MALDIVES, Lovers Paradise

Bayangan kepulauan Maldives (Maladewa) adalah persis sama yang tergambar dipikiran saya saat menginjakkan kaki disana awal September 2004 (yup, 3 bulan sebelum Tsunami!). Disambut cuaca hangat dan bersih dengan suhu udara 29 derajat Celsius, langit biru terlihat begitu luas dan cerah. Air laut sejernih kristal berwarna turquoise dan pasir putih bersinar membuat saya jatuh hati pada pulau ini. Sangat menyenangkan! Tidak sia-sia saya memperpanjang perjalanan bisnis dari Bangalore, India dan mengambil cuti selama tiga hari untuk memanjakan diri di sini. Kapan lagi?

Perjalanan udara dari Bangalore ke Maldives butuh waktu selama 3,5 jam via Colombo, menggunakan maskapai penerbangan Srilankan Air. Setiap hari, ada tiga penerbangan dari Srilanka, empat kali dari Singapura dan tujuh belas penerbangan internasional dari berbagai negara menuju Maldives. Venda, sahabat saya datang dari Jakarta via Singapore-Colombo menggunakan pesawat Garuda – Srilankan Air, dengan biaya kurang lebih US$ 900.

Kepulauan Maldives terdiri dari 1,190 pulau dengan formasi 26 pulau karang yang disebut atoll, terpencar melintasi katulistiwa di tengah samudra India. Populasi penduduknya adalah 263.189 jiwa yang mendiami 200 pulau yang ada disana. Penduduk asli Maldives adalah keturunan Indo-Irani Arab dan Dhivehi sebagai bahasa nasional, negara yang beralih dari pemerintahan kesultanan ke negara republik independen penuh pada 11 November 1968.

Dari atas pesawat, terlihat hamparan pulau miniatur membentang diatas lautan dengan tiga lapisan warna; biru lautan, hijau karang dan putih pasir mengelilingi setiap pulau dan atoll nya. Di salah satu pulau yang bernama Hulule island kami mendarat, yang adalah bandar udara internasional Male (Male International Airport). Pulau ini khusus untuk bandara dengan satu runway, terminal dan hotel transit saja.

Dari bandara menuju ke pulau tujuan, disediakan dua alat transportasi udara yaitu air-taxi (helikopter) dan transportasi kapal. kebanyakan adalah dengan menggunakan kapal motor yang disebut ‘dhoni’ dengan kapasitas muatan sebanyak 30-40 penumpang. Kami dijemput oleh agen perjalanan dengan menggunakan dhoni menyebrang menuju ibukota Maldives, Male. Perjalanan dari airport ke Male memakan waktu 15 menit dengan biaya MRf 10 (atau US$ 10) per orang.

MALE
Kota Male imut! Jalan utama di Male hanya sebesar jalan Cikajang di Kebayoran Baru. Selebihnya, seperti gang-gang yang ada di sekitar Kemang Timur. Male ditinggali oleh 70.000 penduduk yang katanya, 80% adalah pria. Kecil? Bayangkan, Gelora Bung Karno Senayan saja masih lebih besar daripada ibu kota ini, yang terletak diatas pulau seluas 1.77 kilometer. Namun, kota ini sungguh cantik, dikelilingi oleh air, pasir putih dan lautan.

Hari sudah senja saat kami tiba. Kami putuskan untuk menginap semalam di salah satu hotel yang ada. Hotel yang kami pilih dari Internet adalah hotel berbintang tiga, yang seukuran dengan kos-kos-an di Jakarta, dengan harga US$ 34 semalam.

Paginya, kami mengelilingi kota Male diantar oleh guides lokal. Dengan berkendara sepeda motor, karena mobil dan taksi di Male sangat terbatas, dan tentunya lebih menyenangkan mengendarai motor menyusuri gang-gang kecil yang padat pejalan kali. Di Male aturan-aturan yang ada cukup ketat. Selain tidak diperbolehkan menjual minuman beralkohol (minuman beralkohol hanya bisa didapatkan di pulau resor saja), aturan untuk tour guides juga unik.

