Basking in Snow (Lake Tahoe, SF)

[Bisa mencoba rasanya jadi ‘narapidana’ dan mencicipi anggur lezat langsung dari tempat pembuatannya, hanyalah sebagian dari banyak daya pikat San Francisco]

Beberapa kali berkunjung ke Amerika Serikat, yang menjadi kota favorit saya, adalah San Francisco, kota bagel dan cappuccino, yang terletak di negara bagian California. Banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi di kota ini dan kawasan sekitarnya, antara lain Union Square, Nob Hill, Lombard Street, Ghirardelli Square, Pier 39, Fisherman’s Wharf, dan tentunya Golden Gate Bridge, Monterey & Carmel, San Jose, sampai Eldorado. Kali ini, di awal musim panas, saya mendatangi tempat tempat menarik di sekitar kota, yang terletak di bagian barat Teluk California itu, yaitu Alcatraz, Napa Valley, dan Lake Tahoe.

‘JADI NARAPIDANA’DI ALCATRAZ

Penjara Alcatraz yang tersohor ini juga menjadi salah satu tempat favorit turis. Melalui internet (www.blueandgoldfleet.com). saya membayar 16,50 dolar AS (sekitar Rp160.000) untuk tiket dari Pier 41 ke Alcatraz pada pukul 14.15. Perjalanan dengan menggunakan feri selama sepuluh menit itu diawali dengan sangat menyenangkan. Saya melihat banyak sekali burung pelikan di sela-sela turunnya embun di sekitar teluk, menuju ke pulau di sebelah barat Teluk San Francisco. Entah apa yang mereka cari di pulau itu. Dari atas feri sudah terlihat pulau terpencil Alcatraz, dikelilingi karang, batu cadas, dan lautan yang suhu airnya mencapai 10 derajat Celsius. Brrr… rasanya saya benar-benar tak berniat mencelupkan kaki di situ.

Pulau yang ditutup pada 21 Maret 1963 karena biaya perawatannya sangat tinggi ini, kini lebih dikenal sebagai salah satu objek wisata. Berawal dari pusat instalasi militer di tahun 1850, Alcatraz kemudian menjadi penjara militer di tahun 1933, yang diperlebar menjadi penjara federal setahun kemudian. Penjara yang beroperasi selama 29 tahun ini (1934-1963) adalah penjara berkeamanan tingkat tinggi di Amerika pada waktu itu. Konon, tempat ini merupakan ‘peIjalanan akhir’ atau pulau pembuangan para kriminal dan mafia kelas kakap, seperti Al Capone, narapidana seumur hidup Robert Franklin Stroud, yang dikenal sebagai ‘the Birdman of Alcatraz’, dan Alvin Karpis, kriminal nomor satu di Amerika dan Kanada.

Memasuki Pulau Alcatraz, saya langsung membayangkan bila saya menjadi penghuni penjara ini. Sesaat saya bergidik. Menuruni tangga feri dengan tangan dan kaki diikat borgol rantai besi berat dan dingin, kaki saya gemetar. Dinginnya udara yang menusuk tulang, disertai pikiran penuh rasa takut akan melewati masa tahanan rata-rata 8 sampai 20 tahun, bersama 260 narapidana lain, seperti perampok, pembunuh, dan penjahat kelas tinggi di tempat menyeramkan ini, membuat saya hampir tidak bisa bernapas.

Bersama ‘narapidana’ lain, kami digiring ke atas bukit dan berhenti di depan pintu gerbang penjara yang sangat tidak nyaman. Kami kemudian disambut petugas penjara dengan senyuman, yang mempersilakan kami memasuki gedung penjara. Di atas pintu gerbang terdapat tulisan yang tidak akan pernah terlupakan: ‘Welcome Home. Welcome to Alcatraz’. Wuiiih! Home?Enggak banget,deh!

