LIBURING.COM

TRAVEL | SNAP | WRITE

Giza Pyramid by NEZDN

Republik Arab Mesir atau Egypt boleh jadi merupakan salah satu negara yang termasuk dalam must-visit-list kebanyakan orang yang menyukai traveling. Namun, berwisata ke Mesir di bulan Ramadan mungkin belum menjadi pilihan banyak orang. Padahal, berlibur ke Mesir saat Ramadan akan lebih terasa keaslian dan keunikannya yang membuat pengalaman liburan semakin menarik. Suatu perjalanan berkesan bagi saya dan kakak saya, merasakan bagaimana suasana bulan suci ini saat kami mengunjungi Mesir.

Ramadan adalah bulan istimewa bagi seluruh umat Muslim di seluruh dunia, begitu pun di Mesir. Negara berpenduduk lebih dari 74 juta jiwa dan 95% beragama Islam ini dikenal sebagai pusatnya dunia Arab. Ritual keagamaan yang dikenal sebagai “Sunnah” yakni amanah Nabi Muhammad yang mendapatkan inspirasi dari Quran mengharuskan orang-orang Mesir Islam berpuasa makan, minum, merokok dan sinning. Puasa dilakukan mulai subuh (Sohour) sampai matahari terbenam (Iftar) yang berlangsung selama 29 atau 30 hari berdasarkan kalender Islam Hijri.

TRADISI RAMADAN KHAS MESIR

Di Kairo, ibukota Mesir, Ramadan disambut dengan sukacita. Jauh sebelum diumumkannya bulan Ramadhan, semua orang menghiasi rumah nya dan jalan-jalan dengan dekorasi tradisional yang dikenal dengan Ramadan Lanterns atau Fanoos. Fanoos atau lentera aslinya terbuat dari tembaga dan kuningan yang menurut cerita tradisi berawal sejak jaman Khalifah Al-Hakim Bi Amr-Illah; di masa itu perempuan Mesir tidak diperbolehkan meninggalkan rumah kecuali selama Ramadan, itupun harus dituntun oleh seorang anak lelaki yang membawa lentera. Lentera ini digunakan sebagai alat untuk ‘mengumumkan’ kedatangan seorang perempuan agar para pria menjauh dari jalan yang akan di lewati perempuan tersebut. Hingga sekarang, Fanoos dipakai sebagai tradisi dekorasi bulan Ramadan. Hampir semua toko-toko di Mesir menjual Faroon walaupun lentera yang sekarang dibuat dari plastik atau kaleng timah dengan peralatan elektronik baterei dan lampu, sebagai pengganti lilin serta dilengkapi radio kecil yang dapat memutar musik pop. The new-fanoos ini sangat digemari anak-anak dan seakan wajib dimiliki oleh anak-anak Mesir.

Selama bulan Ramadan jam kerja di Mesir menjadi lebih pendek. Biasanya kantor tutup sampai jam 2 siang. Orang Mesir kebanyakan menghabiskan waktu di mesjid atau di rumah dengan berdoa. Lazim terlihat banyak orang Mesir duduk-duduk sambil membaca Quran dengan beberapa kerabat. Selain itu, mereka berkumpul dengan keluarga untuk menikmati satu lagi tradisi lokal yaitu pemutaran TV serials yang menyajikan program televisi terbaik dan film terbaru yang hanya ditayangkan di bulan Ramadan selama 24 jam penuh.

