Sinking VENEZIA

Venesia yang cantik terancam tenggelam. Begitulah kabar yang saya dengar. Kota air di Italia ini (Venice dalam bahasa Inggris atau Venetia dalam bahasa Latin) terus terbenam dengan kecepatan 6 cm setiap 10 tahun. Peneliti percaya, bila tidak ada usaha untuk menyelamatkannya, Venesia bisa tenggelam pada tahun 2100. Karena itulah, pemerintah Italia sedang berupaya keras mengantisipasi hal ini dengan sejumlah program, yang akan dirampungkan pada tahun 2011. Takut tak sempat menikmati keindahan Venesia, saya dan dua sahabat saya, Tetty dan Venda, memutuskan segera mengunjungi kota ini.

san marco fr boat01

Tersesat Di Jalanan Sempit

Perjalanan menuju Venesia dari Milan kami lakukan dengan kereta antarkota Eurostar, memakan waktu kurang lebih tiga jam. Tiketnya seharga 36 euro per orang (sekitar Rp 400.000). Pemandangan selama perjalanan lumayan menarik, walaupun kebanyakan yang kami lihat dari kejauhan adalah sekawanan hewan yang sedang merumput.

Hari sudah sore, sewaktu kami tiba di terminal Santa Lucia,Venesia. Untunglah, hotel bintang tiga yang sudah kami pesan sebelumnya, tidak jauh dari stasiun. Bisa ditempuh dalam waktu 10 menit berjalan kaki. Kami menyewa satu kamar untuk bertiga, dengan harga 90 euro per malam (sekitar Rp950.000).

Venesia, yang pernah masuk dalam wilayah negara Austria setelah ditaklukkan oleh Napoleon Bonaparte, terbagi menjadi enam area, yaitu Castello, Cannaregio, San Marco, Santa Croce, Dorsoduro, dan San Polo. Kota ini dikelilingi oleh air dan kanal. Tak mengherankan jika Venesia memiliki beberapa julukan, antara lain City of Water dan City of Bridges.

Konon, awalnya, kota ini tidak mampu menampung seluruh penduduk, sehingga sengaja dibangun kota di atas laguna. Air dari kanal akan naik pada musim gugur, yaitu bulan Oktober dan November, yang sering mengakibatkan kota ini kebanjiran. Bedanya dari Jakarta, saat banjir Venesia justru terlihat menarik bagi turis dan menjadi objek menarik bagi para fotografer dunia. Hasil foto jadi lebih dramatis, karena ada pantulan pemandangan kota di permukaan air.

Yang jelas, karena memang berada di atas air, pemerintah sudah melakukan antisipasi, sehingga tak ada penduduk yang jadi korban. Di mata saya, kota tua Venesia, yang mempunyai jumlah penduduk hanya sekitar 350.000 ini, seperti kota miniatur. Jalan, gedung, dan jembatan penghubung, terlihat kecil. Sebagian besar jalan tampak seperti gang-gang di daerah Kemang, Jakarta. Gedung yang kami lewati mirip ruko-ruko di Dharmawangsa Square. Bahkan, jembatannya mengingatkan saya pada jembatan kecil di Dunia Fantasi,Ancol.

Jika ruas-ruas jalan di Jakarta dipenuhi oleh kendaraan bermotor, di Venesia, sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kapal dan perahu. Kendaraan air ini disebut water buses (bus air), yang siap mengantar penduduk kemana saja. Di sini benar-benar bebas polusi udara dan suara!

Kami bahkan tidak menemukan kendaraan bermotor jenis apapun di dalam kota. Jadi, kami mengambil kesimpulan, cara termudah untuk menikmati Venesia adalah dengan berjalan kaki. Kami mulai menyusuri jalan darat, yang terdiri dari berbagai tipe, antara lain tipe Rio (kanal kecil), Salizada jalan besar), Fondamenta, Ruga, Calle, dan Campiello.

Kami memulai dari tipe jalan Fondamenta atau jalan yang berada di samping kanal. Ini jalan paling aman, agar ridak tersesat. Kami hanya perlu mengikuti alur kanal dan kami dapat melihat hiruk-pikuk kegiatan perairan. Kesibukan penduduk lokal Venesia sehari-hari berbaur dengan perahu-perahu turis yang melintas. Saat lelah, kami mampir ke sebuah kedai kopi, menikmati kecantikan kota dari pinggir kanal.

Di malam hari, area ini dimeriahkan oleh para musisi yang menggelar pertunjukan musik. Ruga menjadi pilihan kami selanjutnya, yaitu tipe jalan yang ramai yang dikelilingi rumah-rumah bergaya kuno, toko suvenir, dan pasar. Kami mampir sebentar di Rialto Market untuk berbelanja beberapa jenis suvenir, seperti gantungan kunci dan tempelan lemari es. Menemani kami berbelanja, lamat-lamat terdengar lagu Snow in the Sahara milik Anggun. Katanya, di tempat-tempat lain di Venesia lagu ini juga sering diputar. Rupanya, orang-orang Italia adalah pengagum berat Anggun. Hebat, Anggun.