Penjara ini memiliki kamar sel sejumlah 336. Setiap kamar sel hanya seluas kira-kira 2 x 2 meter atau seluas bentangan kedua tangan, yang masing-masing bisa menyentuh sisi dinding kiri dan kanan. Dalam setiap sel terdapat tempat cuci tangan kecil dengan air keran dingin, tempat tidur kecil, dan toilet. Sebagian besar sel ini hanya dipakai untuk tidur saja, kecuali narapidana yang statusnya lock-down atau mengharuskan dia terkunci di dalam sel. Sayalangsung berpikir akan pemeran kanibal di film Silence if the Lamb, yang pasti ada di dalam salah satu sel yang terkunci itu.

Kami kemudian mendapat penjelasan tentang tata tertib penjara. Narapidana diharuskan bangun pada pukul 06.30, kemudian membersihkan diri 25 menit, dan pada pukul 6.55 tepat terali sel dibuka. Saat itu, para napi akan berbaris satu per satu menuju gedung pertemuan (messhal0 untuk menikmati sarapan, sebelum memulai aktivitas rutin mereka sehari itu dengan disiplin tinggi dan dalam formasi keamanan sangat ketat.

Pada tahun-tahun awal di Alcatraz, ada peraturan bungkam (rule of silence). Peraturan itu melarang narapidana berbicara satu sama lain. Jika dilanggar, sanksinya sangat berat. Aduh, saya sampai tidak berani bertanya seberat apa sanksinya. Soalnya, karena diberlakukannya peraturan ini, tidak sedikit narapidana yang mengalami gangguan jiwa. Dalam film Escapefrom Alcatraz, yang diperankan oleh Clint Eastwood, diperlihatkan suatu adegan saat seorang terpidana perampok bank terkenal bernama Rufe Persful memo tong jarinya, karena depresi atas aturan bungkam tersebut.

Peraturan-peraturan kaku itu kemudian mencair pada dekade berikutnya. Keseharian narapidana jadi lebih ‘manusiawi’. Mereka boleh me1akukan aktivitas yang menyenangkan, seperti basebaal dan boxing. Lapangan baseball dan seragam bebas pun disediakan.

Di setiap kesempatan, usaha pe1arian dari narapidana tidak pernah berhasil. Sebagian ditembak mati, sebagian tengge1am di Teluk San Francisco, yang air lautnya selain terkenal sangat dingin dan arusnya juga keras. Dari 36 narapidana yang pernah berusaha me1arikan diri, tercatat ada 7 tertembak mati, 2 tenggelam, 5 menyerah, sisanya tertangkap. Pelarian legendaris yang sempat difilmkan, lagi-Iagi dalam Escape from Alcatraz, dilakukan oleh 3 narapidana: Frank Morris, kakak-beradik John dan Clarence Anglin, pada 11 Juni 1962. Namun, ‘keberhasilan’ pelarian ini masih diragukan, karena FBI menemukan potongan kayu dan rakit yang dibuat dengan jaket hujan di Angel Island. Sampai saat ini tidak ada yang tahu apakah pelarian tersebut berhasil ataukah mereka malah tenggelam. Hmm… imajinasi saya menjadi penghuni penjara Alcatraz langsung terhenti sampai di sini. Benar-benar menyeramkan!

Setelah ‘menghirup’ udara bebas dari ‘kurungan’ (tepatnya, kunjungan) penjara Alcatraz, saya ingin melanjutkan hidup dengan menikmati daerah sebelah utara San Francisco, yaitu Napa Valley.

MENIKMATI WINE DI NAPA VALLEY

Napa Valley adalah salah satu pusat winery atau tempat pembuatan wine terbesar di dunia. Luas area ini mencapai 48 kilometer persegi dan memiliki ratusan perkebunan anggur. Ukurannya adalah seperdelapan perkebunan anggur Bordeaux di Prancis.
Cara praktis menikmati wine di sana adalah dengan menumpang kereta minuman anggur (wine train) dari San Francisco selama satu setengah jam. Dengan membayar 169 dolar AS (sekitar Rp165.000) per orang, Anda akan dijamu bermacam minuman anggur, plus makan siang. Anda pun tidak perlu khawatir mengemudi kendaraan sehabis mencicipi wine.