Saat malam tiba, jalan-jalan di Kairo berubah menjadi begitu ramai dengan perayaan seni dan festival budaya. Seperti di Jalan Bahdad, kendaraan tidak diperbolehkan masuk. Terihat Fanoos tergantung indah di sepanjang jalan dan sudut-sudut kota. Bisa dibilang kegiatan di malam hari lebih padat dan ramai dibanding pada siang hari. Di Mesir, hal yang menarik adalah selama bulan Ramadan, kafe dan bar tetap buka. Menurut tour-guide kami, ini wajar karena Kairo kota modern dimana banyak wisatawan berkunjung, sehingga tempat-tempat untuk bersantai seperti kafe dan bar tetap di buka untuk turis, hanya saja jam operasi di batasi dan minuman alkohol tidak dijual selama bulan Ramadan. Banyak Kafe yang membangun tenda-tenda besar di luar pinggiran jalan, dengan menyediakan meja-meja penuh makanan untuk berbuka puasa bersama kaum miskin ataupun turis. Kami bersama beberapa wisatawan lainnya juga sempat ‘berbuka puasa’ gratis di salah satu restoran milik orang Mesir! Konsep dari bulan Ramadan di Mesir adalah tidak ada yang kelaparan dan makan sendiri di bulan Ramadan, inilah saat dimana semua orang Mesir berbagi rejeki kepada mereka yang membutuhkan. Ada ucapan yang sering terdengar selama bulan Ramadan, yaitu “Ramadan Karim” yang artinya “bulan di mana berkat melimpah.” Ucapan ini seperti dibuktikan dengan beragam perayaan dimana-dimana. Sepertinya semua orang mengekspersikan kebahagiaan akan datangnya bulan suci ini dengan menghabiskan kemampuan keuangan mereka untuk merayakan persiapan bulan Ramadan. Saat berbuka puasa pada malam pertama Ramadan, semua jenis makanan tersedia di meja, lengkap dengan makanan tradisional yang terkenal di Mesir. Kami mencicipi Konafa atau Qatayef yang menjadi ciri khas asupan di Mesir dan hanya disajikan selama bulan Ramadan. Konafa adalah semacam kue terbuat dari gandum dicampur madu, kismis dan berbagai jenis kacang-kacangan. Sedangkan untuk minuman yang paling terkenal adalah ‘amarel-din’- merupakan minuman khas Mesir yang dibuat dari buah kering aprikot, sangat baik untuk dehidrasi juga mengatur metabolisme tubuh saat berpuasa.

Eid ul Fitr atau Hari Raya Idul Fitri
Ramadan berakhir dengan pesta bernama Bairam – yaitu pesta besar selama tiga hari. Pesta ini dianggap sebagai pahala bagi umat Islam yang berjuang melalui Ramadan sebulan penuh dengan sukses. Hari raya di Mesir yang berlangsung selama tiga hari itu dimulai dengan semua anggota keluarga berkumpul bersama untuk merayakan Idul Fitri. Menurut tradisi, Muslim dewasa memberikan sejumlah uang kepada anak-anak dan anggota keluarga yang tidak bekerja. Semua Muslim juga diharuskan untuk membayar pajak khusus atau zakat. Perayaan di awali dengan pergi ke masjid untuk melakukan doa khusus yang di lakukan di mesjid. Di mesjid El-Hussein yang terletak di Hussein-Square sudah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang ber-I’tikaf sampai ke halaman depan mesjid sehingga sangat sulit untuk berjalan. Mesjid ini merupakan salah satu dari beberapa masjid kuno di kota Kairo dengan desain gaya Ghotic sangat menonjol yang juga menjadi situs keagamaan yang terkenal dari umat Islam di seluruh dunia. Sayangnya, kami tidak diperbolehkan masuk ke dalam mesjid karena mesjid ini hanya diperuntukan bagi kaum muslim saja. Setelah berdoa dan berbagi zakat di mesjid, tradisi dilanjutkan dengan kunjungan keluarga dengan membawa manisan Kahk yang dibuat khusus untuk Hari Raya. Setelah itu barulah kebanyakan orang Mesir di Kairo menghabiskan waktu sorenya dengan wisata di sungai Nile, sungai terpanjang di dunia yang membelah kota Kairo, dan Sharm El Sheikh sebagai tempat favorit untuk merayakan Hari Raya. Ini adalah hal menarik yang berbeda di Mesir. Di Indonesia, perayaan hari raya dengan cara bersilaturahmi dari rumah ke rumah, sedangkan di Mesir, mereka mengajak seluruh keluarga untuk ke taman atau kebun binatang dengan membawa bekal untuk makan keluarga, atau dengan merayakannya di tempat-tempat wisata.

Pada malam Hari Raya, kembali kota Kairo melimpah dengan gemerlap lampu dan firecrackers. Di setiap kafe banyak orang Mesir berkumpul dengan kerabat mereka sambil menikmati Hookah atau Sisha ditemani Qahwa, kopi lokal Mesir. Gaya hidup Sisha dan Qahwa menjadi simbol status bagi golongan sosial atas di Mesir. Festival seni budayapun di gelar dimana-mana, salah satunya adalah festival jalanan Heliopolis. Pada perayaan tahunan Heliopolis jalanan ini penuh dengan kerumunan orang. Festival ini menampilkan pagelaran musik dan tarian tradisional Mesir. Para penari menggunakan pakaian adat Mesir turun dari panggung dan mengajak penonton menari bersama. Ada juga festival Internasional Jazz Drummer dan Rabba atau instrumen suara seperti gitar. Sangat meriah!

