Visit Ind1sia: Lebaran in Lombok

Selama lima hari empat malam liburan Lebaran kemarin saya pergi ke Gili islands, Lombok. Bertujuan ke tempat yang sepi untuk menghindari bunyi petasan, berniat ngga mau repot dengan pekerjaan rumah tanpa pembantu dan maunya berleha-leha menghirup udara pantai yang bebas polusi. Tak nyana, rencana diluar perkiraan, saya malah jadi ‘pembantu’ di pulau yang berbau kotoran kuda ini. Sama sekali berubah, layaknya pengumuman dadakan akan hari Lebaran yang berpindah tanggal. Liburan gagal? 

Lombok adalah pulau di Nusa Tenggara Barat yang merupakan bagian dari rantai Kepulauan Sunda Kecil yang memisahkan Selat Lombok dari Bali dan Selat Alas dari Sumbawa. Luas area total pulau Lombok sekitar 4.725 km ² dengan ibukota provinsi dan kota terbesar yaitu Mataram. Lombok yang mirip Bali ini dapat dicapai selama 30 menit dari Bali atau 1,5 jam dari Jakarta dengan pesawat atau melalui laut dengan jarak tempuh sekitar 4-6 jam dari pelabuhan Padang Bai, Denpasar. Pulau Lombok dikelilingi oleh sejumlah pulau-pulau kecil yang secara lokal disebut Gili, tiga pulau yang terkenal di dalamnya adalah Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air di kabupaten Lombok Utara.Sir Alfred Russel Wallace, ‘Bapaknya Geografi Hewan’ merumuskan gagasan tentang evolusi atas seleksi alam dengan mengamati dan mengumpulkan satwa liar di kepulauan Asia Tenggara. Dia sangat terkesan oleh perbedaan dalam keluarga burung yang hidup di pulau Bali Lombok. Di Bali burung-burung tersebut berasal dari pulau-pulau besar di Jawa dan Sumatera, sedangkan burung-burung di Lombok berasal dari New Guinea dan Australia. Karenanya, dia menandai garis Bali dan Lombok sebagai kesenjangan antara dua wilayah kebun binatang yang besar secara geografis Oriental dan Australia, yang saat ini dikenal dengan Wallace Line. Garis pemisah ini juga membentang di antara pulau Kalimantan dan Sulawesi. Konon, Gili Trawangan adalah pulau pertama yang terpisah dari wilayah Australasia.

Ketiga pulau (Gili islands) ini adalah destinasi populer turis mancanegara karena terkenal dengan keindahan pulau-pulau yang dikelilingi pasir putih dan warna pirus air laut dengan latar belakang gunung tertinggi kedua di Indonesia dan ketiga di dunia yaitu Gunung Rinjani dan Gunung Agung. Setiap pulau memiliki beberapa resor kecil, biasanya terdiri dari kumpulan cottages, restoran dan bar. Pulau terdekat dari Senggiggi, Mataram adalah Gili Air, kemudian Gili Meno dan terjauh adalah Gili Trawangan. Peraturan setempat melarang mobil dan kendaraan bermotor masuk di pulau-pulau ini, sebagai alternatif transportasi lokal digunakan sepeda atau kereta kuda yang disebut Cidomo (delman/dokar/andong). Karenanya, di Gili terkenal dengan slogan ‘No cars. No motorbikes. No worries!”. Pantesan, saya mencium bau kotoran kuda disini, oh well, tak mengapa, toh lebih ‘natural’ dibandingkan asap beracun knalpot di Jakarta.

Perjalanan ke Gili islands dapat ditempuh dengan menggunakan kapal dari pelabuhan Bangsal dengan menumpang kapal umum seharga Rp. 20.ooo-an sekali jalan sekitar 30 menit. Kapal pribadi atau carteran hanya butuh waktu 10-15 menit dengan harga Rp.400.000 ke salah satu Gili, sudah termasuk biaya mobil dari bandara Selaparang dan Rp. 200.000 untuk island hopping yang bisa berangkat kapan saja. Beda yang cukup besar dengan keuntungan tidak berdesakan bersama 20 orang lebih dalam satu kapal umum.

Gili Trawangan

Gili Trawangan atau biasanya disebut juga ‘Gili T’ adalah pulau terbesar dari ketiga Gili islands lainnya. Pemandangan garis pantai Senggigi barat yang sangat indah menemai perjalan saya selama 30 menit berkendara menuju salah satu pelabuhan pribadi, yang kemudian dilanjutkan selama 15 menit menyeberangi lautan menuju pulau tujuan pertama saya yaitu Gili Trawangan.