Selain itu, ada cara lain yang lebih berkelas, yaitu dengan menyewa limo selama 8 jam. Anda dan lima teman Anda dapat melakukan wine testing, makan siang, dan tur di tiga perkebunan anggur dengan membayar 874 dolar AS (sekitar Rp8.560.000) per limo!

Dari Berkeley, Sacramento, saya, bersama dua teman lain, memulai perjalanan ke Napa Valley pada puku1 15.30 dan tiba di Napa City satu jam kemudian. Perjalanan ke Napa terasa lama. Soalnya, saya tidak sabar ingin’segera mencicipi kelezatan anggur di sana. Selepas daerah Hercules (20 menit dari Berkeley), tanaman anggur ‘menyambut’ kami di kanan-kiri jalan. Pada setiap kebun anggur yang kami lewati, ada bangunan temp at pencicipan anggur. Anggur tersebut langsung dibuat dari hasil kebun anggur itu. Sebagai penikmat wine, tiga wineries yang telah direkomendasikan teman sudah siap kami datangi.

Lokasi pertama adalah Chimney Rock Winery. Saat kami tiba, acara wine testing sudah dimulai. kami dipersilakan memilih daftar menu wine berisi tiga pilihan. Pilihan pertama terdiri dari 3 macam anggur merah, yang disediakan dalam 3 gelas berbeda. Harganya 10 dolar AS (sekitar Rp98.000).
Pilihan kedua terdiri dari 4 macam anggur seharga 15 dolar AS (sekitar Rp147.000). Pilihan ketiga terdiri dari 5 macam anggur seharga 20 dolar AS (sekitar Rp.196.000). Jenis red wine yang disediakan adalah Cabernet Sauvignon, Fume Blanc, dan Elevage. Anggur jenis Reserved Cabernet Sauvignon yang harganya 10 juta rupiah per botol pun tersedia dalam tiga pilihan. Setelah dihitung-hitung, di sini harganya hanya Rp 196.000! Ha! Kapan lagi saya bisa mencicipi anggur semahal itu, kalau tidak sekarang! Dengan harga tersebut, kami juga bisa membawa pulang suvenir, berupa satu gelas wine yang sudah kami pakai.

Hari itu adalah hari Minggu. Setiap hari Minggu sebagian besar wineries di Napa tutup pada pukul 18.00. Kami pun bergegas melanjutkan perjalanan ke vineyard berikut. Kali ini kami ingin mencoba anggur putih jenis sparkling wine atau champagne. Vineyard kedua yang kami pilih adalah Domaine Chandon, di Yountville. Tempat ini terkenal sebagai premium sparkling wine sejak tahun 1973. Di Chandon, kami mencoba Pinot Noir dan Chardonnay. Seperti di Chimney Rock Winery, beberapa minuman anggur dibagi dalam beberapa pilihan. Bedanya, di Chandon disediakan pula semacam paket yang termasuk makanan ringan. kami pun memilih paket seharga 40 dolar AS (sekitar Rp392.000), yang mencakup sebotol white wine Pinot Meunier, Caeneros, dan daging panggang pedas dengan keju dan roti. Nikmatnya…! Setelah Chandon, kami menuju Zinfandel Lane untuk membeli minuman anggur putih Zinfandel dari California yang terkenal.

Minuman itu kami beli sebagai bekal esok hari untuk dibawa ke daerah yang lokasinya lebih utara lagi dari Napa Valley, yaitu Lake Tahoe, tempat yang dikenal karena kehangatan sinar mataharinya berlangsung selama lebih dari 300 hari setiap tahunnya.

BERJEMUR DI SALJU

Saat mendengar rencana saya ke wilayah Lake Tahoe di bulan Juni, teman saya bertanya: untuk apa? Karena, biasanya, kunjungan ke Lake Tahoe dilakukan saat musim dingin, karena itu adalah tempat yang tepat untuk bermain ski. Saya berkilah, karena tidak bisa bermain ski, mengapa saya tidak berkunjung ke Lake Tahoe pada musim panas saja?