TEMPAT WISATA YANG WAJIB DIKUNJUNGI

Sound & Light Show di The Great Pyramid
Bagian dari perjalanan wisata di Mesir kami juga mengunjungi The Great Pyramid of Giza yang menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia ini adalah piramida terbesar di dunia. Banyak ahli yang berpendapat bahwa piramida ini dibangun dengan 5,6 juta ton batu oleh 100.000 orang selama 20 tahun di jaman Firauan Kufu. Tinggi orisinal piramida ini adalah 146,6 meter namun karena erosi hanya menyisakan setinggi 138,8m (hampir setinggi dengan Tugu Monas) dengan ukuran setiap sisinya sebesar 230,5 meter. Di dalam Great Pyramid ini terdapat beberapa chamber yang dipercaya sebagai makam untuk keempat istri dinasti Raja Khufu. Piramida-piramida yang telah bertahan selama berabad-abad sebagai simbol budaya Mesir ini dikelililingi oleh lautan pasir seperti yang terlihat di film Transformers: Revenge of the Fallen dibintangi Shia LaBeouf and Megan Fox. Di Mesir ada total 118 Piramid dan di Kairo terdapat 9 piramida yang dijaga oleh dua Sphinx. Sphinx atau patung batu berbentuk singa betina dengan kepala manusia dulunya dipercaya sebagai penjaga harta karun kerajaan firaun yang terdapat di dalam piramida, namun bagi orang Mesir modern cerita itu hanyalah legenda belaka. Biasanya, di bulan Ramadan ada pertunjukan Sound & Light di piramida Giza yang berlangsung selama dua bulan. Pertunjukan yang dimulai dari jam 6.30 sampai 8.30 malam ini berlangsung selama kurang lebih 45 menit setiap 2 sampai 3 kali pertunjukan. Dengan menggunakan sinar laser dan cahaya yang di proyeksikan ke gurun pasir, dinding-dinding piramida dan Sphinx disertai soundtrack musik tradisional Mesir menjadikan malam hari menjadi sangat dramatis!

Proses Pembuatan Mumi di Egyptian Museum
Musium Mesir di Kairo adalah tempat yang paling lengkap berisi potongan sejarah penting dan koleksi antik Mesir kuno di dunia. Terdiri dari dua lantai yang memamerkan 120.000 items termasuk kuburan Raja Tutankham yang didalamnya terdapat banyak koleksi harta raja seperti barang seni, koper, gading, gelang, kalung, dan perhiasan emas lainnya. Di lantai dua terdapat Museum’s Royal Mummy Room. Saat ini ada sekitar 9 mummies, salah satunya adalah mumi Firaun Ramses III, yang merupakan pahlawan legenda Mesir. Disini dijelaskan pula proses pembuatan mumi atau mummification. Awalnya, seluruh organ tubuh di keluarkan melalui sayatan di sebelah kiri badan, isi otak disedot menggunakan semacam pipa yang di tusukan di batok kepala, sedangkan isi lainnya dibuang melalui anal. Kecuali jantung, yang dianggap pusat pribadi dan kehidupan calon mumi tersebut tidak di buang. Kemudian, tubuh dicuci dan di sirami tuak dan garam, selanjutnya dibaluri wax atau lilin dan dibiarkan selama tujuh puluh hari. Setelah tubuh sepenuhnya kering, dibaluri berbagai minyak seperti minyak zaitun dan diberi daun khusus untuk mencegah serangan serangga. Tahap akhir adalah dengan membalsem tubuh mumi dan dibungkus dengan kain kafan linen untuk ‘menjaga’ almarhum dari kejahatan dan bahaya sebelum di pindahkan ke dalam peti mati. Selama Ramadan, musium dibuka pada jam 8 pagi dan tutup jam 3 sore.