Menginjakkan kaki di atas pasir putih di Gili T saya sudah dimanjakan dengan pemandangan alam yang luar biasa. Pulau yang dikelilingi pasir putih dengan air laut berwarna turquoise memang adalah suguhan yang sudah dinanti-nanti. Ingin rasanya untuk langsung menceburkan diri ke laut saat itu juga, tapi saya harus bersabar menunggu antrian check-in yang lumayan ramai di salah satu resor pilihan saya. Saya diminta menitipkan barang bawaan di receptionist karena kamar belum siap dibersihkan. Heh?it’s okay lahkan lebih menarik duduk-duduk di restoran menghadap ke laut daripada masuk kamar. Suasana restoran dan bar dekat pantai sangat ramai dipenuhi turis asing. Suasananya serasa berada di daerah Kuta atau Legian di Bali. Saya berusaha mencari pelayan untuk memesan minuman. Hanya terlihat satu-dua pelayan yang sibuk melayani sekian banyaknya tamu. Informasi yang saya terima adalah berkurangnya pelayan di pulau ini dikarenakan bulan Ramadhan yang tidak sebanding dengan bertambahnya wisatawan yang datang berlibur. Duh… Sebelum menggerutu, tiba-tiba saya didatangi oleh seorang perempuan bule, “Have you ordered?”. Saya bilang belum, dia langsung menanyakan pesanan saya. Saya pikir, lucu juga ada pelayan bule yang melayani saya, orang Indo, di pulau yang ada di Indonesia pula. Cool!

Sambil menikmati minuman dan makanan pesanan, saya mengamati kehidupan di pulau ini. Secara ringkas, bagian sebelah timur dari pulau atau sebelah kiri pantai (patokan dari dermaga atau disebut dengan ‘Jetty‘) lebih ramai dan lebih terawat daripada di sebelah kanan atau bagian barat pulau. Di area ini banyak terdapat resor, hotel besar dan villa yang bagus dengan restoran, bar, dive center, toko souvenir, juga tempat penyewaan DVD lengkap dengan ‘layar tancap’. Jalanan kecil dipenuhi pejalan kaki, sepeda dan sesekali Cidomo. Tiba-tiba saya melihat jalanan kecil ini ditutup dengan dua kursi, sehingga cidomo tak bisa lewat lagi. Tadinya saya berpikir apakah ada ‘jam malam’ untuk Cidomo. Ternyata jalanan ditutup karena ada kotoran kuda dari Cidomo yang terakhir lewat dan harus dibersihkan oleh Cidomo yang akan lewat berikutnya. Sistim yang unik dan lucu juga.

Kebanyakan wisatawan yang berlibur di Gili T karena fasilitas penyelaman yang mudah dan dekat dari pulau. Dengan lebih dari dua puluh lima lokasi penyelaman di sekitar Gili islands waktu menyelam bisa dilakukan dalam satu hari saja. Lokasi penyelaman yang menawarkan keunikan tersendiri bagi penyelam seperti aneka ragam satwa laut, ikan manta, ikan hiu dan penyu membuat aktifitas ini sangat digemari di Gili T. Selain itu, disini juga terkenal dengan free diving yaitu menyelam tanpa tabung oksigen dan hanya mengandalkan teknik pernapasan diafragma sampai kedalaman 20 meter. Seru!

Gili Meno

Hari kedua di bulan puasa, saya pindah ke Gili Meno. Kapal umum berangkat dari Gili Trawangan pada jam 09:30 dan 16:00 setiap hari (biaya sekitar Rp 23.000) dengan jarak tempuh kurang lebih 15 menit. Bentangan pantai paling populer di Gili Meno dapat ditemukan di selatan atau sebelah kiri pada saat kapal berlabuh. Pulau ini adalah yang paling sepi dari kedua Gili lainnya, makanya pulau ini terkenal sebagai pulau para honeymooners.

Pulau terkecil dengan panjang 2 kilometer dan lebar satu kilometer ini bisa dikelilingi dengan berjalan kaki selama kurang dari dua jam atau menyewa Cidomo seharga Rp.100.000, selain itu keindahan pemandangan laut dan pulau dinikmati sambil ber kayak di sore hari sembari menunggu turunnya sunset di sebelah barat pulau ini.

Di Gili Meno terdapat taman burung Gili Meno Bird Park yang mempunyai lebih dari tiga ratus jenis burung seperti burung Peafowls, Pegar, Enggang, Eagles, pelikan, macaw dan beberapa burung Beo yang dikumpulkan dari seluruh dunia. Disini juga terdapat The Turtle Sanctuary Gili Meno, proyek pemerintah dengan dukungan penuh dari wisatawan asing ini merupakan konservasi pelestarian habitat penyu. Telur-telur penyu dibeli dari para nelayan, bukan untuk dijual, namun untuk dikumpulkan dalam inkubasi yang aman sampai menetas. Bayi-bayi penyu dilindungi dalam akuarium yang besar sampai mereka cukup dewasa dan siap untuk dilepas ke laut. Terdapat papan yang bertuliskan nasehat untuk tidak menyentuh atau memegang penyu yang ada di tangki maupun di laut.