Dari sana, kami menuju Grand Canal, dengan menyeberangi jembatan legendaris Rialto Bridge. Ini adalah jembatan pertama yang dibangun di Venesia, mengawali pembuatan, 400 jembatan lainnya. Kami sempat tersesat, saat melewati jalan tipe Calle atau jalan menyempit, yang berujung pada jalan buntu. Sejumlah rumah di jalan Calle bergaya gothic dengan gerendel pintu bergambar tengkorak manusia dan kepala singa, yang juga banyak terdapat di sudut atas atap bangunan di Venesia. Beberapa kali kami terpentok di pintu rumah penduduk.

Tak juga berhasil menemukan jalan keluar. Kami sempat kebingungan dan hampir saja menyerah. (Untung saja, jalan terakhir yang kami ambil, membawa kami menuju tipe jalan yang membesar, yaitu tipe Longa. Terus menyusuri jalan itu, kami lalu memasuki daerah Campiello atau tempat terbuka (semacam alun-alun, sering disebut sebagai square). Campiello adalah tipe alun-alun kecil. Berputar-putar sesaat di sana, barulah kami menemukan Campo (alun-alun besar), yang ternyata merupakan tujuan akhir kami, yaitu daerah San Marco. Betapa leganya kami bisa menemukan St. Marco Square, tempat berdirinya sebuah menara berwarna cokelat, bernama Menara St. Marco Square, seperti dalam kartu pos!

fr san marco at dawn (Medium)Keliling Kanal Naik Gondola

Cara paling romantis untuk berkeliling Venesia adalah dengan gondola, simbol kota Venesia yang paling terkenal. Pembuatan perahu antik ini memerlukan teknik tradisional dan keterampilan yang cukup rumit. Kapasitas gondola paling banyak hanya 6 orang. Dengan panjang 11 meter dan berat 600 kilogram perahu ini bisa berbaiik arah dengan mudah, hanya oleh satu orang saja, yaitu gondolier atau pengayuh gondola.

Sampai saat ini, pembuatan gondola masih terpusat di daerah San Tlovaso saja, dan tetap dengan menggunakan teknik tradisional. Pada musim panas, biasanya gondola ditutupi kain sutra hitam, untuk melindungi penumpang dari sengatan sinar matahari. Sedangkan pada musim dingin, ditambahkan semacam kabin, untuk melindungi penumpang dari udara dingin.

Sesudah membayar kurang lebih Rp650.000 untuk bertiga, selama kurang lebih satu jam, kami menikmati saat-saat terapung di bawah jembatan, melewati jalan dan kafe-kafe, sambil mendengarkan siulan atau terkadang nyanyian dari gondolier-nya. Hmm… dijamin’ jika Anda berlibur ke Venesia bersama Pasangan’ tak akan bosan naik gondola setiap hari.

Gondola dapat ditemukan di beberapa tempat di sepanjang Grand Canal, dari kawasan Santa Maria del Giglio sampai ke Salute Point. Anda dapat melakukan reservasi langsung pada hari yang sama dan membeli tiket di loket, yang buka pada pukul 09.00 pagi.

Gondola biasanya seliweran sejak pukul 10.00 pagi hingga pukul 23.00. Tapi, di akhir pekan, jam operasionalnya ditambah satu jam sampai tengah malam. Harga tiket untuk satu orang dewasa sekitar Rp150.000. Tapi, kalau naik gondola, tak bisa sendiri. Gondola harus diisi minimal dua penumpang. Atau, Anda bisa menyewanya secara eksklusif untuk berduaan dengan biaya sekitar Rp500.000 per orang.  

Sedikit mempunyai waktu luang, kami ingin menghabiskan hari seperti penduduk lokal. Dari petugas hotel, kami mendapat informasi tentang pemutaran film di Jl. Calle. Setelah makan malam, kami menuju lokasi itu. Untunglah tidak terlambat, karena pemutaran film terakhir adalah pukul 21.00.

Tiba di sana, kami terperangah. Ternyata, bioskop itu berupa teater terbuka dengan tempat duduk dari batu melingkati layar film. Mirip seperti layar tancap. Bedanya, layar tancap biasanya diramaikan puluhan hingga ratusan penonton, di teater ini hanya ada sekitar 15 penonton. Setelah membayar tiket 10 euro (sekitar Rp100.000), kami pun duduk.