Mendaki di Gunung Sinai
Pegunungan Sinai bagian selatan adalah bagian Arab-Nubian yang terdapat di perbatasan Mesir dan Israel dengan melewati Red Sea (laut yang terkenal untuk diving). Pegunungan batu yang berasal dari magma yang mencair di bawah bumi membuat lembah bebatuan volkanik berwarna merah granit ini sangat indah dan sayang untuk di lewati selama berada di Mesir. Tinggi gunung yang sering didaki oleh para turis mencapai 2285m (hampir setinggi Gunung Bromo; 2329m), ini membutuhkan tiga jam pendakian. Sebaiknya pendakian dilakukan pada malam hari untuk menghindari udara yang sangat panas di tengah gurun pasir. Biasanya, pendakian di mulai tengah malam dengan menggunakan Camel atau Onta yang di tawarkan oleh suku Bedouin dengan membayar US$20 sekali jalan anda bisa menikmati pendakian santai di bawah langit yang bertaburan bintang malam. Kemudian, pendakian di lanjutkan dari kaki gunung ke puncaknya dengan berjalan kaki selama satu jam, ada cukup waktu menunggu kira-kira satu jam di puncak gunung untuk menikmati reward pendakian yaitu sunrise yang perlahan mengintip dari lembah batu gunung Sinai. Spektakuler!

SHOPPING

Mesir adalah surga berbelanja untuk barang-barang unik apalagi di bulan Ramadan dan Hari Raya, banyak diskon di mana-mana, inilah waktu yang tepat untuk berbelanja!

Kairo menyediakan berbagai bazaar dan toko-toko yang menjual segala macam barang mulai dari barang antik, bahan untuk pakaian halus dan perhiasan. Namun, ada dua cinderamata khas Mesir yang harus anda beli disini. Yang pertama adalah Papyrus. Papyrus merupakan buatan tangan yang sudah ada sejak ribuan tahun di Mesir kuno yang dipakai sebagai kertas. Terbuat dari alang-alang papirus yang tumbuh di air tawar di sepanjang sungai Nil. Serat papirus dikupas tipis menjadi serat, dibasahi air dan di tempelkan menyilang dengan serat yang lain, tumpang tindih yang akhirnya menjadi satu lembaran. Selanjutnya lembar mentah tersebut di pukul dengan martir agak seratnya saling menyatu kemudian di tindih dengan sebuah alat pemberat dan dibiarkan kering selama satu minggu sampai enam bulan, sampai jadilah kertas papirus. Saat ini kertas papirus sering di pakai sebagai dasar lukisan. Namun, harus hati-hati dalam membeli papirus karena banyak kertas papirus palsu yang dijual. Papyrus asli agak sedikit berat, sulit di robek, bila di gulung lama dan kemudian di lepas cenderung kembali ke bentuk awal dan semakin gelap warna papirus semakin bagus kualitasnya. Untuk lukisan Queen of Cleopatra diatas kertas papirus berukuran 30x40cm dapat dibeli seharga US$10.

Selain Papyrus, cinderamata khas Mesir adalah Egyptian perfume oil dengan botol parfum terbuat dari kristal dan kaca yang di lukis cantik berwarna menarik. Minyak parfum atau sari murni parfum ini beragam macam dan kegunaannya. Minyak wewangian ini dapat digunakan sebagai bath-oil untuk berendam, mengharumkan ruangan dan mobil, pijat aromaterapi, body-lotion dan tentunya sebagai parfum yang bisa tahan berjam-jam. Di salah satu toko di Kairo bernama SIWA International Aromatheraphy Institute telah disediakan daftar jenis prefume oil yang dijual. Lebih dari 50 nama minyak parfum yang ditawarkan, mulai dari Lotus Flower oil untuk menghilangkan stress, Orange Blossom oil untuk sakit kepala, Sandal Wood oil untuk merelaksasi otot yang kaku, Sweet Almond oil untuk perawatan rambut dan minyak yang sangat terkenal yaitu Narwastu oil yang sangat bagus untuk kelembutan kulit. Selain itu ada sari parfum yang sering di ekspor ke Eropa sebagai bahan pembuatan parfum-parfum kelas atas, seperti Queen Hatchibsut oil untuk parfum Dior, Five Secret oil untuk Chanel, Papyrus Flower oil untuk Lancome, Omar El Sharef oil untuk Armani dan lain-lain. Sebotol minyak pilihan sebesar 50ml dapat dibeli seharga US$50 yang bisa dipakai selama setahun!

***

[Published in Femina, Sep 2009: Kesyahduan Ramadan di Mesir]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,122 other followers