Selain itu, tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan disini selain bermalas-malasan di sekitar di ayunan, membaca buku dan berenang di pantai adalah agenda rutin bagi wisatawan di pulau ini. Sore hari saat saya selesai berenang, kejadian aneh dan ‘Cool‘ terjadi lagi. Saat sedang berteduh di sebuah gazebo saya kembali didatangi seorang pria bule dengan pertanyaan, “Would you like to have something to drink?” Mengangguk bingung, saya bertanya apakah dia adalah pemilik salah tempat gazebo yang juga berfungsi sebagai bar tersebut, dengan senyuman si bule menjawab,“No, I’m just a tourist like you. I’m helping this place since all the waiters are busy, most of them are gone mudik.”. Saya melongo. Ho?

Pada malam hari, pulau ini sangat sepi. Tak terlihat restoran yang dibuka. Satu-satunya bar di seluruh pulau yang dibuka oleh seorang Ibu penduduk dengan sangat sederhana. Pilihan ikan laut yang segar disajikan ala prasmanan barbecue sehingga wisatawan bisa memilih jenis ikan laut untuk dibakar sebagai makan malamnya, dinikmati sambil memandang laut dengan bintang bertebaran di langit. Nikmat!

Gili Air

Hari -1 Lebaran, saya melanjutkan islands hopping ke pulau terakhir, yaitu Gili Air. Pulau ini adalah kombinasi dari kedua pulau tetangganya, tidak seramai di Gili T dan tidak terlalu sepi seperti di Gili Meno. Gili Air juga adalah pulau terdekat dari Senggigi Mataram.

Wisata bahari di pulau ini pada dasarnya sama dengan pulau lainnya, yaitu menyelam, glass bottom boating dan snorkeling. Di Gili Air adalah tempat snorkeling yang paling ramai dan populer. Saya sempat snorkeling hanya sejauh 200 meter dari bibir pantai dan langsung melihat sekumpulan school fish (Nemo) dan dua ekor ikan transparan seperti plastik tembus pandang dengan bulatan hitam bagian perut yang terlihat jelas! Saya tidak tahu jenisnya, namun sepertinya Trigger fish (ikan Pelatuk), kemudian saya mengikuti Moorish Idols (ikan Bendera) berwarna kuning cemerlang yang mengantarkan saya ke sekelompok Wrasse fish (ikan Napoleon) berwarna biru neon, dan kemudian mengantarkan saya lagi menemukan dan berenang bersama dua ekor penyu dewasa! Ah, fantastis!

Layaknya di Gili Trawangan, pulau ini juga tambah ramai sekaligus tambah sepi. Ramai oleh wisatawan, sepi oleh pelayan. Mata saya jadi terbiasa melihat beberapa turis yang mondar mandir melayani turis lainnya, ada yang mengangkat tabung oksigen dan peralatan diving sendiri ke kapal, ada seorang cewek bule mendorong kapal ke tengah laut, ada yang menggotong tabung gas dengan sepeda sampai dan malah ada yang jadi supir Cidomo! That’s a BIG WOW! Ironisnya, ada wisatawan sekeluarga asal Indonesia di sebelah meja saya marah-marah kepada salah satu pelayan lokal, karena pesanannya terlambat datang plus pesanan yang salah, padahal si pelayan sudah menjelaskan dan meminta maaf. Saya coba membayangkan bila berlibur di luar negri dengan keadaan yang sama seperti di pulau ini, berapa banyak orang Indonesia yang mau menjadi pelayan sukarela di negeri orang? Geleng-geleng kepala, pasti ngga banyak.

Lebaran Day

Hari Lebaran pun tiba dan pagi itu pulau sepi kayak kuburan. Jam 9 restoran baru di buka oleh satu pelayan saja, karena masih banyak yang sedang sholat Ied. Tanpa disuruh, saya mendatangi para turis yang sedang menunggu pelayanan breakfastYup, saya jadi pelayan sukarela, menanyakan pesanan, membawakan pesanan, mengambil piring kosong, mengisi gelas kosong. Sampai saya ‘kena batunya’, seorang turis Jerman menanyakan cara memasak salah satu pesanan yang ada di menu, saya jawab, “Sorry sir, I have no idea… but, I can ask …….” Saya malah diomeli, “How did you become a waitress if….” Untungnya dia minta maaf, setelah saya jelaskan kalau saya ini hanya pelayan dadakan“Aah, no wonder … I asked my wife if your diamond ring and your Rayban sunglasses are real!” Enak aja!:)

Jam 10 beberapa pelayan mulai berdatangan. Mereka disambut oleh turis yang menjadi pelayan sukarelawan dengan pelukan hangat dan ucapan ‘Selamat Idul Fitri”. Tanggapan para waiters pun tak kalah bersahabat, mereka mengucapkan terima kasih berulang kali sambil dan berteriak, “Yes, no more puasa, ayo kerja lagi!”. Semua tertawa, semua senang. Suatu pemandangan yang mengharukan.

Hari terakhir di Gili Air, saya habiskan dengan menikmati indahnya sunset di tepi pantai. Merahnya langit dan birunya laut, udara segar dengan sesekali bau kotoran kuda, layanan dari orang asing serasa berada di world class-top holiday destination, semarak petasan dan kembang api membuat liburan Lebaran saya di Lombok … gagal? No. Sempura.