal dengan komentar seadanya, “Di sebelah sana, salah satu dari rumah-rumah apung itu.” Ah, jadi tambah penasaran saja.

Perjalanan ‘Duck Ride’ kami berakhir dengan pembagian oleh-oleh berupa noisemakers quacker (sempritan berbentuk bebek) yang lucu plus sertifikat ‘Naik Bebek’ dengan slogan ‘Anda belum melihat Seattle sampai Anda melihatnya dari ‘seekor bebek’. Suatu perjalanan wisata keliling kota yang berbeda dengan city tour biasanya, menjadikan liburan hari pertama saya di Seattle tidak hanya efektif namun juga seru dan fun!

PERJALANAN SALMON

Ada satu cerita menarik yang saya alami di hari kedua di Seattle. Marla mengajak saya ke salah satu situs terkenal yaitu Ballard Lock atau yang resmi dikenal sebagai kunci Hiram M. Chittenden. Diambil dari nama seorang Insinyur berpangkat Mayor Angkatan Darat di tahun 1900an, situs berupa bendungan ini adalah sistem pengaturan air dari Teluk Salmon dan Danau Washington. Sistem ‘kunci’ yang cukup kompleks yang bertujuan untuk mempertahankan tingkat air tawar danau dan untuk mencegah pencampuran air laut dari Puget Sound, sekaligus memindahkan kapal dari permukaan air danau ke air laut, dan sebaliknya. Juga, sebagai sistem pengaturan lalu lintas ikan-ikan Salmon!

Ballard Lock juga merupakan salah satu atraksi penting dan populer di Seattle selama musim panas karena menjadi musim perjalanan kembalinya ikan Salmon dan steelhead menuju hulu untuk bertelur. Bulan-bulan tersebut adalah Juni, Juli untuk ikan Salmon jenis Sockeye, bulan September dan Oktober untuk Chinook dan Coho dan bulan November dan Desember untuk Steelhead.

Kehidupan ikan Salmon bermula saat ditelurkan di hulu sungai, kemudian ikan-ikan tersebut akan berenang dan berpindah ke laut untuk menghabiskan sebagian besar kehidupan dewasa mereka. Uniknya, setelah bertahun-tahun lamanya di lautan, ikan-ikan Salmon ini akan kembali ke hulu sungai, dimana menjadi tempat awal mereka ditelurkan, seberapa jauh mereka ke lautan pasti akan kembali ke lokasi yang sama, untuk bertelur dan mati. Perjalanan yang ajaib dan mengaggumkan!

Pemerintah kota membuat peraturan untuk pembangunan kota harus tetap memperhatikan kelestarian ikan-ikan Salmon ini dengan menyediakan ‘jalan’ bagi ikan-ikan Salmon agar mereka dapat berenang kembali ke tempat asalnya. Makanya, di Ballard Locks terdapat saluran dan tangga-tangga khusus untuk ikan-ikan Salmon. Tidak hanya itu, ikan-ikan Salmon saat ini merupakan ikan langka yang akan menjadi punah bila tidak diperhatikan oleh manusia. Sebagian besar telur-telur ikan Salmon mati percuma akibat begitu banyak pencemaran air laut dan polusi udara. Untuk itu, pada bulan-bulan sebelum penetasan telur, pemerintah kota Seattle menerapkan larangan dan himbauan kepada warganya untuk tidak mencemari air sungai di daerah pemukiman yang mungkin menjadi hulu sungai kembalinya ikan-ikan Salmon dewasa dari laut untuk bertelur. Tindakan pencegahan tersebut berupa larangan mencuci mobil di rumah, atau membuang sampah dan air kotor ke sungai sampai larangan pembangunan jalan atau perumahan yang tidak ‘sadar lingkungan’, terutama untuk kelestarian ikan-ikan Salmon di setiap sudut sungai yang ada di kota Seattle.

Hari sudah menjelang sore saat kami meninggalkan Ballard Lock. Marla mengajak saya untuk menghabiskan hari terakhir saya dengan menikmati pemandangan sunset di Alki Beach. Pantai yang terkenal di kota Seattle ini terdapat di bagian barat dari pusat kota yang menjorok ke teluk Elliot. Walau rintik hujan terus turun, sebagian besar pemandangan dari pantai berpasir halus ini masih menampakan lanskap kota Seattle terbingkai dan cantik. Lokasi yang indah untuk menikamti semburat merah sore hari di akhir liburan pendek saya di Seattle. Layaknya ikan-ikan Salmon tadi, ingin rasanya saya untuk kembali ke kota hujan yang romantis dan mengesankan ini.

***

Shopping:

Pusat perbelanjaan tersebar dimana-mana di kota Seattle seperti di Pike Place, Pioneer Square, Fremont, Distrik Internasional atau District Universitas. Hampir di setiap blok anda bisa temukan toko dan butik dengan nama-nama besar seperti Urban Outfitters, Nordstrom dan Gap. Pusat perbelanjaan seperti Westlake Center Plaza, Pacific Place, University Village dan Northgate Mall adalah termasuk mal besar di Seattle. Selain itu juga tersedia premium outlets yang menjual barang-barang branded koleksi terbaru.

Tips:

  • Waktu terbaik untuk mengunjungi Seattle adalah di bulan Mei sampai Oktober.

  • Alat transportasi umum untuk berwisata di Seattle adalah dengan kapal feri, kereta monorail dan taksi.

  • Parkir mobil pribadi cukup report di pusat kota Seattle, sangat disarankan untuk berjalan kaki karena lokasi yang cukup dekat untuk beberapa tempat wisata populer di Seattle seperti Spice Needle, Pike Market Place dan Pioneer Square.

  • Makan di meja bar adalah lebih murah dibandingkan di dalam ruangan di sebuah restoran.

  • Tip pelayan restoran atau hotel berkisar 15% – 25%

    ***

    This article is published in Femina (Dec – Edisi Tahunan, 2011) 

    femina seattle2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s