Setiap guide punya ‘daerah kekuasaan’ masing-masing. Guide daerah Mulee misalnya, hanya bisa mengantar tamu turis di sekitar daerah tersebut yang diijinkan, tidak diperbolehkan mengantar turis ke daerah Theemuge yang tidak ada dalam perijinannya. Setiap guide dilengkapi dengan kartu ‘daerah kekuasaan’ masing-masing. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada turis. Karena Male begitu kecil, maka guide yang berasal dari daerah asalnya sudah dikenal oleh penduduk setempat. Apabila terjadi kasus seperti turis hilang, dirampok atau dicelakai, penduduk daerah tersebut akan meminta pertanggung-jawaban si guide dan diserahkan kepada aparat keamanan untuk diinterogasi. Berhubung guide kami hanya diijinkan berada di daerah Mulee, jadi kami hanya mengunjungi beberapa tempat saja seperti Mulee Aage, The Sultan Park, Presidential Palace, National Museum, Indira Ghandi Memorial Hospital, Fish & Vegetable Market dan Dhoni Harbor.

Aktifitas di Male cukup variatif. Selain tempat-tempat menarik di Mulee, tempat lainnya yang biasa dikunjungi oleh turis adalah mesjid The Grand Friday, Sultan Mohamed Thakurufaanu-al-Azam; mesjid terbesar di Maldives. Buat kami yang paling menarik adalah belanja souvenir Maldives yang unik dan colorful.
Sehabis itu, kami hanya mengelilingi keseluruhan kota Male dengan waktu kurang dari stengah jam. Namun, itu sudah cukup. Terlebih lagi bawaan kami untuk ukuran sepeda motor sudah termasuk begitu banyak. Kami putuskan kembali ke hotel untuk berkemas, sebelum menuju ke pulau tujuan kami esok paginya; pulau Thulhagiri.

THULHAGIRI ISLAND RESORT
Thulhagiri, salah satu dari 30 resort islands di Maldives yang terletak di Male Atoll bagian Utara. Jarak dari airport ke pulau ini adalah 13-kilometer atau membutuhkan waktu selama 30 menit. Jarak dari Capitol Male ke pulau Thulhagiri adalah 1,5 jam dengan dengan menggunakan speedboat. Di Maldives hampir setiap resort menempati satu pulau, yang mana setiap pulau mempunyai predikat bintang layaknya hotel. Banyan Tree, Hilton, Taj Exotica, Club Med dan Four Seasons adalah resor berbintang lima yang sering dikunjungi oleh selebritis dan high-class honeymooners. Sedangkan pulau resor yang popular dan ramai dikunjungi adalah Paradise Island, Kurumba Village Tourist, Bandos Island Resort, Asdu Sun Island, Royal Island Resor dan Laguna Beach. Namun, setiap resort island masing-masing mempunyai keunikannya sendiri.

Pulau Thulhagiri sendiri memperoleh predikat bintang empat, pulau ini lah yang menjadi tujuan kami bersantai dan relaksasi total selama tiga hari. Berlibur di Maldives adalah termasuk liburan yang cukup mahal. Kami memesan paket menginap selama empat hari tiga malam dengan biaya sebesar US$ 868 double full board; yang artinya untuk satu water-bungalow ditempati dua orang termasuk makan pagi, siang dan malam selama tiga hari, plus transportasi dari bandara ke pulau, pulang pergi.

LOVERS PARADISE ISLAND!
Kami disambut oleh pelayan hotel yang ramah. Senyuman yang selalu tercetak diwajahnya menunggu kami di lobby dengan suguhan welcome-drink berupa jus berwarna pink yang segar dengan aroma jambu dan nanas. Kemudian, kami dipersilakan mengisi formulir yang disediakan dan ada sedikit sesi tanya jawab yang ramah dan basa-basi.