Lokasi sekitar teater sangat gelap, dikelilingi bangunan tua dan pohon-pohon besar. Ditambah lagi, film yang diputar adalah film jadul berjudul Stigmata, mengisahkan seorang wanita (diperankan Patricia Arquette) yang mendapatkan luka-luka di tubuhnya dengan cara aneh. Karena sangat menegangkan, film berdurasi dua jam itu jadi terasa sangat lama.

Tiba-tiba seorang penonton berteriak keras. Rupanya, ada penonton lain yang pingsan. Mungkin dia ketakutan. Kami yang tadinya tak merasa apa-apa, jadi ikutan takut. Angin dingin seolah membuat suasana tambah mencekam. Terbayang harus berjalan ke hotel yang cukup jauh. Saya jadi merinding. Setelah film berakhir, kami berpura-pura kalem menunggu antrean keluar. Namun, begitu memisahkan diri dari penonton lain, dan harus melewati jalan kecil yang gelap, kami langsung lari terbirit-birit! Hasilnya, Tety jatuh kecebur di kanal. Untunglah dia pandai berenang. Ia kemudian naik, dibantu oleh gondolier yang kebetulan leuwat. Fiuh

venice

Belanja di Tiga Pulau

Di dekat laguna tempat Venesia berdiri, ada tiga pulau yang menarik, yaitu pulau Burano, Torcello, dan Murano. Ketiganya mempunyai keunikan tersendiri. Pulau Burano dikenal sebagai penghasil glassware (produk dari gelas kaca) sejak tahun 1’291, Burano terkenal karena kerajinan renda (lace), sedangkan Torcello menghasilkan mozaik cantik.

Mengunjungi ketiga pulau tersebut membutuhkan biaya sekitar 20 euro per orang (sekitar Rp250.000) untuk pulang-pergi. Ada dua jadwal keberangkatan ke Pulau Murano, yaitu pukul 09.30 dan 14.30. Kami memilih jadwal pagi, naik bus air dari pusat kota. Selama perjalanan 10 menit menuju Murano, kami disuguhi pemandangan menarik, seperti tempat pemakaman San Michele, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir sejumlah pesohor, antara lain lgot Stravinsky, komposer musik asal Rusia, dan Sergei Diaghilev, pendiri Russian Ballet.

Setibanya di sana, langsung terlihat deretan rumah pembakar gelas, yang sebagian besar dibuka untuk umum. Kami bisa melihat sendiri teknik dan proses pembuatan produk gelas kaca. Diawali dari kaca tak berbentuk, kemudian menjadi produk cantik, seperti gelas, piring untuk hiasan, lampu gantung, dan perhiasan kalung, gelang, juga cincin.

Uniknya, setiap produk mempunyai desain, warna, dan corak yang pasti berbeda dari yang lain, karena dibuat dengan tangan. Sangat tradisional, tapi hasilnya rapih sekali. Kami sempat membeli kalung, gelang, liontin, dan cincin, yang harganya jauh lebih murah dari harga yang ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta. Untuk satu produk disini harganya antara Rp 150.000-Rp 350.000, sedangkan di Jakarta antara bisa menjadi Rp 500.000 sampai Rp 900.000!

Pulau Burano dapat dicapai melalui Fondamenta Nuove atau dari Murano Faro. Burano adalah pulau terkecil dari 118 pulau di laguna Venesia. Menariknya, semua rumah di pulau ini dicat berwarna cerah. Kerajinan renda dari pulau ini sudah ada sejak abad ke-16 dan sampai kini dikenal di seluruh penjuru dunia. Di sini terdapat museum renda yang menyimpan renda kuno dan demo pengerjaan renda dari perajin.

Dari Burano, kami menuju ke Pulau Torcello yang sangat tenang. Penduduk lokal Venesia sering berkunjung ke sini, sekadar menikmati ketenangan puiau ini. Pulau yang masih belum banyak penduduknya ini tak hanya menghasilkan mozaik-mozaik cantik yang sering menghiasi jendela gereja, melainkan juga ubin lantai yang indah dan bermotif menarik. Hasilnya dapat dinikmati di sejumlah bangunan, seperti Piazza Torcello, Gereja Katedral Santa Maria Assunta, dan Gereja Santa.

Waktu paling tepat menguniungi Venesia adalah April hingga Juni, dan awal Septgmber, karene bebas banjir.
Di Venesiaia, dilarang keras berenang di kanal, bersepeda di dalam kota, mengganti baju di tempat umum, dan berjalan-jalan di kota tanpa atasan dan pakaian renang. Jika dilanggar, anda akan didenda 50euro.
Ada tur menarik bertajuk Ghost and Legends Tour yang dimulai tengah malam. Anda diajak mengunjungi tempat yang pernah menjadi lokasi peristiwa berdarah, terjadinya legenda kuni dan tempat berhantu!

***

Published in (Femina, September 2007)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s