Danau Tahoe, yang terdapat di wilayah Lake Tahoe, adalah danau pegunungan (alpine lake) terbesar di bagian utara kontinental Amerika. Tidak heran bila Lake Tahoe disebut sebagai ‘rumah’ pemain ski tingkat dunia.
Terdapat dua bagian kawasan di Lake Tahoe, yaitu South Tahoe dan North Tahoe. Karena terletak di perbatasan antara California dan Nevada, Lake Tahoe Stateline (perbatasan Tahoe bagian selatan) merniliki peraturan yang agak ‘ajaib’ dan berbeda dari wilayah lain.

Bagian yang di California melarang keras perjudian dan merokok dalam ruangan, sedangkan di bagian Nevada pengunjung bebas merokok di mana saja dan bisa keluar-masuk kasino. Padahal, stateline itu hanya dipisahkan oleh perempatan lampu merah!
Kegiatan di Lake Tahoe pada musim panas cukup bervariasi, mulai dari golf, balloon riding, memancing, rafting, hiking, ski air, dan berjemur di ‘pantai’. lni bukan pantai sebenarnya, tepatnya di tepi Danau Tahoe.

Pasir putih bersih dan pohon-pohon pinus yang mengelilingi danau membuat tempat ini tampak sangat cantik. Terlihat banyak anak muda yang bermain voli pantai atau sekadar duduk-dud uk di speedboat yang diparkir di tepi danau. Mereka tampaknya menikmati curahan sinar matahari. Karena Lake Tahoe dikenal sebagai tempat bermain ski salju, kami memutuskan ke lokasi permainan ski, yang terletak di ketinggian Pegunungan Epic.

Dengan membayar 24 dolar AS (sekitar Rp235.000) per orang, kami menaiki Heavenly Gondola selama 12 menit. Dari atas gondola kami menikmati pemandangan Carson Valley dan keseluruhan Danau Tahoe dari ketinggian 9.123 kaki atau 20 kali ketinggian Monas! Kami dapat melihat pemandangan cukup kontras, yaitu pohon-pohon pinus kering dengan latar belakang pegunungan bersalju. Saat musim panas, seperti ketika saya berada di sana, saya masih bisa melihat sisa salju bulan April di beberapa tempat. Saya juga dapat menyentuh salju yang masih lumayan dingin di bawah terik matahari di bulan Juni, tanpa harus memakai pakaian berat dan bersusun, seperti saat musim dingin. Bahkan, saya bisa berjemur di at as salju, seperti berjemur di pantai. Hasilnya? Kulit juga makin gelap.

Kegiatan terakhir yang kami lakukan di Lake Tahoe adalah mengelilingi keseluruhan danau, dengan panjang 35 km dan lebar 19 km. Masih kalah dibandingkan Danau Toba, yang panjangnya 100 km dan lebarnya 30 km. Perjalanan dari bagian selatan ke bagian utara, selama kurang lebih dua jam berkendara, kami benar-benar menikmati pemandangan yang asri.

Kembali ke pusat kota San Francisco, ditempuh selama 4 jam dari Lake Tahoe, saya menghabiskan hari terakhir dengan menonton Gay Pride Parade. Parade yang diadakan setahun sekali ini berlangsung di sepanjang jalan utama, seperti Market Street and Civic Center. Terlihat pasangan sejenis, baik pria maupun wanita, merayakan hari tanpa diskriminasi.
Parade menarik ini menampilkan hampir semua lapisan masyarakat pelindung komunitas gay. Kostum dan atraksi ditampilkan meriah dengan musik dan tarian jalanan. Para wisatawan asing yang bertebaran di jalan, tak henti-hentinya membidikkan kamera, seolah tidak ingin melewatkan suguhan parade yang termasuk langka ini. Begitu juga saya.

***

(Published in Femina, Feb 2007: I Left My Heart in San Francisco)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s