Ada cerita lucu disini! Begitu kami menuju ke bagian registrasi check-in; kami ditanyai apakah akan mengambil satu bungalow untuk satu kamar saja. Setelah mengiyakan, kami melihat senyuman aneh dari resepsionis. Saya bertanya dalam hati; apanya yang lucu kalau kami mengambil bungalow dengan satu kamar? Toh kami berdua adalah wanita; tidak seperti sepasang kekasih yang lagi check-in diam-diam kan? Sambil berbisik, Venda menunjuk tulisan di bagian atas meja resepsionis yang bertuliskan “Welcome to Lovers Paradise Island”! Whoa!! Tanpa banyak cakap, saya dengan segaja langsung menggandeng mesra lengan sahabat saya, menuju ke ‘bungalow kita’! Ha!! Kami sepakat untuk membuat cerita lucu di pulau ini!

Cerita lucu ini berlanjut pada saat makan malam. Jamuan santap malam yang elegan dan menyenangkan. Setiap meja dihiasi taplak merah dengan lilin dan bunga mawar diatasnya. Aturan disini lagi-lagi tidak biasa. Masing-masing pelayan, melayani dua atau tiga meja tertentu dan tamu tidak diperbolehkan memanggil pelayan yang bukan pelayan yang melayani meja mereka. Kami berpikir ini mungkin agar kami memberikan tip kepada pelayan yang khusus melayani kami. Atau, mungkin juga seperti hal nya guide di Male, masing-masing pelayan bertanggung-jawab penuh atas meja yang dilayani apabila terjadi komplain dari tamu hotel. Masuk akal.

Makan malam yang berupa prasmanan sangat dan sangat enak; mulai hidangan Asia, India, sampai hidangan Italy tersedia lengkap. Sushi, Spaghetti dan Lobster adalah makanan favorit saya yang tidak akan saya lewatkan. Kami memesan red-wine sambil mengobrol dengan iringan piano lembut yang membuat atmosfir kian romantis. Di sekeliling kami semuanya; sekali lagi, semuanya, berpasangan! Pria dan wanita semuanya begitu mesra, berbisik-bisik, pegangan tangan, dan … apalah namanya, semuanya bersikap romantis. Kecuali kami berdua tentu saja, yang sedari tadi mengobrol hal-hal seru dan tertawa cekikikan, malah terbahak-bahak membicarakan hal-hal bodoh seperti mengapa kami lupa membawa bergalon-galon air mineral karena di pulau ini kami diharuskan membayar US$2 untuk setiap botol air mineral; betapa kangennya kami ber-sms tapi tidak bisa karena tidak ada signal untuk telpon selular di pulau ini. Dan, membicarakan tentang pasangan pria di meja seberang yang pastinya adalah sepasang kekasih dan …. Hei….! Kemungkinan BESAR bahwa pasangan-pasangan disekeliling kami mengira bahwa kami juga adalah sepasang kekasih yang sangat berbahagia malam itu! Aah, biarlah!

Day1- Water-Plane
Cukup banyak kegiatan di pulau tropis ini. Fasilitas yang tersedia seperti untuk relaksasi yaitu Aroma Therapy, Spa dan Beauty Salon. Untuk bersantai disediakan Coffee shop, Lounge area, Karaoke dan live music, diskotik dan Game Centre. Bagi yang ingin berbelanja ada Gift & Jewelry shop. Untuk sport apalagi, ada Swimming Pool, Badminton, dan kegiatan olah raga air seperti Banana Boat, Canoeing, Catamaran Sailing, Beach Volley, Fishing trip, Diving dan Snorkeling.

Birunya air laut, luasnya langit dan putihnya pasir membuat kami tidak mungkin tidak menikmati semua itu. Memulai hari pertama, kami menikmati pemandangan Maldives dari atas pesawat baling-baling yang merupakan pengalaman yang sangat menakjubkan! Dengan membayar US$30 per orang, kami bersama 10 penumpang lainnya berangkat dari Male airport bersama awak pesawat Twin-Otter milik Maldivian Air Taxi. Total perjalanan memakan waktu kurang lebih tiga jam termasuk tiga atoll yang kami kunjungi yaitu Nika, Velidhoo dan Ellaidhoo.

Di dalam pesawat kami disuguhi penayangan film tentang peralatan pesawat dan presentasi mengenai perjalanan udara. Pemandangan dari atas pesawat melintasi kepulauan Maldives sangat spektakuler! Jarak terbang yang rendah memudahkan kami melihat masing-masing atoll dan island yang kami lewati dengan lebih detail dan jelas. Melihat atoll yang tanpa penghuni membuat saya berangan-angan alangkah indahnya menjadi pemilik salah satu pulau itu suatu hari nanti.J

Day 2: Snorkeling dan Diving
Berenang di lautan adalah hal yang paling menyenangkan disaat liburan. Kedalaman air yang hanya setengah meter dan jauhnya sepanjang 500-meter dari pantai membuat kami merasa seperti di kolam renang saja. Pasir putih sehalus karpet dan air hijau biru yang menyegarkan sangatlah menantang. Hal ini tentu saja sangat menyenangkan untuk Venda yang baru belajar snorkeling, namun tidak untuk saya. Saya memutuskan untuk mendaftar grup diving hari itu dengan menyewa kapal. Dua puluh menit perjalanan dengan kapal ke Barracuda Giri yang terletak di utara pulau Bandos dan di selatan pulau Thulhagiri.

Menyelam di Barracuda Giri sangat indah! Bagi saya sebagai fun-diver tempat diving seperti Maldives sangat masuk dalam kategori lima syarat utama wish-list-for-dive saya yaitu crystal clear, shallow dive, no current, lots of fish dan colorful. Jarak pandang diatas sepuluh meter, tanpa arus dengan kedalaman maksimum 18 meter. Di kedalaman 10-meter saya sudah dikelilingi berbagai jenis ikan seperti clown fish, school-fish sampai blowfish. Semakin dalam saya melihat batfish sampai barracuda! Namun, sayangnya coral atau karang yang ada banyak yang mati dan kehilangan warna alami nya. Walaupun pulau Bunaken di Manado masih tetap nomor satu buat saya, tapi saya cukup terpuaskan dengan pengalaman menyelam di lautan Maldives.

Setelah dua jam snorkeling dan diving, kami kembali ke pulau, dimana pesta telah menunggu. Pesta yang diselenggarakan oleh manajemen resor diadakan di tepi pantai dengan hiburan live music dan makan malam prasmanan. Tepi pantai dihiasi oleh kerlap-kerlip lampu ala tiki-bar. Sangat menarik bisa berbaur dengan para tamu yang lain, saling bersapa, menjadi satu grup besar saling menceritakan pengalaman masing-masing selama liburan, asal negara, tujuan berikutnya dan sebisa mungkin menghindari pembicaraan mengenai pekerjaan. Tidak lupa jepret sana-sini mengabadikan suasana pesta malam yang berkesan. Satu hal penting, saya dan Venda berhasil ‘meluruskan’ rumor yang beredar selama dua hari dipulau yang mungkin dihebuskan oleh resepsionis, dan, kami sendiriJ.

Day 3:
§ Berenang
§ Baca Buku
§ Berenang
§ Tidur siang yang lama
§ Berenang
§ Ocean therapy massage
Sepanjang sore kami habiskan dengan menikmati sunset dari balkon kamar terapung kami. Senja terakhir kami di Maldives.

TSUNAMI 26 DESEMBER 2004
Kekawatiran melihat ketinggian daratan pulau yang hanya 1.5 meter dari ketinggian air laut; membuat saya membaca laporan kerusakan Maldives akibat terjangan Tsunami pada tanggal 26-Desember 2004, semakin mengerikan:
– 13 pulau berhenti beroperasi, 26 pulau tanpa listrik, 53 pulau mengalami kerusakan berat, 88 pulau mengalami erosi/pengikisan, 188 pulau kehilangan kontak selama 11 jam. Dan, malah ada beberapa pulau yang terpisah menjadi dua!
– Angka kematian mencapai 82 jiwa sedangkan 26 orang tidak ditemukan, 1,313 lainnya mengalami cedera luka-luka, 15,000 orang terpaksa mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.
– Ribuan orang mengalami trauma depresi.
Entahlah, seharusnya saya bersyukur luput dari bencana ini, namun saya masih membayangkan sunset dari balkon kamar terapung kami, yang tak akan terlupakan.

“Maldives, a memory that I could keep, Keep forever and comfort me”.

(Published in Femina, Sep 2006: Maldives, Kepulauan Penuh Cinta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s